Tampilkan postingan dengan label Egypt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Egypt. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2015

"Selebrasi dan Opening New Suez Canal, Egypt's Gift to the World"


Suez Canal adalah saluran yang menghubungkan laut mediteranian dan laut merah. Dibangun lebih kurang selama 10 tahun 1859 M s/d 1869 M, pada masa Muhammad Sa'id Pasha (Anak ke 4 Muhammad Ali Pasha, Wali Mesir dan Sudan di bawah kekaisaran Ottoman).

Suez Canal merupakan salah satu penyumbang pendapatan Nasional Mesir yang terbesar, sekitar 10-15% dari total GDP. Bahkan diasumsikan oleh Hussein Sabbour (Konsultan Arsitektur ternama di Mesir) dalam 25 tahun ke depan, Suez Canal mampu memberikan kontribusi pendapatan sebesar 25% dari total GDP Mesir.

Hari ini rakyat Mesir di bawah pemerintahan presiden Abdel Fatah el Sisi merayakan pembukaan New Suez Canal / kanal Suez Baru. Mega proyek ini dibangun dan diselesaikan dalam waktu 1 tahun (5 August 2014 s/d 6 August 2015), melibatkan 73 perusahaan nasional, 6 perusahaan besar internasional, 4.100 peralatan teknik dan 18.100 pekerja. Proyek New Suez Canal menghabiskan biaya dan pendanaan sekitar $ 8.4 miliar Dollar Amerika.

Dengan adanya New Suez Canal, diharapkan & diperkirakan dapat memulihkan & mendorong pertumbuhan ekonomi Mesir serta dapat meningkatkan standar hidup rakyat Mesir, tapi itu tergantung kebijakan pendistribusian kekayaan oleh pemerintah.
‫#‏مصر_علي_البركة‬

Senin, 16 April 2012

Hukum perayaan hari Sham el-Nassim


Sham el-Nassim merupakan hari libur resmi Mesir. Sham el-Nassim, selain merupakan hari raya agama kristen koptik, ia juga merupakan hari untuk merayakan pergantian musim dingin ke musim semi. Dan ada yang mengatakan hari tersebut sebagai adat dari orang terdahulu.
Pada hari ini, rakyat Mesir, baik koptik dan muslim biasanya merayakan dengan mengunjungi taman-taman umum, saling berkunjung ke rumah sanak saudara, menjalin silaturahim lebih erat dll. Mereka berkumpul bersama keluarga atau para teman, saling bercerita, makan bersama, saling melepas bahagia canda dan tawa dll. Bagi orang koptik, mereka merayakan sham el-nassim sebagai hari raya mereka sekaligus merayakan pergantian musim. Sedangkan kaum muslim merayakannya hanya sebagai hari pergantian musim dan hari libur resmi negara.

Lantas, bagaimana hukum Islam untuk seorang muslim yg merayakan hari raya sham el-nassim tersebut? Ikut merayakannya dengan pergi ke taman2 umum, makan dan minum bersama orang koptik? saling memberi hadiah dll?
Jawab: hal tersebut merupakan suatu hal yang dibolehkan dalam Islam, tidak ada dalil yang melarangnya, dengan syarat:
1. meniatkan merayakannya hanya sebagai hari pergantian musim dan hari libur resmi negara, atau menjadikan hari sham el-nassim sebagai adat semata, bukan sebagai ibadah.
2. tidak melakukan perbuatan yg diharamkan dalam Islam. Seperti mengkonsumsi makanan dan minuman yg diharamkan, sprti daging babi dan khamr dll.
Wallahu a'lam.
Dalil: اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم-

في " المسند " والترمذي عن عبد الله بن عمرو بن العاص أنه ذبح شاة ، فقال : هل أهديتم منها لجارنا اليهودي ثلاث مرات ، ثم قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ما زال جبريل يوصيني بالجار ظننت أنه سيورثه "

Rabu, 04 April 2012

Unik! Tengah Malam Orang Mesir Kampanye Capres




Kairo, Menjelang pemilihan presiden Mesir bulan Mei mendatang,  para calon presiden sudah memulai kampanye massif  untuk memperkenalkan jati diri. Beberapa selebaran pamphlet serta gambar calon diusung sudah mulai memadati berbagai jalan di Mesir, bahkan hingga memasuki lembaga pendidikan atau universitas. Begitu juga wajah-wajah capres tersebut telah menghiasi  layar kaca hingga di situs jejaring sosial.  

Berbeda dengan di Indonesia atau mungkin di sebagian besar Negara dunia, kampanye di Mesir tergolong unik dan rada aneh. Kalau di Indonesia, orang-orang berkampanye biasanya pada pagi hingga siang hari. Tidak demikian di Mesir, orang-orang berkampanye  di malam hari bahkan di tengah malam.

Selepas siaran langsung pertandingan perempat final champions antara Barcelona dengan Milan, sekitar pukul  11.40 malam waktu Kairo (3/4/12), para syabab atau pemuda Mesir berkampanye di bilangan wilayah Nasr City. Kampanye tersebut mengusung Hazim Abu Ismail sebagai presiden Mesir. Dengan yel-yel “as-Sya’b,,, yurid,,,Hazim Raisan!” (baca:rakyat ingin Hazim jadi Presiden), para pendukung Hazim mengelilingi distrik 6, Nasr City, Kairo.

Sempat terjadi bentrok ringan dalam aksi kampanye tengah malam ini antara para pengkampanye dengan polisi kemanan sekitar, mengingat  belum ada undang-undang yang mengatur jadwal kampanye. Namun,  akhirnya polisi kemanan Mesir berhasil menertibkan dan membubarkan massa.

Kamis, 23 Februari 2012

Turba DP, DNM dan BPRG KMM Mesir ke Zagazig


Cairo-Samanut-Zagazig, 20 Februari 2012

Mengawali proyek kegiatan KMM Mesir di term II, DP bersama DNM (Dewan Niniak Mamak) dan  BPRG (Badan Pengelola umah Gadang) KMM Mesir melakukan kunjungan silaturahim ke beberapa daerah di Mesir tempat warga KMM menetap, Samanut dan Zagazig. Kunjungan ini adalah salah satu program kerja DP KMM di term II sejak pembukaan kegiatan KMM rabu lalu (15/02/12) yang menghadirkan Bapak Dubes RI Mesir, Drs Nurfaizi, MM serta Bapak Atase Pendidikan KBRI Cairo, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. Beberapa kegiatan DP KMM di term ini sudah terlaksana diantaranya adalah “Temus Cup” yang dijuarai oleh Mantiqah Bawwabah, Madrasah dan Saqar. Sedangkan yang sedang berlangsung sampai sekarang adalah “Pelatihan Mawarits”.
Tepat jam 10.20, senin pagi (20/02/12) rombongan bertolak dari tajammu’ awal menuju Samanut. Beberapa nama yang ikut dalam rombongan diantaranya: Ust. Lasri Nijal, Ust. Riki Saputra Ust. Afdhal Syukri dan Ust. Rakhmat Alam untuk perwakilan DP. Kemudian Ust. Jasriwaldi, Ust. Joni Ferdi dan  Ust.Fakhru Ridho untuk perwakilan BPRG. Selanjutnya, Ust. Zulfi Akmal MA untuk perwakilan DNM dan Ust. Edo bertindak sebagai pengemudi. Dengan mobil mungil Toyota Avanza, rombongan dari DP, DNM dan BPRG KMM yang berjumlah 9 orang harus berlapang hati dengan bersempit kursi selama perjalanan. Perjalanan dari Cairo-Samanut kurang lebih memakan waktu 3 setengah jam. Sesampai di Samanut, rombongan dari Cairo disambut oleh tuan rumah Ust. Agil dan Ust. Riko Abdullah Lc, yang kemudian melaksanakan sholat zuhur berjama’ah di Mesjid dekat kediaman rumah Ust. Riko Abdullah.
 Setelah melaksanakan shalat zuhur dan menjama’nya dengan ashar, rombongan menuju rumah Ust. Riko. Silaturahim antara DP KMM di Cairo dengan dun sanak KMM di Samanut berlangsung harmonis, tidak terlalu formal dan penuh kecintaan akan tali persaudaraan. Rombongan yang sedari pagi menahan lapar dan haus dahaga, disuguhi aneka macam makanan buah tangan dari Ummu Muslim. Pertemuan diawali dengan maota lamak dibarengi santap hidangan pembuka. Selanjutnya, masuk ke acara inti yaitu sambutan dari tuan rumah dan beberapa patah kata dari DP, BPRG dan DNM yang diprotokoli oleh Uts. Ridho. Sambutan tuan rumah disampaikan oleh Ust. Riko dengan bahasa arab. Kefasihan bahasa arab, intonasi dan pengucapan beliau cukup memberi rasa kagum pada kami dari rombongan Cairo, karena beliau memang cukup terkenal dan sering memberikan khutbah jum’at bagi warga Mesir, sebuah prestasi yang tidak biasa bagi mahasiswa asing. Isi sambutan beliau adalah hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan Abu Hurairah tentang keutamaan silaturahim dan mengunjungi sahabat dan kerabat karena Allah, bukan karena maksud lain. Matan hadits itu menjelaskan bahwa Allah mengirim malaikat pada sesorang yang sedang dalam perjalanan untuk menziarahi saudaranya, dan Allah pun mencintai seseorang yang mencintai saudaranya karena -Nya.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh ketua KMM, Ust. Lasri Nijal. Beliau menyampaikan sepatah kata dan situasi Kairo terkini serta beberapa program KMM term II. “Ternyata jarak Cairo ke daerah cukup jauh, dan kami yang tinggal di Kairo harus memaklumi jika kawan-kawan di daerah tidak bisa menghadiri acara di Kairo, karena harus mengorbankan waktu, tenaga, dan uang”, ujar Nijal.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh direktur BPRG, Ust. Jasriwaldi. Beliau menjelaskan bagaimana kondisi rumah gadang. Jasri menuturkan bahwa “rumah gadang adalah rumah kita bersama, jika ada kawan dari daerah datang ke Cairo, bisa mampir dan bermalam agak barang sehari dua hari atau lebih di rumah gadang”. Terakhir sambutan disampaikan oleh Ust. Zulfi Akmal. Beliau mengatakan bahwa ziarah ini bukan hanya kunjungan seremonial belaka, tapi kunjungungan ini merupakan sarana tukar pendapat dan juga menambah ilmu. Setelah acara inti selesai, acara paling inti pun dimulai, yaitu makan basamo dengan menu rendang spesial. Usai makan, rombongan Kairo berpamitan untuk pergi menuju Zagazig.

Insiden di tengah perjalanan menuju Zagazig
Hidup tak selamanya indah, begitu juga jalan tak selamanya mulus, dan itu yang menimpa pada perjalanan rombongan menuju Zagazig. Di tengah perjalanan, terjadi tabrak lari. Sebuah truk besar menabrak pengendara sepeda motor dan menyeretnya hingga tewas mengenaskan. Tidak tahu siapa yang sebenarnya salah, si penabrak langsung dibawa lari dengan tramco oleh orang tak di kenal, dengan tujuan menyelamatkannya dari amukan warga sekitar dan karib kerabat korban. Rombongan terjebak di TKP selama beberapa jam akibat ban yang dibakar dan diletakkan di tengah jalan. Kemacetan jalan akhirnya kembali normal, ketika truk besar yang menabrak korban dibakar oleh oknum tak bertanggung jawab yang memberikan nyala api begitu besar.  Iklim dingin berubah menjadi hangat dan panas, rombongan dengan ligat menjauh dari TKP dan secepatnya menuju Zagazig agar tak terlambat dan kemalaman.
Setiba di Zagazig, rombongan disambut salah seorang warga KMM, Ust. Kasmon. Selanjutnya rombongan mengunjungi rumah Ust. Lingga yang istrinya baru melahirkan beberapa hari lalu. Anak beliau bernama Yahya. “Insya Allah akan dibari nama Yahya el Fakhri”, terang Lingga. Setelah itu, rombongan menuju kediaman Ust. Kasmon yang berjarak tidak jauh dari kediaman Ust. Lingga.
Di kediaman Ust. Kasmon beserta kawan-kawan lainnya, sempat diadakan pelatihan Ruqyah, menyingkap rahasia ruqyah dan alam ghaib berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah yang langsung dipaparkan oleh pakarnya Ust. Zulfi Akmal. Banyak hal-hal baru yang selama ini belum diketahui sekarang diketahui. Para pendengar sangat antusias dan menikmati serta meresapi ceramah dari Ust. Zulfi. Usai pelatihan ruqyah, seluruh rombongan dan warga Zagazig yang hadir dalam acara makan bersama dengan menu yang tidak jauh beda dari menu di Samanut, yaitu rendang. Kali ini rendangnya adalah buah tangan Ust. Doni Lc, pakar masak-memasak KMM.
Hari sudah larut malam, seluruh rangkaian acara sudah dilaksanakan, selanjutnya para rombongan kembali pulang menuju Kairo. Sebelum pulang, rombongan diberikan hadiah buku oleh Ust. Kasmon yang berjudul “adwaus sunnah”. Dan, sekitar jam 12 lewat, rombongan sampai di tajammu’ awal dengan selamat. -The End-






Rabu, 26 Oktober 2011

Peran Sarjana Azhar bagi Dunia Islam




Oleh : Muhammad Rakhmat Alam
Perjalanan al-Azhar dalam bentang sejarah sangat menarik untuk ditelusuri. Sejak dibangun pertama kali pada 29 jumada Al Ula 359 H. (970 M.)  oleh panglima Jauhar Ash shiqilli, kemudian dibuka resmi pada 7 Ramadhan 361 H , institusi besar yang mulanya sebuah Masjid ini bagai tak pernah lelah membidani kelahiran para ulama dan cendekiawan Muslim. Sampai detik ini, al-Azhar merupakan pusat sumber referensi orisinal Islam yang terus diminati para penuntut ilmu dari seluruh penjuru dunia. Dari institusi inilah muncul sarjana-sarjana muslim yang bertakwa, berilmu, dan menyebarkan dakwah Islam dengan ilmu, cara yang benar dan penuh hikmah.

Cita-cita al-Azhar

Sebelum membicarakan peran sarjana al-Azhar, hal fundamental pertama yang wajib diketahui seluruh penuntut ilmu atau mahasiswa yang sedang bergelut dengan ilmu di al-Azhar adalah apakah tujuan didirikannya universitas al-Azhar itu sendiri. Syekh Sayyid Usamah al-Azhari dalam acara talk show di Rumah Gadang (sekretariat KMM Mesir) mengatakan, bahwa al-Azhar berdiri untuk mencetak seorang u‘bad (yang taat beribadah), ulama’ (yang berilmu), dan da’I (yang berdakwah di jalan Allah). Cita-cita al-Azhar adalah perpanjangan tangan dari cita-cita Nabi Muhammad SAW dan para ulama salaf as-Shalih. Itulah tiga cita-cita Azhar yang sekaligus menjadi karakter ideal mahasiswa dan sarjana Azhar. Itulah cita-cita Azhar yang harus kita hujamkan dalam hati kita bahwa kedatangan kita ke sana adalah untuk mewujudkan cita-cita Azhar tersebut. Tidak hanya cukup ilmu di kepala atau ketaatan pribadi, tapi lebih dari itu, andil dalam menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin ke tengah-tengah masyarakat. Dari cita-cita mulia inilah tiap abad selalu lahir para ulama-ulama rabbani yang terus menyebarkan Islam, mengibarkan bendera Islam ke seluruh dunia dengan hati yang ikhlas mengharap ridha Allah SWT. Ulama-ulama yang lahir dari rahim Azhar terus mewarnai dunia dan memberikan peranan serta menjadi poros penting bagi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam hingga saat  ini.

Peran Azhar dan Sarjana Azhar terhadap Islam
Berbicara peran sarjana Azhar berarti berbicara peran Azhar. Azhar besar karena sarjana Azhar, sarjana Azhar tercipta karena Azhar, keduanya tidak dapat dipisahkan. Tak ada satu pun yang berani mengingkari peran Azhar dan sarjana Azhar dalam memperjuangkan Islam. Perjuangan Azhar dan sarjana Azhar terhadap Islam terkonsentrasi dalam tiga poin. Poin pertama adalah dalam menyebarkan Ilmu dan manhaj Islam yang benar. Poin kedua adalah jihad menentang kezaliman. Poin ketiga adalah menyatukan umat dan merehabilitasi pemikiran menyimpang.

1. Peran Azhar dan sarjana Azhar dalam penyebaran al-‘ulum asy-syar’iyyah.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, hal kedua yang paling difokuskan para sahabat selain memilih khalifah adalah mengumpulkan ilmu-ilmu, hadits dan perkataan Rasulullah SAW dari para sahabat Rasulullah SAW. Para sahabat kemudian mengajarkannya kepada generasi selanjutnya, para tabi’in. Para tabi’in belajar face to face secara frontal kepada sahabat demi mendapatkan ilmu yang orisinal dari Rasulullah SAW. Dan itu berlanjut sampai tabi’ tabi’in dan seterusnya hingga terciptalah rantai keilmuan yang kuat yang dikenal dengan istilah sanad hingga Rasulullah SAW.  Sanad inilah yang dipegang kuat-kuat oleh al-Azhar dalam menyebarkan berbagai cabang ilmu keislaman, dalam ilmu lughah, ilmu hadits, ilmu fikih, ilmu tafsir dan aqidah agar tidak terjadi penyimpangan. Maka tak heran hingga saat ini Azhar tetap menjadi central dan sumber ilmu Islam yang orisinal, begitu juga sarjana Azhar tetap menjadi acuan dalam berbagai fatwa kontemporer hukum Islam, menjadi referensi utama umat Islam. Tak terhitung sarjana-sarjana Azhar dari dahulu hingga sekarang yang telah memberikan kontribusi konkret untuk Islam, mereka tersebar luas di berbagai belahan dunia hingga sudut-sudut daerah terpencil sekali pun.

Risalah penyebaran Islam dan ilmu keislaman Azhar merupakan perpindahan tongkat estafet dari mesjid Amru bin ‘Ash, mesjid pertama yang dibangun di Afrika oleh sahabat Nabi SAW. Di mesjid inilah awal mula proses pentransferan ilmu dari sahabat Rasulullah SAW kepada penduduk Mesir yang kemudian proses tersebut beralih ke mesjid al-Azhar dan dijaga hingga mati sampai sekarang. Inilah warisan Nabi SAW. yang terus dilestarikan oleh Azhar dan para Azhariyyun, dan sangat rugi tujuh turunan jika orang yang sudah jauh-jauh merantau melewati samudra dan benua datang ke Mesir tidak pernah menghadiri majlis-majlis ilmu tersebut. Dan, belum sempurna keazharianan penuntut ilmu jika tak satu pun mendapatkan sanad keilmuan yang sampai hingga Rasulullah SAW.

Adapun sarjana Azhar yang menjadi bintang dalam penyebaran al-‘ulum asy-syar’iyyah diantaranya adalah Ibnu khaldun (bapak sejarah Islam), al-Imam al-Hafidz as-Suyuthi (mujtahid mazhab Syafi’i),  al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani (muhaddits dan pengarang kitab Fathul Baari), al-Hafidz as-Sakhawi (muhaddits dari mazhab Syafi’i)  al-Imam Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Rasyid Ridha (pengarang tafsir al-Manar), dan Syekh Yusuf al-Qaradhawi (ketua ulama internasional). Tak dikeragui lagi nama-nama diatas adalah diantara sekian banyak bintang yang telah memberikan sumbangsih dalam penstranferan ilmu syar’I, karya-karya mereka dalam berbagai bidang cabang keilmuan Islam hingga kini selalu menjadi referensi diberbagai universitas Islam di dunia.

2. Peran Azhar dan sarjana Azhar dalam jihad melawan kezaliman.
Selain aktif menyebarkan dan mengembangkan keilmuan Islam, Azhar dan sarjana Azhar juga sangat aktif dalam melakukan jihad di jalan Allah menentang segala bentuk kezaliman. Sarjana Azhar tidak hanya dikenal dengan intelektual atau kekuatan fikriyah saja, sarjana Azhar juga terkenal dengan kekuatan jasadiyah atau jasmaniyah. Tak sedikit mujahid-mujahid besutan Azhar yang berjihad dalam memperjuangkan keadilan dan Islam. Contoh konkret peran para mahasiswa, sarjana dan ulama Azhar dalam skala nasional ialah mengusir penjajah dari Negara Mesir. Mereka juga yang menjadi ujung tombak dalam revolusi di Negara Mesir baik pada tahun 1919 yang dipimpin oleh Sa’ad  Zaghlul, revolusi pada tahun 1952, dan terakhir revolusi 2011 tahun ini yang menumbangkan pemerintahan Husni Mubarak.
Sedangkan contoh konkret dalam sakala internasional adalah ketika Syeikh al-Azhar Mustafa al-Maraghi bersama Ulama dan mahasiswa Azhar pada tahun 1929 menyuarakan untuk menolong tanah Palestine dari ancaman Zionis dan mengecam Britania yang mendukung gerakan zionis, saat itu bersamaan dengan peristiwa Revolusi Buraq -Buraq merupakan sebuah tembok tempat Nabi SAW mengikat Buraq ketika Isra’ Mi’raj, orang yahudi mengklaim bahwa dibawah tembok tersebut terdapat batu besar yang mengembalikan sejarahnya pada masa lampau, yaiu runtuhan kuil Solomon, mereka meratapi tembok tersebut dan menangisi kehancurannya-.
Selain itu tercatat dalam sejarah beberapa sarjana Azhar yang menjadi bintang jihad di bumi Palestina, diantara mereka adalah  : 1. Muhammad Amin al-Husaini, lahir di Quds 1897, selesai ibtidai ia melanjutkan studi di al-Azhar, berguru kepada Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha. Setamat Azhar, beliau bergabung dengan tentara Turki dan gerakan Negara Palestina, beliau ikut menyaksikan kemenangan Arab pada perang 1973 M dan wafat pada tahun 1974 M. 2. Syekh Izzuddin al-Qassam, mujahid berkebangsaan Suriah lahir di Palestina, pergi  Mesir untuk menimba ilmu di al-Azhar, kemudian kembali ke Suriah bergabung dengan gerakan perlawanan melawan Perancis. Mendengar Inggris akan membuat sebuah Negara di Palestina, ia kemudian pergi berjihad ke Palestina menentang Inggris dan syahid di salah satu medan tempur ketika perang melawan Inggris.
Al-Azhar dan para ulama Ulama Azhar juga tak henti-hentinya menyuarakan jihad di jalan Allah dengan dengan raga atau harta. Azhar juga menguarkan fatwa bahwa pembebasan Palestina adalah wajib secara agama atas seluruh kaum muslimin, Azhar juga menyerukan kepada kaum muslimin untuk memberikan nafkah kepada anak-anak Palestina.

3. Peran Azhar dan sarjana Azhar dalam menyatukan umat dan merehabilitasi pemikiran menyimpang.
Sejak berdirinya, al-Azhar telah berusaha untuk menyatukan umat muslim dan meninggalkan perpecahan. Sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 103 “dan berpegangteguhlah kamu semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai”. Al-Azhar dan sarjana Azhar selalu mengikuti jalan para salaf as-Shalih, tidak mudah menghina apalagi mengkafirkan sesama muslim. Mereka lebih melihat persamaan dari pada perbedaan, toleransi dalam hal-hal yang masih ikhtilaf dan saling menolong dalam hal yang telah disepakati. Hal ini terlihat jelas dulu ketika para ulama dari masing-masing mazhab yang mu’tabar duduk bersama-sama dalam memilih syaikhul Azhar. Begitu juga mereka bersama-sama memberikan durus dalam satu Mesjid dan satu universitas walau dengan mazhab yang berbeda. Mereka lebih mendahulukan husnuzhan dari pada su’uzhan terhadap orang lain yang berbeda. Ini lah yang diajarkan Azhar dan yang telah dipraktekkan para sarjana Azhar.

Namun kini, api fitnah mudah sekali terbakar, orang dengan mudahnya menghina dan mengkafirkan orang lain tanpa ilmu, tanpa ada tabayyun dan tatap muka atau pun dialog bersama. Zaman sekarang semakin banyak orang bodoh yang mengaku ‘alim. Tak sedikit sarjana Azhar yang dulu ketika kuliah kerjanya hanya tiduran, banyak bermain, sibuk organisasi yang tidak berbasis keilmuan, jarang datang ke kuliah apalagi talaqqi, namun setelah pulang ke kampungnya, mereka hanya menebar api fitnah, sembarang dalam berfatwa, keilmuan mereka cacat, tapi berlagak orang paling berilmu.

Selain peran Azhar dan sarjananya dalam menyatukan umat. Mereka juga memainkan peran dalam merehabilitasi pemikiran dan aliran yang menyimpang. Mereka juga aktif menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan syubhat yang memicu perpecahan dan memojokkan Islam. Ini terlihat jelas dari berbagai karya dan buku-buku yang mereka tuliskan dalam menjawab berbagai problematika tersebut. Sarjana Azhar tak henti-hentinya mengkritik dan membasmi tuntas berbagai aliran pemikiran yang sesat dan menyimpang dalam permasalahan akidah, fikih dan filsafat serta meluruskan berbagai distorsi sejarah oleh kaum orientalis terhadap Islam.

Itulah sekelumit peran Azhar dan sarjana Azhar dalam membela agama Allah, dalam memperjuangkan keadilan dan yang haq. Itulah tiga poin yang harus dipegang oleh para sarjana Azhar ketika pulang ke kampung halaman mereka, tetap mengisi diri mereka dengan ilmu dan menyebarkan ilmu yang telah mereka pelajari, selalu menjaga adab-adab Islami, membenci kemaksiatan dan menentang segala bentuk kezaliman namun dengan cara yang bijak dan penuh hikmah. Dan, membenahi umat dari berbagai mainstream (aliran) yang menyimpang dan nyeleneh. Kehadiran sarjana Azhar haruslah menjadi obat di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sakit, menjadi air penawar haus dahaga, bukan menjadi api penyulut fitnah yang meresahkan umat. Dimana pun sarjana Azhar berdiri, apakah di dunia bisnis, politik, akademis dan lainya, tetaplah satu yang dicari, keridhaan Ilahi. Wallahu a’lam.






Rabu, 17 Agustus 2011

Da’I Nada Kembali Harumkan Indonesia di Pentas Internasional



Lewat lagu dan nada, tim nasyid Da’I Nada kembali harumkan nama Indonesia di mata internasional. Tim nasyid yang beranggotakan 9 personil ini tampil memukau dalam Sama’a International Festival di Qansouwa el-Ghouri, Husein, Cairo pada Senin malam (15/8).  Ini baru pembukaan dan akan serangkaian penampilan kami pada tanggal 15 sampai 25 Agustus, ujar seorang personil Da’I Nada, Afwan.


Festival Kebudayaan Internasional ini diikuti musikus budaya dari berbagai Negara: Mesir, Turki, Pakistan, India, Aljazair, Amerika, Maroko, Spanyol, dan Indonesia. Acara ini dibuka langsung oleh menteri kebudayaan Mesir tepat jam setengah sepuluh malam. Pengunjung acara ini pun membludak sampai banyak yang berdiri tidak mendapat tempat duduk, bahkan ada yang tidak masuk ke dalam ruangan festival yang memang indoor ini.


Festival Musik Sufi ini adalah festival yang ke 4 sejak pertama kali diadakan. Para duta besar masing-masing dari Negara perwakilan selalu menghadiri acara festival ini sebagai tanda hubungan harmonis antar Negara. Pada kesempatan ini Da’I nada membawakan dua buah lagu, yaitu Ya Rabbi Shalli, dan Qalbi. Nour Hariadi yang menjadi vocalis Da’I Nada membuat penonton berdecak kagum melalui keindahan dan kemarduan suaranya.


Usai selesai, Da’I Nada berfoto bersama dengan musikus lainnya dan menteri kebudayaan Mesir serta para penonton yang mayoritas adalah para turis mancanegara. Selain itu Dai Nada juga diwawancarai oleh salah satu siaran televise Mesir dan Turki. Nour adalah orang yang diwawancarai karena dia merupakan vokalis sekaligus founder Da’I Nada.





Selasa, 02 Agustus 2011

Serba-Serbi Ramadhan ala Mesir Bag.1 (Maidah ar-Rahman)



Segala puja dan puji bagi Allah SWT yang telah mengizinkan ku kembali bertemu tamu yang mulia bulan Ramadhan, Syahru Shiyam. Ramadhan kali ini adalah ramadhan yang ketiga sejak aku menapakkan kedua kaki ku di negri seribu menara ini 2009 silam, juga ramadhan yang ketiga kalinya tanpa berkumpul dengan keluarga tercinta. Pesona ramadhan di bumi kinanah ini hampir tidak ada yang berubah dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal-hal baru dan menarik yang ku dapati situasi ramadhan di Mesir yang tidak ku dapati di Negara ku Indonesia. Salah satunya adalah apa yang dikenal Maidaturrahman atau terjemahan bebasnya hidangan Yang Maha Pengasih.


Maidah ar-Rahman merupakan budaya atau adat yang baru ku kenal dan sangat asing sepanjang ramadhan. Maidah ar-Rahman adalah hidangan untuk berbuka puasa yang dijajakan di pinggir dan sepanjang jalan atau di Mesjid yang bebas bagi siapa pun untuk mencicipi dan menikmatinya alias majaanan/gratis. Hidangan ini mungkin didanai oleh donatur yang kaya, bisa jadi individu atau kolektif. Makanan yang disediakan memang tidak terlalu nikmat dan mewah, tapi lumayan untuk mengisi perut yang setengah hari menahan lapar. Ada daging ala Mesir, ayam ala Mesir, dan ikan tepung goreng ala Mesir untuk makanan. Sedangkan untuk minuman ada susu berisi kurma yang sudah dipotong-potong dan sirup. Ya, semua ala Mesir, itulah yang membuat jenis makanan yang sebenarnya nikmat dan mewah ini jadi tidak terlalu mewah, karena semua dimasak dengan cara dan bumbu serta selera lidah orang Mesir yang biasa-biasa saja. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki cita rasa makanan yang sangat tinggi. Tapi namanya puasa, apapun jenis makanan yang ada semua terasa mewah dan nikmat.


Hari pertama puasa, aku menjadi chef untuk teman-teman ku satu flat. Alhamdulillah ikan goreng sambal lado khas Padang tersaji untuk disantap ketika sahur. Senangnya melihat teman ku melahap habis masakan ku. Oiya, khusus Ramadhan, di sini kami biasanya hanya memasak untuk sahur, sedangkan untuk ifthor atau berbuka kami memburu bukaan di mesjid-mesjid terdekat atau di pinggir-pinggir jalan berbaur dengan rakyat Mesir yang mayoritas ekonominya ke bawah. Aku dan kawan ku pergi berbuka di daerah Darassa dekat Universitas al-Azhar. Di daerah sini lumayan ramai dan banyak Maidah ar-Rahman nya. Berbuka bersama rakyat Mesir sambil cerita-cerita di pinggir jalan memberikan kesan tersendiri bagi ku.


Ngomong-ngomong, adakah orang kaya Indonesia yang berani membuka Maidah ar-Rahman seperti ini sepanjang ramadhan untuk ratusan orang yang berpuasa? Betapa besarnya pahala bagi orang yang menyediakan makanan berbuka. Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang memberi bukaan kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala yang berpuasa itu, dimana orang yang berpuasa itu tidak kurang pahala puasanya sedikitpun. (Hadits Riwayat at-Tirmidzi).


Menu berbuka ku di Maidah ar-Rahman  adalah nasi dengan mie hun kecil-kecil ala Mesir dengan lauk daging ala Mesir plus roti ‘isy dan minuman susu berisi kurma. Selesai berbuka, aku dengan teman ku menuju mesjid al-Azhar untuk menunaikan shalat Maghrib sekaligus shalat Isya dan Tarawih. To be continue…

Senin, 25 Juli 2011

Oase Siwa, Kesejukan Tiada Tara di Tengah Gurun Sahara




Summer holiday selepas ujian adalah hal yang paling di tunggu-tunggu mahasiswa Indonesia di Cairo, Mesir. Sebulan penuh berkutat dengan muqoror (buku pelajaran), tidak siang tidak malam mata dan kepala harus bekerja seirama memahami sekaligus memotret tulisan para Duktur (baca: Dosen) ke memori otak demi kenajahan studi. Ya, kami mahasiswa Universitas al-Azhar tidak hanya dituntut memahami, tapi juga menghafal berjilid-jilid buku yang sangat melelahkan juga membosankan. Maka jangan heran jika banyak mahasiswa Azhar yang sering tinggal kelas atau baru tamat strata 1 selama 6 sampai 9 tahun. Sampai-sampai kerosiban(tidak naik tingkat) bukanlah hal yang tabu di kampus Azhar.

Alhamdulillah sebulan ujian Azhar yang melelahkan dan membosankan telah berlalu, otak ku kini telah merdeka, kini saatnya liburan musim panas menjelajah samudra wisata alam Mesir melepas urat-urat syaraf yang menegang, otot-otot mata yang mengeras. Banyaknya objek wisata di bumi para Nabi ini sedikit membuat ku bingung, ada banyak organisasi atau travel tour yang menawarkan tour ke berbagai tempat wisata menarik di Mesir. Mulai dari Fayoum, Qanatir, Port Said, Matruh, Siwa, hingga ke Hurgada dan Luxor dekat laut merah dan bendungan Aswan sana. Akhirnya dengan segala pertimbangan aku mantapkan diri untuk memilih Siwa yang tidak terlalu mahal, juga tidak terlalu murah.

Angin malam khas musim panas memang berbeda, hangat-hangat kuku, emangnya air! Hehe… Dari rumah telah aku sediakan berbagai perlengkapan wisata yang akan menghabiskan waktu 3 hari 2 malam ke dalam tas Eiger kesayangan ku. Aku berangkat tengah malam, sebelumnya aku pamit dengan teman serumah yang tidak bisa rihlah atau tamasya bersama ku, karena mereka sudah mendaftar di objek wisata yang berbeda dengan ku, temanku bilang ngapain ke tengah gurun sahara musim panas begini akhi? Entar gosong kulit ente! Teman ku yang lain yang sedang sibuk belajar bahasa perancis hanya mengucapkan padaku BUONE VACANZE, selamat liburan.

Aku dan beberapa teman yang sama-sama mengambil objek Siwa sudah berkumpul di tempat travel tour. Bus yang akan menampung 48 makhluk pun sudah terparkir rapi di sudut jalan begitu juga hasto atau sopir travel yang sudah nagkring di singgasananya dengan kaca mata hitam besarnya. Warna merah jam digital ku sudah menunjukkan angka 01.00 malam (18/07/2011), semua sudah di dalam bus berhawa dingin ini, aku juga sudah berada di sudut bus paling belakang. Aku sengaja mengambil kursi belakang agar selamat dari pemeriksaan polisi Mesir yang biasanya memeriksa paspor di tengah perjalanan. Visa ku sudah habis 2 minggu lalu dan malas sekali rasanya mengurus perpanjangan visa ba’da imtihan atau ujian, nanti sajalah.

Bus orange ini terus melaju dengan kecepatan 90 sampai 99 km/jam. Aku bertanya mengapa tidak lebih laju saja, padahal bus ini bisa mencapai 250 km/ jam. “Di Mesir, walau pun lalu lintas di Kairo amburadul, tidak punya lampu-lalu lintas, tapi jika sudah ke luar kairo lalu-lintas sudah memiliki alat yang canggih yang dapat memotret otomatis kendaraan yang melaju di atas 100 km/jam. Dan siap-siap saja bus mendapat denda yang tergantung selera petugas penjaga,” celetuk Amri yang duduk tepat di depan ku.  Wah, diam-diam Mesir keren juga.

Kota Alexandria dan Matruh yang terkenal dengan keindahan pantainya telah ku kulewati, berarti saatnya menuju Siwa di gurun Sahara. Dari dalam bus ku lihat pemandangan kanan-kiri, semua hanya berisikan pasir, gersang dan terlihat panas yang begitu membara. Aku terbayang bagaimana para ulama dahulu harus safar ke berbagai Negara melewati padang pasir yang mematikan ini demi ilmu. Aku merasa berdosa jika kerjaaan ku hanya main dan jalan-jalan, belajar hanya ketika ujian. Aku berjanji insya Allah akan rajin belajar sepulang dari Siwa.

Akhirnya kami sudah memasuki kawasan Siwa, kami juga kedatangan tamu baru di bus kami. Namanya Youssef, ia adalah guide kami di sini. Aku heran kenapa harus pakai guide segala, insya Allah dengan bahasa arab kami yang lumayan baik sudah bisa bertanya sana-sini dan mengobrol dengan penduduk setempat. Tapi setelah mendengar penjelasan si Youssef aku baru tahu, kalau bahasa arab di sini sangat berbeda dan sulit dipahami bagi kami orang asing bahkan bagi orang Arab sendiri. Ternyata masih ada bahasa kumur-kumur setelah amiyah (bahasa arab gaul,kampong atau jalanan).
Di tepi jalan aku sudah bisa melihat satu-satu rumah penduduk Siwa dengan arsitektur kuno. Selain itu juga ada beberapa pohon kurma yang lebat dengan buahnya. Siwa selain terkenal dengan Oase sebagai tempat produksi air mineral juga terkanal dengan kurma nya yang sangat menggoda. Subhanallah, di balik kegersangan dan kekurangan yang ada, Allah menyediakan berbagai nikmat yang luar biasa dengan kurma dan oase di sini. Sungguh Allah Maha Adil.

Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah telaga, airnya biru, bening, di minum langsung pun tak apa. Aku ingin merasakan air telaga itu, kalau tidak mandi minimal memasukkan kaki yang sudah kehabisan udara berjam-jam dalam sepatu ku. Teman-teman ku yang jago berenang tanpa segan langsung menceburkan tubuhnya ke dalam air sejuk itu, bunyi kelepak-kelepak tangan dan kakinya seirama mondar-mandir dari ujung-ke ujung. Mereka berpacu saling berlomba siapa yang tiba pertama terlebih dahulu. Aku ingin sekali berenang, tapi apa boleh buat, aku tidak membawa baju ganti.

Setelah berenang, berfoto-foto di dekat telaga ini, kami sekarang akan mengunjungi Jabal Mauta/gunung mati. Gunung ini banyak memiliki lubang-lubang. Konon lubang itu adalah tempat mayat yang di hukum mati oleh raja Fir’aun dulu. Ih… serem… Setelah mencapai puncak jabal mauta yang panasnya menghabiskan 1 liter keringat ini, kami turun kembali. Dan rute selanjutnya adalah salah satu oase di Siwa, karena Siwa lebih kurang memiliki 200 oase yang tersebar di berbagai tempat.

Oase Siwa yang akan ku kunjungi adalah oase yang sering didatangi turis dan aman, karena oase-oase yang lain belum di sweeping, masih banyak binatang dan hewan buas berkeliaran di sana. Inilah kali pertama aku melihat, merasakan dan menikmati Oase di tengah gurun. Dari mana air ini ada? Padahal tidak pernah hujan turun di sini. Tentunya dengan proses alamiah jawab ku dalam hati.  Ternyata di tempat yang akan kami kunjungi banyak di kunjungi wisatawan baik local dan asing. Yang membuat tempat ini ramai adalah pasir Sahara ini, pasir Sahara yang panasnya minta ampun ini ternyata memiliki khasiat ajaib, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dalam tubuh, bisa juga menguruskan badan.

Caranya adalah dengan membenamkan diri masuk ke dalam pasir Sahara yang sudah diademkan walau masih terasa sengatan panasnya. Kira-kira sejam atau dua jam, baru keluar dari tumpukan halus itu. Aku ingin sekali mencoba, tapi waktu 2 jam yang diberikan pemandu tinggal tersisa 30 menit. Aku menyesal dari tadi hanya sibuk berfoto-foto dan menonton orang dalam pasir. Tak apalah, kapan-kapan ke sini lagi.
Cuaca sudah semakin gelap, matahari sudah mulai di tarik-tarik ke barat. Saatnya pulang ke penginapan. Tak lupa sebelum balik ke Kairo membeli oleh-oleh kurma Siwa yang berisikan coklat -The End-

Rabu, 29 Juni 2011

Piagam Azhar:”Islam adalah Negara Madani, Tidak Kenal Negara Agama”



Al-Azhar sebagai sumber dan pusat keilmuan islam kembali menunjukkan peran dan kedudukan besarnya di dunia khususnya di Mesir. Ada dua hal fundamental yang Al-Azhar berikan untuk Mesir pasca revolusi. Pertama adalah mendirikan “Bait Al-‘Alilah atau Rumah Keluarga”, yang bergerak di bidang usaha pembinaan social dan pemersatu masyarakat, menyelesaikan serta menghentikan sektarian yang muncul di Mesir yang berusaha menyebarkan dan menyulut api fitnah, perpecahan dan kekacauan. Kedua adalah mengesahkan “Watsiqah Al-Azhar atau Piagam Azhar” , sebagaimana yang disampaikan Grand Syekh Azhar Prof. DR. Ahmad Thayyeb, piagam ini berisi tentang arah negara Mesir ke depan, khususnya bentuk dan sistem negara Mesir. Salah satunya adalah menyetujui Mesir dengan sitem Demokrasi yang berdiri di atas Dustur atau Konstitusi dan Undang-Undang Dasar yang diridhoi oleh seluruh rakyat Mesir, yaitu pemisahan kekuasaan dan lembaga-lembaga kekuasaan yang ada yang diatur dan dibatasi oleh hukum, menjamin dan melindungi hak-hak dan kewajiban seluruh rakyat dengan adil, dan berpegang dengan Islam dan budaya Arab yang baik.


Piagam ini merupakan hasil dari follow up dialog antar cendikia, ulama, ilmuwan, negarawan, pemikir Mesir mengenai pemikiran dan keagamaan yang bertujuan untuk menjaga keamanan dan kedamaian Mesir pasca revolusi yang meletus 25 Januari lalu. Piagam ini menyatakan bahwa Islam tidak mengenal di dalam syari’at, peradaban, dan sejarahnya Negara Agama yang berkuasa penuh atas rakyat, seperti kekuasaan absolut Kristen beberapa abad lalu yang segala urusan diatur oleh pendeta yang merupakan tangan Tuhan. Bahkan Islam memberikan kebebasan bagi manusia untuk mengatur urusan sosial dan tata Negara demi mencapai kemaslahatan dan kesejahteraan mereka, akan tetapi dengan syarat bahwa prinsip-prinsip dasar dan universal Syariat Islam menjadi sumber utama dalam perundangan Negara tersebut (dalam setiap pembuatan undang-undang tidak boleh berentangan dengan syariat Islam yang integral) dan memberikan kebebebasan pada warga non muslim menjalankan syariat mereka dalam urusan ahwal syakhsiyah.

 Karena itu, Negara disebut Negara Islam jika hukum utama dalam suatu Negara tersebut sesuai dengan nilai-nilai prinsip Islam, tidak peduli dengan bentuk Negaranya apakah kerajaan, dinasti, republic, atau menggunakan system demokrasi dan sebagainya dan selama tidak bertentangan dengan prinsip syari’at Islam. Karena Islam dan syariatnya memeliki keistimewaan dengan agama-agama lain. Hanya Islam yang mengatur masalah muamalah manusia dengan sempurna dan menyeluruh. Sedangkan agama-agama lain hanya mengatur sebatas ibadah. Tentunya sumber hukum Syariat Islam tersebut sesuai dengan pemahaman yang shahih atau benar, mengingat banyak orang-orang yang minim pemahaman Islam berbicara dengan mengatasnamakan Islam sehingga terjadi kesalahan dalam mempersepsikan syariat Islam.

Islam hanya mengenal Negara Madani, sebagimana yang telah Muhammad Rasulullah SAW dan Khulafa’ Ar-Rasyidin praktekkan 14 abad lalu.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/06/26/piagam-azharislam-adalah-negara-madani-tidak-kenal-negara-agama/

Soeharto dan Husni Mubarak, Kembar tapi Beda

 

Mengenai revolusi di Mesir, ternyata ada banyak persamaan antara pemerintahan Soeharto di Indonesia dengan Mubarak di Mesir. Meski pun begitu, ada beberapa perbedaan antara keduanya. Ingin mengetahui lebih lanjut? Ikuti tulisan di bawah ini.


Bentuk Persamaan:
1.       Soeharto dan Mubarak sama-sama Jendral Militer.
2.      Sama-sama memimpin selama tiga decade, Soeharto (1968 s/d 1998), Mubarak (1981 s/d 2011).
3.      Sama-sama lengser karena revolusi para rakyat yang umumnya adalah pemuda.
4.      Sama-sama Raja Korupsi, walau di Indonesia lebih parah sampe ke anaknya yang mengintervensi sebagian besar transaksi bisnis dan perdagangan penting.
5.      Sama-sama berharap mewariskan kursi presiden ke anaknya walau pupus di tengah jalan.
6.      Kekuasaan ada pada satu lembaga atau satu tangan yaitu Presiden.
7.      Sama-sama melakukan praktek pengaturan suara dalam pemilu baik legislative maupun eksekutif.
8.      Hmmm,,,sama-sama udah gaek dan beruban serta sakit-sakitan.
9.      Sama-sama ada perkelahian etnis atau agama pasca revolusi.

 Bentuk Perbedaan:
1.      Situasi di Indonesia lebih sulit dan kompleks dibanding Mesir, mengingat banyaknya pulau (17 ribu pulau dan 6000 yang dihuni), etnis dan keragaman suku, budaya dan agama di Indonesia menyebabkan banyaknya perang etnis serta kemunculan kaum separatis. Akibatnya pasca reformasi banyak terjadi perang etnis di Indonesia, contohnya Suku Dayak dengan Madura, perang Kristen dengan Islam di Poso, kaum separatis di Aceh, Maluku, Papua dan Timor-Timur. Berbeda dengan Mesir yang dengan cepat menyelesaikan konflik agama, etnis dan mazhab.
2.       Dari no 1, kita dapat mengetahui bahwa Soeharto ketika itu memakai system sentralisasi sedangkan Mubarak di Mesir mengunakan system desentralisasi.
3.      Keadaan ekonomi Mesir relative stabil disbanding dengan Indonesia yang jauh merosot tajam.
http://sosok.kompasiana.com/2011/06/29/soeharto-dan-husni-mubarak-kembar-tapi-beda/http://sosok.kompasiana.com/2011/06/29/soeharto-dan-husni-mubarak-kembar-tapi-beda/

Rabu, 15 Juni 2011

Tak Satu pun Siswa dan Alumni Azhar Terlibat Terorisme



Salah satu stasiun televisi di Mesir, pernah mengadakan dialog yang mengundang Mufti Mesir, Prof. Dr. Syekh Ali Jum’ah. Dialog terebut membicarakan seputar syubhat-syubhat orientalis dan tuduhan-tuduhan barat terhadap Islam. Mulai dari masalah poligami dan hukuman zina dalam Islam hingga masalah terorisme.


Dengan bijak serta logika yang cemerlang Mufti Ali Jum’ah menjawab syubhat-syubhat tersebut. Mengenai poligami, Mufti mengatakan seluruh agama di bumi ini membolehkan poligami kecuali Kristen. Yahudi, Budha, Hindu, dan lainnya membolehkan poligami hingga sekarang. Bahkan Kristen pun dalam kitab-kitab kuno mereka membolehkan poligami, namun terjadi perubahan ketika Gereja Katolik merevisi pandangannya sejak masa Paus Leo XIII pada tahun 1866 yakni dengan melarang poligami yang berlaku hingga sekarang. Islam membolehkan poligami namun dibatasi yaitu 4 istri. Islam membolehkan poligami karena dengan poligami wanita dapat memiliki hak rumah tangga dan pernikahan serta waris, memiliki status yang jelas, memiliki suami yang jelas, anaknya juga memiliki bapak yang jelas dan memiliki nafkah yang jelas.

Mengenai hukuman rajam (melempar batu hingga mati pada orang yang sudah menikah namun berzina dengan orang lain), Mufti Ali Jum’ah menjawab, sudah seribu tahun belum pernah terjadi hukuman rajam ini dalam Islam, begitu juga di Mesir. Mengapa? Karena hukuman ini memiliki syarat yang sebenarnya hampir mustahil untuk terpenuhi, ini disebabkan Islam sebenarnya tidak ingin manusia dihukum dengan hukuman rajam yang terlihat kejam tersebut. Adapun syarat agar pelaku zina yang sudah menikah dikenakan hukuman rajam adalah jika ada 4 orang saksi yang melihat secara langsung batang kemaluan laki-laki masuk ke dalam kemaluan wanita. Dan ini sangat mustahil terjadi kecuali si pelaku zina melakukan zina secara terbuka dan terang-terangan dan membiarkan orang lain melihatnya seperti halnya binatang, bahkan binatang semisal kucing terkadang mencari tempat yang sepi untuk melakukan itu. Karena itu, orang yang melakukan perbuatan binatang maka pantas dihukum dengan hukuman binatang agar tidak ada manusia atau orang lain yang berani melakukan zina secara terbuka. Apa jadinya dunia jika diisi oleh manusia seperti ini?

Kemudian masuklah masalah teroris. Syekh Mufti Ali Jum’ah menjawab tindakan teror ini akibat pemikiran yang salah terhadap Islam. Kebanyakan pelaku teror adalah orang-orang yang belajar teknik, geologi, biologi, kedokteran, bahkan agama di negara-negara sekuler seperti Amerika dan Eropa atau di negara Arab yang memakai sistem sekuler dalam pendidikannya. Seperti Muhammad Atta pelaku bom 11 september 2001 WTC yang merupakan alumni Technical University of Hamburg, Jerman. Al-Zawahiri pelaku bom 11 sepetember juga merupakan Profesor Medis di Universitas Cairo, Mesir. Osama bin Laden pemimpin Al-Qaeda juga merupakan jebolan Universitas King Abdul Aziz di Saudi bidang teknik sipil. Dan kalau kita lihat pelaku bom di negara kita juga sama, mastermind pelaku bom Bali dan JW Marriott, Dr. Azhari Husin adalah jebolan Universitas Reading di Inggris bidang valuasi properti (property valuation).  

Syekh Ali Jum’ah mengatakan walau pun Al-Zawahiri dan Osama bin Laden bukan jebolan dari Barat, tapi mereka belajar dengan metodologi barat di tempat studinya, tidak dengan menggunakan metodologi Islam seperti Universitas Azhar. Karena itulah mengapa tidak satu pun didapati orang yang menempuh pendidikan di al-Azhar terlibat dalam terorisme atau memiliki pemikiran seperti Osama dan Zawahiri. Saat ini 400 ribu siswa Azhar yang sedang menempuh pendidikan dan sekitar 20 juta alumni Azhar yang tersebar di dunia, dan tak satu pun dari mereka menjadi teroris.

Selasa, 31 Mei 2011

Partai Tajammu Tolak UU Baru Majelis Rakyat


Partai Tajamu’ mengumumkan penolakannya atas amandemen undang-undang hukum privat No.38 Tahun 1972 tentang Majelis Rakyat yang disusun oleh komite untuk amandemen konstitusi dan undang-undang dasar pelengkap yang dipimpin oleh hakim Thariq al-Basyari.

Partai Tajamu’ tetap berpegang dengan undang-undang hukum langsung untuk hak politik dan amandemen no.38 Thaun 1972, yang sudah lama dirumuskan dengan dihadiri Partai Tajamu’, partai al-Wafd, Partai an-Nashiri, Partai al-‘Amal, Partai Ahrar, Partai Ikhwanul Muslimin dan partai Syuyu’I al-Masrhri, yang didasarkan pada sistem "daftar relatif bersyarat dan tidak sempurna dan terbuka" dan kebebasan untuk membentuk daftar.

Dalam kertas tertulis Partai Tajammu’ mengeluarkan pernyataannya akan mengirimkan proposal kepada Dewan Tertinggi Militer Mesir, dan menyebarkannya secara luas.

Ia mengisyaratkan undang-undang diajukan oleh Dewan Tertinggi Militer adalah preseden atau hak yang didahulukan sejak Dewan Tertinggi Militer memegang dua kekuasaan Legislatif dan Eksekutif pada 11 Februari 2011 lalu. Undang-undang tersebut datang sebagai respon atas keberatan partai-partai, kekuatan politik serta koalisi pemuda revolusi atas Dewan Tertinggi Militer yang hanya sendiri memberikan keputusan dan undang-undang dasar yang sangat menentukan masa depan kehidupan politik Mesir atas amandemen yang diusulkan. Termasuk undang-undang hukum sebagai pengganti teks 10 butir dalam UU no.38 Tahun 2011 dengan teks baru untuk UU tersebut.

Pernyataan itu menambahkan bahwa dari sudut pandang partai ada sejumlah catatan positif dalam amandemen yang diusulkan Dewan Tertinggi Militer untuk merespon tuntutan partai dan kekuatan politik  yang terkandung dalam UU yang telah disiapkan sebelum revolusi 25 Januari tahun 2011.
 Sumber : Al-ahram

Senin, 15 November 2010

Sejarah Singkat Al-Azhar University, Cairo, egypt


Universitas Tertua di dunia dan tempat  terkemuka pembelajaran islam sunni di dunia.

Kata pengantar

Al-Azhar universitas concern dengan silabus agama, yang memberikan perhatian khusus untuk ilmu-ilmu Al-Quran dan tradisi nabi, di satu sisi, sementara di sisi lain, universitas al-azhar mengajarkan semua bidang ilmu pengetahuan ilmiah modern. Dengan demikian, universitas al-azhar tidak hanya memenuhi kewajibannya dalam dua bidang studi, tetapi juga memenuhi kewajibannya terhadap bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur'an. Pada tahun 1961, berdasarkan hukum legislatory Al-Azhar No 103 universitas memnambah  perguruan tinggi baru ilmu terapan, seperti fakultas Kedokteran dan engineeering. Fakultas ini baru diperkenalkan tidak duplikat dari universitas lain karena al-azhar menggabungkan ilmu baik empiris maupun ilmu-ilmu agama. Bersamaan dengan mahasiswa Mesir yang belajar di universitas Al-Azhar, ada banyak siswa lain yang berasal dari negara-negara Islam dan di Eropa. dan makasiswa asing memiliki hak yang sama persis seperti mahasiswa Mesir.

Kebijakan Educational universitas al-azhar

Al-Azhar merupakan perluasan alami dari masjid besar Al-Azhar, yang tertua dan paling terkenal dari semua lembaga-lembaga akademik dan Universitas Islam di seluruh dunia tanpa kecuali. Selama lebih dari seribu tahun Al-Azhar dihormati sebagai pusat budaya bagi seluruh umat Islam di Timur dan Barat. kebijakan pendidikan Al-Azhar adalah diatur dan berorientasi oleh garis panduan berikut dasar dan prinsip-prinsip: Universitas Al-Azhar terbuka untuk semua siswa muslim yang ingin belajar suatu disiplin akademis tertentu atau untuk lebih lanjut dan memperdalam pengetahuan mereka tentang Agama Islam. Universitas Al-Azhar selalu mencoba membuat semacam persatuan intelektual antara Muslim di mana-mana di dunia Islam, ia juga bekerja keras untuk  memperkuat hubungan mereka dan mempertajam loyalitas mereka kepada iman dan Islam. Dalam semua kurikulum dan kegiatan ilmiah Universitas concern dengan segala sesuatu yang dapat memperkuat hubungan rohani Islam, dan menghidupkan kembali rasa kebanggaan islaml di antara orang-orangnya. Universitas al-azhar juga  tetap menjadi cahaya penuntun bagi Islam dan benteng bagi bangsa Arab, menanamkan ajaran Islam dalam hati dan pikiran umat Islam, menjaga bahasanya, melayani tujuan, reformasi warisan budaya, dan menerangi untuk kepentingan umat manusia. Dengan demikian Universitas dapat melakukan tugas besar bahwa Al-Azhar menanggung sendiri sepanjang zaman, dan demikian juga tetap Mesir di posisi terkemuka dan pelopor di kalangan umat Islam. Universitas Al-Azhar bertujuan untuk memberikan Mesir dan Arab dan dunia Islam seorang ulama dan para ahli, juga dilengkapi dengan budaya Islam dan moral, dan siap untuk melayani masyarakat mereka, dan memainkan peran mereka dalam membangun negara mereka pada iman dan dasar islam. dan mempersiapkan suatu akademisi dan ilmuwan yang sangat berkualitas  untuk generasi yang akan datang di semua cabang pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan untuk kehidupan di sisi rohani dan material. Untuk mencapai tujuan universitas ini mendukung studi yang lebih tinggi, menciptakan daerah baru spesialisasi yang berbeda, memberikan beasiswa di berbagai lapisan masyarakat dan memiliki pengalaman terbaik untuk kepentingan Mesir dan semua Muslim di seluruh dunia Islam. Untuk mengawasi kegiatan ilmiah dan manfaat dari mereka, dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan melalui membangun dan menegakkan hubungan akademik antara Universitas Al-Azhar dan Universitas dari seluruh dunia. Hal ini juga diharuskan untuk memiliki hubungan dengan yayasan tersebut semua pusat penelitian dan akademik dan ilmiah lainnya dan untuk pertukaran kunjungan akademik dengan universitas lain, mengundang ahli terbaik di bidang mereka untuk memberikan ceramah, melakukan penelitian di semua spesialisasi yang berbeda. Universitas Al-Azhar mengirimkan beberapa anggota staf dari waktu ke waktu, untuk mengejar ketinggalan dengan yang terbaru, dan up to date penemuan dan perkembangan di semua bidang ilmiah dan akademik yang berbeda dan berbagai kegiatan penelitian.

Latar Belakang Sejarah

Ketika Jawhar yang Sisilia, komandan pasukan Fatimiyah dikirim oleh khalifah Fatimiyah menaklukkan Mesir Almuiz, didirikan Kairo pada 358 H / 969 SD ia membangun mesjid Al-Azhar. Masjid selesai dalam hampir dua tahun. Ini pertama kali dibuka untuk doa pada 7 Ramadhan 361 H / 22 Juni 972 Masehi. Sejak itu telah menjadi masjid paling terkenal di seluruh Dunia Islam, dan universitas tertua yang pernah untuk studi baik agama dan sekuler.

Para sejarawan berbeda tentang bagaimana masjid mendapat namanya. Beberapa berpendapat bahwa hal itu disebut seperti itu karena dikelilingi oleh rumah-rumah berkembang pada saat didirikan Kairo. Lain percaya bahwa saat itu dianggap sebagai pertanda baik status tinggi yang masjid itu akan mencapai sebagai hasil dari studi berkembang sedang dilakukan di mesjid. Kelompok ketiga percaya bahwa itu dinamai "Fathimah al-Zahraa" putri Nabi Muhammad (perdamaian dan berkat besertanya) untuk memuliakan namanya. Penjelasan terakhir ini suara yang paling mungkin sebagai Fatimiyah sendiri yang memanggilnya.

Awal kegiatan Ilmiah di Al-Azhar: Tiga setengah tahun setelah didirikan, Al-Azhar mulai memperoleh sifat akademis dan skolastik. Saat itu di bulan Ramadan, 365 AH (Oktober 975 AD) pada masa pemerintahan Al-Muiz ketika Kepala keadilan Abu El-Hassan Ali ibn Al-Nu'man El-Kairawany duduk di pelataran Al-Azhar dan membaca "El-ikhtisar "sebuah buku yang ditulis oleh ayahnya Abu Hanifah Al-Nu'man sebagai acuan pada hukum Syiah (fiqh). Hal ini terjadi di hadapan banyak penonton yang namanya dicatat dalam peringatan acara ini. Abu El-Hassan adalah orang pertama diberikan judul Keadilan kepala. Ini adalah Seminar pertama yang diadakan di Al-Azhar yang diikuti oleh banyak orang. Mereka seminar adalah agama, namun mereka memiliki nuansa politis. Pada awal pemerintahan Al-Aziz Billah, Al-Azhar membuat langkah besar terhadap kajian akademis nyata. Yakub bin Killis, menteri Al-Mu'eiz dan kemudian Al-Aziz membaca nya "Al-Risalah Al-Azizyah 'tentang hukum Syiah. Dia kemudian dikembangkan studi di Al-Azhar ketika ia ditunjuk tiga puluh tujuh fukaha. Dia memberi mereka gaji bulanan dan mereka membangun rumah-rumah di dekat Al-Azhar. Selama periode Fatimiyah, Al-Azhar merupakan bagian terpenting dari kehidupan intelektual. Selain seminar biasa, sesi pendidikan moral diadakan untuk perempuan. Al-Azhar juga kursi hakim resmi pada hari-hari tertentu dan akuntan atau kepala pemungut pajak "muhtasib" selama hampir dua abad. Sejak runtuhnya Pusat Budaya Islam di Baghdad dan Andalusia di pusat terbesar bagi Arab dan studi Islam di seluruh dunia.

Sejak awal, seminar diadakan di Al-Azhar adalah alam murni akademik. Mereka secara inheren ditandai dengan diskusi ilmiah gratis dan beasiswa. Ada juga sistem instruktur dan dosen tamu. Kegiatan-kegiatan tersebut kemudian bekerja sebagai fondasi dari sistem Universitas akademik, yang kemudian dikenal baik di Timur dan barat. Oleh karena itu, Al-Azhar telah diisi kemudian dikenal sebagai universitas tertua agama di seluruh dunia.

Meskipun Al-Azhar tidak mampu berfungsi dengan baik sebagai universitas atau sebagai mesjid selama hampir satu abad, selama pemerintahan Ayyubiyah studi dilakukan dengan cara yang sama saat mereka selama periode Fatimiyah. Namun, mereka terutama agama dan bahasa. Selama periode Mamluk 648-922 H / 1250-1517 M, Al-Azhar diasumsikan tanggung jawab baru terhadap dunia Islam.

Sebagai hasil dari serangan Mughul di Asia Tengah dan penyusutan pemerintahan Islam di Andalusia, Al-Azhar menjadi tempat berlindung hanya untuk para ulama yang dipaksa keluar dari tanah air mereka. Mereka membantu para sarjana Al-Azhar untuk mencapai puncak kejayaannya selama berabad-abad AH kedelapan dan kesembilan (14 dan abad 15 AD). Perlu disebutkan di sini bahwa Al-Azhar memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu-ilmu alam. Beberapa sarjana Al-Azhar belajar kedokteran, matematika, Astronomi, geografi dan sejarah. Mereka menempatkan banyak usaha untuk memajukan ilmu-ilmu ini bahkan pada saat kemerosotan politik dan intelektual dan stagnasi.

Di bawah Dinasti Utsmani, Al-Azhar secara finansial independen karena Waqfs (hibah), para ahli sangat bebas untuk memilih bidang studi mereka dan buku-buku teks. Jadi Al-Azhar telah bebas identitasnya sendiri dan menjadi sebuah Islam terkemuka dan pusat bahasa Arab.

Ini menarik perhatian banyak guru serta banyak siswa dari seluruh dunia Islam. Perlu disebutkan bahwa Dinasti Utsmani tidak pernah diangkat salah satu dari mereka sebagai Grand Imam Al-Azhar. Posisi tinggi sekali berangkat ke Mesir. Ketika Bonaparte menyerang Mesir di (1213 H / Juli 1789 M) ia menganggap Al-Azhar sebagai universitas paling terkenal di seluruh dunia Islam. Selama pengasingannya di Saint. Helena ia menulis dalam susu bahwa Al-Azhar adalah mitra dari Sorbonne di Paris. Dia tampak sangat pada Al-Azhar Ulama sebagai kelas elite berpendidikan dan sebagai pemimpin bangsa. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kairo ia membentuk sebuah dewan khusus (diwan) untuk memerintah ibukota. dewan itu terdiri dari sembilan syekh terkemuka di bawah pimpinan Syeikh Abdullah Al-Sharkawi, Imam besar Al-Azhar pada waktu itu. Pembentukan dewan ini berdiri sebagai bukti pentingnya Al-Azhar dan status tinggi yang Ulama.

Namun, Al-Azhar merupakan tempat pertemuan bagi para penentang pendudukan Perancis dan kursi revolusi. Sebuah komite revolusioner khusus dibentuk di bawah kepemimpinan Sheikh Mohamed El-Sadat. Ketika revolusi pecah melawan Prancis, Imam besar dan Memutuskan Ulama bahwa tidak mungkin untuk melakukan studi mereka, sehingga mereka menutup masjid.

Ini telah menjadi waktu hanya untuk Al-Azhar akan ditutup selama sejarah panjang. Ketika dievakuasi Perancis tiga tahun kemudian, Al-Azhar kembali aktivitas normal dan menerima guru dan siswa. Ketika Mohammad Ali mengambil alih kekuasaan di Mesir tahun 1220 AH 1805 AD ia berencana untuk membuat sebuah negara modern. Untuk mencapai tujuan, ia sangat tergantung pada Al-Azhar. Dia dikirim beasiswa dari kalangan mahasiswa Al-Azhar ke Eropa. Siswa-siswa ini adalah pelopor yang mengangkat tinggi panji-panji renaisans modern di Mesir. Sebagian besar tokoh-tokoh terkemuka termasuk pemimpin revolusi Orabi adalah alumni dari Al-Azhar. Hal ini juga diterapkan pada tahun 1919 pemimpin revolusi, Saad Zaghloul serta banyak tokoh-tokoh terkemuka lainnya, Mohamed Abdu dan El-Manfaloty misalnya menyelesaikan studi mereka di Al-Azhar. Insiden paling signifikan adalah pertemuan kedua Muslim Ulama dan pendeta Kristen di serambi bertiang Al-Azhar menyikapi orang-orang dari mimbar Al-Azhar.

Ketika terjadi revolusi 1952, Al-Azhar adalah salah satu masyarakat yang telah dimodernisasi dan dikembangkan sehingga dapat secara efektif melaksanakan perannya menerangi untuk kesejahteraan tidak hanya dari Mesir, tetapi juga dari seluruh dunia Arab dan Islam.