Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Asy'ari Akidah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah



Ketika terjadi fitnah besar-besaran dalam masalah akidah, hingga Ateisme. Muncul Imam Abu Hasan Al-Asy'ary (cucu dari pada sahabat Nabi SAW abu Musa Al-Asy'ari) mengcounter serta meluruskan pemahaman-pemahaman akidah yang batil, seperti mensifati Allah sama dengan makhluk, pemahaman yang menentang tidak adanya Tuhan. 


Dengan hadirnya Imam al-asy'ari, yadhkuluna fi diinillah afwaaja, orang-orang tak beragama atau pun beragama selain Islam memeluk agama Islam secara berbondong-bondong, pemahaman-pemahaman sesat dan menghinakan dzat Allan SWT padam bagai api disiram air. Hingga Imam al-asy'ari dikenal sebagai Imam ahlu sunnah wal jama'ah dan akidah asy'ari dikenal sebagai akidah ahlu sunah wal jama'ah, akidah yang sesuai dengan petunjuk Alquran dan sunnah. Para ulama-ulama besar setelah nya semua mengikuti akidah yg dijabarkan oleh imam asy'ari. 

Hingga datang lah seorang yg bernama Muhammad bin Abdul Wahab, yang kembali menebar fitnah dalam akidah, membid'ahkan kaum muslimin dan para ulama. Bukannya mengislam kan orang, tetapi kerjaaan nya adalah mengeluarkan orang dari Islam, menuduh kaum muslimin sebagai musyrik, pelaku bid'ah yang tempat nya di neraka, bahkan hingga kafir yg darahnya halal utk dibunuh. Na'udzubillah. Akidah Muhammad bin Abdul Wahab ini lah yang kemudian dikenal sebagai akidah wahabi. Hobi nya membuat keributan dan perpecahan di antara kaum muslimin. 


Semoga kita terhindar dari akidah sesat ini.

Jumat, 24 Februari 2017

Logika Wahabi yang Menyimpang



==Logika Wahabi==

1. Allah berfirman : {نسوا الله فنسيهم} (Mereka melupakan Allah, kemudian Allah pun melupakan mereka.).

Kata wahabi: Kami mengimani ayat tersebut sebagaimana tertulis, kami tidak akan pernah mentakwil ayat-ayat Allah, kami mengimani Allah punya sifat lupa, cuma makna lupa tersebut hanya Allah yang tahu, bagaimana atau seperti apa lupanya Allah hanya Allah yang tahu. (emoticon senyum)

2. Allah berkata dalam hadits qudsi riwayat Imam Muslim : "Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk Ku". Ia berkata : "Wahai Tuhan saya, bagaimana saya menjenguk Mu sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam ?". Dia berfirman : "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hambaKu Fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya ?, Tidakkah kamu mengetahui, seandainya kamu menjenguknya niscaya kamu mendapati Aku di sisi nya. Wahai anak Adam Aku minta makan kepadamu namun kamu tidak memberi makan kepadaKu". Ia berkata : "Wahai Tuhan saya, bagaimanakah saya memberi makan kepadaMu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam ?". Allah berfirman : "Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya hambaKu si Fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidaklah memberi makan kepadanya ? Apakah kamu tidak mengetahui bahwasanya seandainya kamu memberi makan kepadanya, niscaya kamu mendapatkannya di sisi Ku ? Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tapi kamu tidak memberi minum kepada Ku". Ia berkata : "Bagaimanakah saya memberi minum kepada Mu sedang kamu adalah Tuhan alam semesta ?". Allah berfirman : "Hamba Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum, niscaya kamu mendapatinya di sisi Ku".

Kata Wahabi: Kami mengimani perkataan Allah sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur'an dan hadits qudsi, kami tidak mentakwilnya, kami mengimani sebgaimana zhahirnya. Kami mengimani Allah punya rasa sakit, tapi tidak seperti rasa sakitnya makhluk, bagaimana rasa sakitnya Allah hanya Allah yang tahu. Begitu juga kami mengimani Allah makan dan minum, cuma bagaimana makan dan minumnya Allah hanya Allah yang tahu. Menurut kami, jika kami menjenguk saudara kami yang sakit, kami akan mendapati Allah ada di sisi saudara kami yang sakit, cuma bagaimana datangnya Allah hanya Allah yang Tahu, kami hanya mengimani.

Senin, 09 Mei 2016

AGAMA, POLITIK DAN POLITIK KEPARTAIAN


Pandangan Sya'rawi tentang agama dan partai politik/politik kepartaian
Syekh Mutawalli Sya'rawy pernah ditanya:Mengapa Anda tidak berafiliasi pada partai agama? Beliau menjawab: Karena afiliasi pada partai agama (membentuk partai agama) bukanlah fokus Islam (dari zaman Rasulllah sampai kekhalifahan utsmany juga gak ada tuh partai2 politik agama), dan dan tidak ada satupun yang mampu memudharatkan Islam jika kamu tidak masuk partai si anu. Saya adalah muslim jauh sebelum mengenal kalian (orang2 partai agama), saya muslim jauh sebelum kalian mendirikan partai agama, dan saya tetap muslim walau setelah berakhirnya masa kalian, dan Islam tak kan lenyap walau tanpa (partai) kalian, karena kita semua adalah muslim, dan mereka bukanlah satu-satunya yang muslim. Sungguh sebelum akalku berbicara, aku menolak untuk memasuki sebuah partai yang meminta-minta belas kasihku dengan menyandarkan ceramah2 keagamaanku, Karena sesungguhnya aku menolak agamaku mengemis/ meminta-minta untuk dipilih pada kotak pemilihan umum. Aku tidak akan mengemis/meminta-minta agamaku (untuk dimenangkan) selain kepada Pencipta-ku. 

Dan aku berharap, (nilai-nilai) agama ini sampai kepada para politisi yg negarawan, dan aku juga berharap ahlu ad-din (agamawan/ulama) tidak sampai kepada politik (kepartaian). Jika kalian adalah ahlu ad-din (agamawan/ahli agama), maka tidak layak bagi kalian (memperdagangkan agama) berkecimpung dengan politik (kepartaian). Jika kalian ahli pilitik (politisi negarawan), maka aku punya hak untuk tidak memilik kalian, dan tidak ada dosa dalam agamaku (jika tidak memilik kalian).

ما قاله الشيخ شعراوي في الدين والسياسة الحزبية
سُئلَ الشيخ محمد متولي الشعراوي: لماذا لا تنتمي إلي حزب ديني؟ فأجاب: " لأن الانتماء إلى حزب ديني ليس من ركائز الإسلام ولا يَضير إسلاميَ شيءٌ إن لم أنتمِ إلى هذا الحزب؛ فأنا مسلم قبل أن أعرفكم، وأنا مسلم قبل أن تكون حزباً، وأنا مسلم بعد زوالكم، ولن يزول إسلامي بدونكم؛ لأننا كلنا مسلمون، وليسوا هم وحدهم من أسلموا. لأنني أرفض أن انتمي إلى حزب يستجدي عطفي مستنداً على وازعي الديني قبل أن يخاطب عقلي. لأنني أرفض أن أستجديَ ديني في صندوق انتخاب، فديني لا أستجديه من غير خالقي." ومن اقوالة : "أتمني أن يصل الدين إلي أهل السياسة.. ولا يصل أهل الدين إلي السياسة" فإن كنتم أهل دين، فلا جدارة لكم بالسياسة وإن كنتم أهل سياسة فمن حقي أن لا اختاركم ولا جناح على ديني

Senin, 22 Juni 2015

ISLAM Nusantara


Tentang "ISLAM Nusantara"
Kalau maksud “Islam Nusantara” itu (praktik) Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan: selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat.
Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Al-Qur’an dan Hadits. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya. Yang wajib kita ikuti adalah agama: aqidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.
Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.
"Prof. Dr. Ali Mustafa Ya'qub"

Sabtu, 14 Desember 2013

Syariah dan Islam Kok Dibawa-bawa ke Bisnis???




Syariah dan Islam Kok Dibawa-bawa ke Bisnis???

Orang non muslim phobia dengan Islam dan simbol-simbol serta label-label berbau Islam mungkin bisa dimaklumi karena ketidaktahuannya dan mengenal Islam hanya dari media dan para pembenci Islam, tapi kalau muslim sendiri yang ikut phobia maka ini sudah tak dapat ditoleransi atau mungkin sudah tak dapat dinalar lagi, musy ma’ul kalau kata orang Mesir. Berdasarkan pengalaman saya, tak sedikit muslim yang phobia dengan agamanya sendiri, agama Islam, dengan apa-apa yang berbau Islam, yang bersimbol Islam dan berlabel syariah serta yang termasuk dalam lingkup pembahasan syariah. Bahkan sangking phobianya mereka sampai mengatakan orang-orang, lembaga atau organisasi-organisasi yang semangat bersyariah dan berislam itu hanya memperjual-belikan agama demi kepentingan atau keuntungan pribadi dan kelompok serta telah mengelabui umat dengan mengatasnamakan agama, walaupun ada oknum-oknum yang melakukan hal tersebut. 


Minggu, 07 April 2013

Banyaknya Orang Dungu, Salah Satu Tanda Akhir Zaman



Hati-hatilah dengan perkataan orang dungu, orang safih yang , manis terlihat tapi pahit dirasa, indah jika didengar/dipahami dengan pemikiran singkat, tapi busuk jika dicerna dengan pemikiran matang dan mendalam.
Hati-hatilah dengan perkataan orang-orang dungu dan safih tersebut, karena perkataan itu sangat mudah anda temui di mana pun, di situs jejaring sosial atau di mimbar-mimbar mesjid sekitar anda, atau di rak-rak buku pribadi dan pustaka anda, atau dari teman dekat anda dan guru anda sekalipun. Mereka adalah "HUDATSA ASNAN, SUFAHA AHLAM" sebagaimana yg tercantum dalam hadits Nabi Saw, ketika menceritakan tanda-tanda hari akhir bahwa akan datang anak-anak muda(isi kepala kosong/mafisy mukh) orang-orang idiot yang berbicara agama dan mengatasnamakan agama padahal hakikatnya jauh dari agama.
Fungsikan hati dan akal anda, jangan cuma salah satunya. Belajar dan pahami secara paripurna baru komentar.

Rasulullah SAW bersabda: “Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya (cetek faham agamanya). Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah SWT dan hadis Rasul SAW), tetapi iman mereka masih lemah. Pada hakikatnya mereka telah keluar agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di mana sahaja kamu dapat menemuinya, maka hapuskanlah mereka itu, siapa yang dapat menghapus mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. “;-(Riwayat Bukhari dan Muslim)

#ringkasan ceramah Syekh Prof. Dr. Ali jum'ah (mantan mufti Mesir). 
#Kalau saya perhatikan, inilah mengapa Syekh Ali jum'ah sangat keras menghadapi orang2 yg seperti dalam hadis Rasulullah SAW di atas, karena bahayanya dampak yang ditimbulkan pada agama dan umat.

Sebelumnya saya pernah berbicara hati-hati dengan perkataan orang dungu! Nah, saya akan berikan contoh konkretnya agar jelas&terang seperti terangnya matahari.
"Biasanya orang dungu akan berkata: banyak orang mengkritik dan mencaci kita sampai bilang kita bodoh, pendapat kita gila. Tetaplah pada keyakinan kita jangan dengarkan kritikan orang lain, semakin banyak yang mengkritik & menyalahkan kita itu menandakan kita dalam kebenaran dan di jalan haq, orang lain hanya iri & dengki. Mereka orang2 dungu ini juga biasanya menyama2kan dengan Nabi saw,: lihatlah Nabi saw yang berada dlm kebenaran ketika menyampaikan Islam banyak yang menyerang & mengkritik beliau, mengatakan beliau gila, tukang sihir dll, tapi itu tidak menyurutkan beliau berdakwah justru dakwah semakin sukses, Islam semakin besar.

Perhatikanlah, perkataan orang-orang dungu ini memang indah dan manis jika dibaca sekilas, tanpa ilmu dan analisa ilmiah yg dalam. 

Nah, Kalau menggunakan perkataan orang-orang dungu ini sebagai standar kebenaran/di jalan haq, dan untuk berdalih bahwa kita itu benar, maka orang yahudi itu pasti juga berada di jalan benar/haq. Dari dulu orang yahudi dikucilkan, ditindas, diserang, dikritik oleh umat lain, bahkan hampir dibumihanguskan oleh tentara Nazi, tidak punya tanah untuk hidup dll, tapi sekarang orang yahudi justru menjadi bangsa besar dan sukses merajai ekonomi dan teknologi dunia. 
Atau ketika pemahaman orang-orang syiah dikritik dan diserang oleh ulama2 sunni menandakan pemahaman orang syiah benar, atau ketika filsafat yunani dikritik oleh ulama2 Islam berarti filsafat yunani itu mutlak benar semua. Atau ketika si lia eden yang ngaku Nabi, kemudian seluruh ulama Indonesi menyatakan dan menyerang bahwa lia eden sesat, itu menandakan lia eden berada di jalan kebenaran.!?

Lihatlah! Perhatikanlah kekacauan logika orang-orang berpendapat seperti ini! Inilah contoh dan bukti kedunguan, keidiotan mereka. Karena itu saya berani mengatakan orang yang punya pandangan seperti ini ciri2 orang tersebut dungu.
Karena itu hatilah dengan perkataan/retorika orang dungu ini. Jangan gampang ketipu. Ingat! Tong kosong nyaring bunyinya. 

Kebenaran itu ada standar dan punya ukuran ilmiah. 
1+1 = 2. Lantas, apakah ketika kita mengatakan 1+1= 3, kemudian orang mengatakan kita bodoh dan idiot itu menandakan kita benar? Kalau seperti itu, silahkan lanjutkan kedunguan dan keidiotan anda. :-D

#ya Allah, jauhkan kami dari orang-orang juhala, sufaha. Jangan jadikan kami di antara orang2 seperti itu. Jadikan kami orang2 yg berilmu dan bersama2 orang yang berilmu.

. Tidak ada ulama/fuqaha/ilmuwan menjadikan standar kebenaran hanya karena ada yang mengkritik dan menyalahkan, kalau banyak yang mengkritik kita berarti kita benar, tanpa menjawab kritikan tsb dan berburuk sangka bahwa orang lain hanya iri&dengki. Cara berfikir seperti apa dan siapa yang cara pandangnya seperti itu menurut bg? Belum pernah alam dengar ahlu ilmi memiliki cara pandang menilai benar dan salah seperti itu kecuali para juhala&sufaha.

Bg pasti pernah belajar dan masih belajar fiqih dan ushul fiqih nashi. Dalam fikih syafi'i sbgai contoh, ulama-ulama mazhab (orang2 berilmu) demi mencari kebenaran & qaul yang kuat mereka saling mengeluarkan hujjahnya, mengerahkan seluruh dalilnya hingga sampai hasil akhir ada qaul ashah dan muqabil ashah, ada qaul azhar dan zhahir, ada qaul shahih dan fasid/dhaif, atau dalam mazhab maliki ada masyhur dan ghair masyhur/gharib. hasil akhir ini untuk mendapatkan mana yang haq atau aqrab ilal haq diselesaikan dgn cara dan manhaj ilmiah, dgn hujjah ilmiah.

Dalam ushul fikih, para ulama ushuliyin jika terjadi perselisihan dan mengkritik pendapat lain demi mencari pendapat yg kuat yg benar, yg salim, mereka melalui perdebatan, rad-rad yg panjang hingga sampai hasil akhir muncul qaul mu'tabar dan ghairu mu'tabar, qaul yg dipakai dan qaul yang ditinggalkan, qaul yg benar dan salah, qaul tsawab qaul syadz, qaul haq dan qaul batik, semua dikupas dgn saling mendatangkan hujjah masing2, dgn cara dan manhaj ilmiah. 
Kalau dikritik, ya dijawab dgn ilmiah, bukankah seperti itu manhaj ulama kita?

Yang jadi masalah, ketika dikritik tapi gak jawab apa2, terus menjadikan kritikan dan serangan orang lain tersebv sebagai bukti dia dan pendapatnya itu yang benar dan haq, sampai2 berburuk sangka bahwa orang yg mengkritik dan menyalahkan nya hanya iri dan dengki.
Kan gak lucu dan gak cool kalau seperti itu.
Contoh: si Z bilang uang kertas haram, ta'amul dgn uang kertas haram, wajib pakai dinar-dirham dgn hujjah pas-pasan atau hanya hasil terka2. Terus dikritik/di-rad dan dinyatakan oleh si B&C bahwa pendapat si A salah dengan hujjah ilmiah, tapi si A diam, tidak mau menjelaskan apa2, dan anehnya tanpa menjawab rad B&C, si A lagi2 dgn terkaannya bahwa ia lah yang benar hanya dgn alasan/hujjah karena ada yg mengkritik dan menyalahkannya.!? 

Tentu saja, hadza la ya'ti illa min kalamil jahil!
Dan kalau seperti itu cara mencari, melihat dan menimbang kebenaran, berarti ia termasuk orang2 dungu/safih/jahil. 
Dan akan berdampak bahaya sekali jika cara pandang seperti itu dijadikan hujjah untuk menilai kebenaran. Contoh: jika si A mengeluarkan statement zina boleh dgn hujjahnya, kemudian dikritik& disalahkan oleh banyak orang B,C&D dgn hujjah yg ilmiah. Lantas si A diam dan kokoh dgn pendapatnya dan menganggap bahwa adanya kritikan dari B,C&D itu menandakan si A berada dalam kebenaran, karena banyak yg iri dan dengki atau si B,C&D itu hanya iri&dengki kpdnya, tanpa si A mempertanggung jawabkan pendapatnya dan menjawab kritikan yg ada, menutup kesalahannya karena gengsi, malu atau sudah tertutup akal&hatinya karena doktrin ntah dari siapa.

Sekali lagi, jika cara pandang dan cara berdalil/berhujjah seperti itu yg dipakai, maka akan banyak orang-orang dungu yang belum tau apa2, tidak punya ilmu, belum tau masalah, belum mengkaji scra ilmiah&mendalam, atau belum pernah belajar tentang suatu masalah tsb, mereka orang2 dungu itu akan seenaknya berkata macam-macam tentang agama, melakukan hal macam2 tentang agama tanpa didasari ilmu, terus ketika dikritik dan ada yg mengatakan apa yang dikatakan&dilakukannya salah dia malah berasumsi bahwa dia ada di jalan kebenaran. Sungguh, bagi alam orang seperti itu adalah orang yg dungu yg sangat berbahaya, karena orang dungu tidak akan sadar bahwa dia dungu, berbeda orang berilmu dia pasti sadar kalau dia dulu pernah bodoh.

Inti dari status alam. Kalau kita memberikan pendapat, melakukan sesuatu, kemudian ada yang mengkritik, maka harus dipertanggung jawabkan, dijelaskan, dicari mana yang benar dgn cara ilmiah, dicari titik temu kalau ketemu, atau kalau tidak bertemu maka saling berlapang dada bahwa itu masalah khilaf. Itu baru cara orang berpendidikan mencari kebenaran, menyelesaikan masalah dan juga enak dipandang. Bukan mendasari kebenaran hanya karena ada yang mengkritik, kalau ada yang mengkritik itu menandakan yg dikritik benar dan yang mengkritik itu cuma iri dengki. Tentu, Ini sangat tidak ilmiah sekali, sangat tidak masuk akal dan dungu sekali. 
wallahu a'lam.

Minggu, 24 Februari 2013

Al-Azhar, Moderat dan Islam


Akhirnya, ku temukan jawaban mengapa Al-Azhar dan para ulama Azhar menggunakan manhaj wasathiyah, selalu menyerukan Islam yang moderat/wasatan, menghadapi penyimpangan2 oleh kelompok2 lain dengan cara moderat, menyelesaikan persoalan dan gejolak umat degan moderat. Dan juga hingga kini menjadi sumber referensi Islam yg orisinil.

1. Coba lihat surat al-Baqarah ayat 108, kata "sawa a sabil" dalam tafsir jalalain diartikan "thariqul haq" yang asalnya adalah "al-wast". Berarti al-wast adalah thariqul haq/jalan kebenaran.

2. Lihat surat al-Baqarah ayat 142-143. Allah mensifati orang yahudi dan musyrikin yang tidak berada di jalan haq dengan kata "sufaha"/bodoh yang hampir mencapai gila/hilang akal. Dengan begitu, orang-orang sufaha/bodoh itu juga jauh dari jalan haq, karena itu mengapa jumhur ulama mewajibkan orang awam dan orang bodoh untuk taqlid pada imam mazhab atau pada orang yang faqih dan alim. Karena orang bodoh atau awam yg tabi' /mengikut dan taqlid pada imam mazhab, orang faqih dan alim, yuhkamu fi hukmihim/dihukumi seperti mereka(para imam mazhab&orang faqih), dengan begitu setidaknya penyimpangan umat Muhammad Saw jadi berkurang.
Kemudian, Allah menjadikan dan mensifati umat Muhammad Saw yang telah mendapat hidayah Islam sebagai umat yang "wasatan", yaitu umat pilihan/terbaik/penuh keadilan dan rahmat.

3. Banyak ayat Alquran dan juga hadis Rasulullah Saw yang mengatakan Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dan melarang sikap berlebihan. Karena orang yang bersikap berlebihan identik dengan kebodohan tidak mau berfikir dengan matang dan ceroboh sehingga banyak salah. Karena itu, Islam melarang anak kecil mentasarufkan hartanya (pada muamalah tertentu) kecuali atas izin atau ditemani walinya agar tidak berlebihan dan membuang2 hartanya untuk yang tidak bermanfaat dan tidak dibutuhkan.

Kesimpulan: Islam adalah agama yang wasatan/moderat . Karena moderat adalah jalan haq yg ditempuh oleh Rasulullah saw, para sahabat, tabi'in, dan ulama-ulama yang berilmu/faqih, Allah pun tidak menyukai yang berlebihan dan orang bodoh yang sombong(tidak mau bertanya pada yang faqih).
Catatan: jangan salah memahami atau menyamakan moderat yg disyiarkan oleh Azhar dan ulama Azhar dengan moderat yg digemborkan orang liberal, karena perbedaannya jauh bagai langit dan bumi.

#tadabbur pagi s.al-Baqarah.

Kamis, 03 Mei 2012

For Some Reason and a Purpose!



Sebuah ungkapan bijak mengatakan “Everything has a purpose and reason”, segala sesuatu pasti memiliki tujuan dan alasan. That’s absolutely right, bahkan seekor nyamuk pun memiliki tujuan dan alasan tertentu dalam penciptaanya. Dalam Al-Quran Allah SWT menerangkan, “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.”(QS. Al Baqarah [2]: 26). Tentu ada hal yang sangat istimewa dari nyamuk atau bahkan hewan yang lebih kecil dari nyamuk. Ada tujuan dan alasan dari penciptaan nyamuk.  Ada beragam hikmah mengapa nyamuk ada, karena Allah sang Maha Pencipta mustahil menciptakan suatu yang sia-sia.

Kita tahu, nyamuk merupakan binatang serangga yang kecil, lemah, yang sekali tepuk ia bisa mati. Tapi siapa tahu dengan tubuh kecilnya dan belalai mungilnya, ia mampu membuat manusia sekarat bahkan menyebabkan maut. Nyamuk juga sangat singkat masa hidupnya, ini bisa menjadi pelajaran bagi manusia bahwa ia juga memiliki hidup yang sangat singkat. Melalui belalai penghisap darah nyamuk, manusia terinspirasi menciptakan jarum suntik yang sangat berguna sebagai alat pengobatan. Karena nyamuk, pabrik-pabrik produksi pembasmi nyamuk tercipta, lapangan kerja ada, hingga mengurangi jumlah pengangguran dan membantu meningkatkan kesejahteraan negara. Ini hanyalah beberapa contoh kemungkinan dibalik tujuan, alasan dan hikmah penciptaan nyamuk, dan pasti masih banyak tujuan lain yang belum bisa kita temukan.

Segala sesuatu punya tujuan, jam menunjukkan waktu, kendaraan mengantarkan penumpang pada suatu tempat, mata untuk melihat, hati untuk merasa, kaki untuk berjalan, dan lainnya. Semua itu berjalan sesuai dengan kodrat penciptaannya, semua yang ada di dunia memiliki fungsi, tujuan dan alasan mengapa ia ada. Tak terlepas kita sebagai manusia termasuk di dalamnya. Ada tujuan, alasan dan hikmah tertentu mengapa manusia ada, mengapa kita ada, mengapa kita tercipta, mengapa kita terlahir di dunia. Dalam al-Quran secara jelas bahwa manusia tercipta hanyalah untuk menghamba kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. (QS. Adz-Dzariyat:56). Namun, kita tidak bisa memahami penghambaan makna dengan sempit, yaitu hanya dengan mengisi hari 24 jam dengan sholat, puasa, dan ritual ibadah semata. Banyak cara dan hal yang bisa kita lakukan sebagai aktualisasi penghambaan pada-Nya.

Segala sesuatu punya alasan tertentu, seseorang beragama Islam, Yahudi, atau Kristen pasti ada alasan tertentu.  Mengapa kita terlahir sebagai Muslim, pasti memiliki tujuan dan alasan juga hikmah tertentu. Mengapa ada Muslim dan kafir, mengapa ada orang pemalas dan rajin, mengapa ada orang kaya dan miskin, semua pasti memiliki alasan dan tujuan. Dengan adanya orang kafir, Muslim bisa berdakwah pada orang kafir bahkan berjihad dan syahid. Dengan adanya orang rajin, si pemalas bisa belajar dan termotivasi darinya. Dengan adanya orang miskin, si kaya bisa bersedekah dan beramal.

Segala sesuatu punya tujuan dan alasan tertentu, meski begitu, tujuan dan alasan tersebut mestilah sesuai kodratnya, berjalan di relnya, dan berada pada posisi yang pas dan benar. Apa jadinya jika sebuah jam tidak lagi menunjukkan waktu dengan benar?, apa jadinya jika kendaraan tidak mengantarkan penumpang pada tempat yang tepat?, apa yang terjadi jika tangan, kaki, mata, mulut manusia tidak berada pada tujuan yang benar dan baik?. Apa jadinya jika hati dan pikiran  manusia tidak lagi berjalan pada relnya? Surely, that'll make a huge chaos. Akan terjadi kekacauan besar bahkan bisa menyebabkan kehancuran.  Untuk itu, manusia yang mempunyai hati dan akal, harus mengetahui tujuan dan alasan keberadaannya dengan baik dan benar. Dengan begitu, ia akan berjalan pada posisi dan rel yang pas dan benar  dalam hidupnya. Tidak bingung atau merusak kehidupannya sendiri dan orang lain.

We have to be here for some reason and purpose

Seperti halnya segala sesuatu memiliki tujuan tertentu, di paragraph ini lah tujuan sebenarnya dari tulisan sederhana saya. Kita, keberadaan kita pada tempat yang kita pijak saat ini, pasti memiliki alasan dan tujuan tertentu. Melewati pulau, Negara, laut, benua dan samudera bahkan berpisah dengan kedua orang tua, kita akhirnya tiba di negeri ini, negeri yang kaya peradaban umat terdahulu. Negeri pusat referensi ilmu Islam, sebuah ilmu yang sudah sangat jarang orang mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh layaknya orang yang sangat berhasrat mempelajari ilmu-ilmu keduniaan dengan tujuan dunia –bukan bermaksud meniadakan dunia-. Pengorbanan harta dan tenaga orang tua agar kita mampu memijakkan kaki di sini, pasti memiliki tujuan dan alasan mulia.

Masing-masing keberadaan kita di sini pasti punya tujuan dan alasan tertentu. Tujuan masing-masing kita terangkum dalam satu tujuan besar, mengemban dakwah Islam. Karena satu-satunya yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan di dunia ini hanya dengan Islam. Dan dunia tidak akan pernah damai dan sejahtera dengan Islam, atau Islam sendiri tidak akan terlihat kekuatannya tanpa adanya orang-orang yang mau mengemban dakwah Islam, tanpa orang-orang yang mampu dan berani mengaktualisasikan kehidupan sehari-harinya, mengatur setiap urusan mereka dari hal yang kecil hingga skop yang besar dengan nilai-nilai universal Islam yang sempurna dan mulia. Siapa lagi yang akan percaya dengan Islam kalau bukan  kita umat Islam sendiri. Siapa lagi yang mau mempelajari Islam dengan pemahaman yang baik dan benar kalau bukan kita, yang sudah jauh pergi meninggalkan kampung halaman, orang tua, teman, saudara, bahkan kekasih tercinta untuk  belajar di negeri seribu menara ini.

So, what are we supposed to do here? What we really could be?

Kini, kita sudah tiba atau mungkin terlanjur tiba, keinginan kita mengecap pendidikan di Mesir sudah terealisasi. Sekarang, apa yang mesti kita lakukan? Apa sesungguhnya yang dapat kita lakukan di sini? Jikalau tujuan besar masing-masing kita adalah untuk Islam –dengan kata lain untuk ridha Allah-. Maka, tujuan-tujuan dan alasan-alasan peribadi masing-masing kita, harus bermuara pada ridha Allah, berada dalam rel dan nilai-nilai Islam.

Mereka yang sudah atau terlanjur muqayyad dalam jurusan Ushuluddin cabang tafsir, maka kuasai lah ilmu tafsir dengan baik dan benar, jangan pernah setengah-setangah apalagi berhenti berubah haluan karena ada hal lain yang berbau materi, karena keberadaan anda di sana adalah nanti untuk meluruskan syubhat-syubhat orang yang salah mentafsirkan al-Qur’an dengan hawanya. Begitu juga mereka yang sudah muqayyad di jurusan hadits, maka dalami lah, gali lah, kuasai lah ilmu hadits dengan baik dan benar, karena alasan mengapa anda berada di sana adalah untuk meluruskan orang-orang jahil yang mengaku-ngaku ahli hadits dan membentengi sunah Nabi dari orang-orang yang ingin menghancurkan dan menyebarkan syubhat serta kesesatan. Mereka yang berada di jurusan Syariah, bersungguh-sungguh lah mempelajari syariah, pahami lah, kuasai lah elemen-elemen dasar ilmu syariah seperti fikih, ushul fikih, dan berbagai elemen lainnya, agar nanti tidak berfatwa, mengeluarkan hukum yang sesat dan berakibat fatal sehingga memecah belah umat, agar nanti mampu memberikan pencerahan pada umat. Begitu juga yang sudah atau terlanjur muqayyad pada jurusan Syariah dan Qonun, pasti keberadaan anda di sana untuk sebuah tujuan dan alasan tertentu, dengan mendalami qonun anda pada akhirnya akan menemukan bahwa semua qonun wad’I/buatan manusia atau dari barat ternyata jiplakan dan modifikasi mereka dari hukum islam, metode penafsiran undang-undang, teori akad, faskh, metode deduksi hukum undang-undang banyak menyadur dari metode istinbath hukum Islam dari al-Quran dan Hadits. Hal senada juga untuk beberapa cabang keilmuan lainnya.

Begitu banyak masalah yang berkaitan dengan umat Islam saat ini, tidak hanya Islam, bahkan konflik yang ada di dunia ini bermuara pada agama. Semua permasalahan itu tidak lah mudah untuk diatasi tanpa kita yang memahami Islam dengan benar. Kalau kita sendiri yang rusak dan salah, maka siapa lagi yang akan mengawal Islam? Kalau kita sendiri yang tidak memahami Islam dengan baik, kalau kita sendiri malas belajar,  enggan mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam diri kita, apa yang terjadi 10, 20, hingga 50 tahun ke depan? Siapakah yang akan mewariskan keilmuan Islam? Apakah akan masih ada para ulama? Ataukah yang ada hanya ulama gadungan? Apakah cukup dengan buku-buku keislaman? Tidakkah kita melihat justru ada banyaknya buku keislaman yang bertebaran malah membuat orang awam dan bodoh membaca, memperlajari Islam dengan cara dan pemahaman yang salah?!

Mumpung kita masih di sini, banyak yang mesti kita gali di sini, waktu kita tidak cukup untuk menguasai semua yang telah diwariskan di sini, bumi para Nabi. Dan yang terpenting adalah pengembangan dan implementasi dari apa yang sudah kita dapatkan. Umat Islam terdahulu mampu meraih masa keemasan karena mereka mampu mengimplementasikan dan mengembangkan Islam, karena ilmu dan Islam bukan hanya sebatas di kepala apalagi sebatas angan-angan, tidak sebatas pada ucapan di mulut atau hanya goresan pena, tapi ada dalam tataran paktek, riil, usaha, kerja dan karya nyata. Dan karya atau kerja nyata yang saat ini mungkin bisa kita lakukan adalah dengan tekun belajar, menguasai pelajaran, untuk bekal diri sendiri, sebagai kahlian kita yang dengan sendirinya akan mendatangkan hal-hal yang tak terduga. Siapa sangka kita bisa meraih mumtaz dalam ujian? Siapa sangka kita nanti dapat beasiswa/minhah atau bahkan ketika tamat S1 mendapat tawaran kuliah di eropa, amerika atau malaysia? Siapa tahu nanti ada orang mempercayakan pekerjaan pada kita? Atau menjadikan kita menantunya? J

Yang terpenting adalah kita mesti percaya, orang yang benar-benar berilmu dan memiliki keahlian/skill tidak akan sengsara. Kita sudah berada di negeri Arab, maka prioritas utama pengembangan atau skill bahasa yang harus dipatenkan dalam diri kita adalah bahasa arab. Sangat lucu, orang kuliah di arab tapi masih gagap bahasa arab. Dan masih lumayan memiliki kekurangan dalam penguasaan bahasa arab tapi fasih bahasa inggris dari pada tidak punya skill memadai dalam bahasa arab dan inggris sama sekali atau justru lebih terampil berbahasa daerah. The last, percayalah, dimana posisi kita berada, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, pasti memiliki tujuan dan alasan  tertentu, maka tugas kita adalah menemukan dan menyadari tujuan dan alasan tersebut. Wallahu a’lam.


By: alamazharian
Selesai ditulis: 1:40 waktu Cairo
Di pusat kota Cairo, H 6.

Minggu, 18 Maret 2012

Islam is the only right way for human



Dalam bukunya ini Syekh Hasan an Nadwi menguraikan secara rinci sebab-sebab kemunduran kaum Muslimin, sejarah kejayaan Barat terutama sejarah Romawi dan Persia dan obat agar kaum Muslimin mencapai kejayaan kembali. Patut diungkap di sini tentang kutipan an Nadwi dari Iqbal dalam bukunya Parlemen Iblis. Dalam bukunya itu Iqbal mengungkap bahwa setelah parlemen Iblis bersidang tentang tantangan-tantangan mereka ke depan terutama terhadap system republic dan sosialisme, akhirnya mereka berkesimpulan bahwa semua system itu tidak berbahaya. Kecuali Islam, yakni umat Islam apabila mereka sadar akan kehebatannya. Iblis dalam sidang parlemen itu menyatakan:


“Aku tahu, bahwa umat Islam dewasa ini sudah banyak yang meninggalkan Al Qur’an dan sekarang sedang dirangsang oleh harta kekayaan. Mereka sedang rindu ingin menimbun dan menyimpan harta sebanyak-banyaknya, sama seperti umat manusia lainnya. Aku tahu bahwa malam di Timur amat gelap gulita dan akupun tahu bahwa para ulama Islam dan para pemimpinnya tidak mempunyai tangan putih yang memancarkan sinar cahaya yang dapat menembus kegelapan dan menerangi dunia. Akan tetapi aku khawatir sekali kalau-kalau cobaan dan ujian yang sedang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini akan dapat membangkitkan mereka dari tidur dan mengarahkan mereka kembali kepada syariat Nabi Muhammad saw. Kalian kuperingatkan, bahwa agama adalah agama yang tangguh melindungi pusakanya, pengawal kehormatan dan penjaga keselamatannya, agama keluhuran dan kemuliaan, agama kejujuran dan kesucian, agama kemanusiaan dan kepahlawanan, agama yang sedang berjuang menghapuskan segala bentuk perbudakan, melenyapkan sisa-sisa penghambaan manusia oleh manusia. Agama yang tidak membeda-bedakan antara si Tuan dan Budak, agama yang tidak mengistimewakan antara yang yang berkuasa dan kaum yang sengsara, agama yang dengan zakat membersihkan harta dari noda dan kotoran hingga menjadi jernih dan murni, agama yang menjadikan para pemilik harta sebagai manusia-manusia yang memperoleh kepercayaan Allah dititipi kekayaan.Cobalah Anda renungkan mana ada revolusi atau perubahan kekuasaan yang lebih besar bahayanya daripada yang akan dicetuskan oeh agama itu pada saat sudah mengusai alam fikiran dan menjiwai amal perbuatan manusia? Yaitu pada saat manusia sudah mulai berteriak: Bumi ini adalah milik Allah bukan milik raja-raja atau sultan-sultan!

Oleh karena itu kalian harus mencurahkan segala kekuatan untuk membuat agama itu tetap jauh dari pandangan manusia. Kalian harus giat bekerja agar setiap muslim lemah kepercayaannya kepada Tuhan, dan tipis keyakinannya terhadap kebenaran agama Islam. Adalah lebih baik bagi kita setiap orang Muslim terus menerus sibuk dan tenggelam menekuni ilmu kalan atau ilmu-ilmu ketuhanan (teologi) lainnya. Biarkanlah mereka sibuk mentakwilkan kitab Allah dan ayat-aat suci seenak sendiri. Tutuplah telinga orang Muslim rapat-rapat, karena dengan gema azan dan kumandang takbir ia dapat menghancurkan jimat-jimat dan mantera-mantera di dunia serta sanggup menggagalkan sihir kita. Kalian harus bekerja keras agar setiap orang Muslim tidur nyenyak lebih lama dan agar kesanggupannya datang terlambat.

Hai teman-teman, buatlah supaya setiap orang Muslim tidak bekerja sungguh-sungguh dan bermalas-malas, agar ia tertinggal dalam perlombaan di dunia. Adalah sangat baik bagi kita bila setiap orang Muslim menjadi budak orang lain, meninggalkan menjauhi dunia ini serta menyerahkannya kepada orang lain. Alangkah celakanya kita kalau umat Islam karena dorongan agamanya akan sanggup mengawasi dan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran!”

Kamis, 09 Februari 2012

Sistem Ekonomi Islam dan Kapitalis

Sistem Ekonomi Islam dan Kapitalis

Oleh : Muhammad Rakhmat Alam[1]

Pendahuluan

Keruntuhan dan lumpuhnya system ekonomi modern –kapitalis dan sosialis- disertai guncangan krisis berkala yang menimpa system ekonomi tersebut, secara jelas dan pasti perlunya memikirkan dan menemukan sistem ekonomi lain yang lebih mapan, tahan dan mampu membawa kesejahteraan serta keadilan. Dan sistem yang sedang mencuat saat ini adalah sistem ekonomi Islam.

Jack Ostri –ilmuwan ekonomi berkebangsaan Perancis- mengatakan: “jalan perkembangan ekonomi tidak terbatas pada dua sistem ekonomi yang sudah ma’ruf yaitu kapitalis (ra’sumali) atau sosialis (isytiraki), akan tetapi terdapat mazhab ekonomi ketiga, –ia merajihkan- mazhab ekonomi ketiga tersebut adalah ekonomi Islam. Ekonomi Islam akan memimpin dunia di masa mendatang, karena sistemnya yang sempurna dan integral serta sesuai untuk setiap masa dan zaman”.[2]

Pengakuan ini untuk membongkar sisi-sisi kekurangan yang terdapat pada mazhab ekonomi kapitalis dan sosialis. Karena pemikiran kedua ekonomi tersebut berasal dari kecondongan manusia, dimana kapitalis condong pada kepemilikan individu sedangkan sosialis condong kepada kepemilikan bersama. Selain itu, kedua mazhab ekonomi ini tidak menaruh perhatian terhadap nilai-nilai akhlak dan agama, tidak memperhatikan yang halal dan haram, adil dan zalim, akan tetapi hanya mementingkan bagaimana tercapainya manfaat dan keuntungan[3]. Berbeda dengan sistem ekonomi Islam yang komprehensif (kamil) dan universal (syamil) serta mejadi rahmat bagi semesta alam yang insya Allah akan dijelaskan pada pembahasan berikut .

Adapun pembahasan dalam makalah ini mencakup tiga sub pembahasan:

1.     Ta’rif atau definisi ekonomi Islam serta karakteristiknya.
2.     Prinsip atau unsur pokok ekonomi Islam.
3.     Sistem Kapitalis

I.      Definisi ekonomi Islam dan karakteristiknya

Pada sepertiga akhir abad 20, muncul ilmu baru yang menggabungkan studi fikih dan ekonomi dimana para peneliti menggunakan istilah “ilmu ekonomi Islam”. Hal itu ditetapkan pada konferensi internasional pertama ekonomi Islam di Makkah tahun 1976 M. Selepas konferensi tersebut perbankan Islam mulai tersebar ke seluruh dunia. Berbagai penilitian, pembahasan, buku-buku tentang ekonomi Islam pun banyak diperbincangkan.

1.     Definisi Ekonomi Islam.

Ekonomi Islam tersusun dari dua kata “Ekonomi” dan “Islam”. Ekonomi terambil dari lafadz Yunani yaitu “pengaturan urusan rumah tangga”[4], sedangkan dalam kamus arab ekonomi memiliki makna keseimbangan, pertengahan, moderat dan lurus. Dalam mafhum fuqaha, ekonomi merupakan suatu yang terkait dengan muamalah yang berhubungan dengan harta serta perilaku hidup yang bersumber dari dasar agama Islam.  Adapun kata Islam yaitu agama yang bersumberkan dari al-Qur’an dan Sunah.

Dari sini para ahli ekonomi Islam mendefinisikan ekonomi Islam sebagai “ilmu yang membahas metode pengaturan dan pemanfaatan sumber-sumber ekonomi yang terbatas yang diproduksi dalam bentuk barang dan jasa, untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas dan beraneka macam, dalam naungan nilai-nilai Islam, tradisi, dan kebudayaan suatu masyarakat”[5]. Ia juga merupakan ilmu yang membahas metode pendistribusian produk ekonomi yang kegiatan produksinya berdasarkan nilai dan prinsip Islam.


2.     Karakteristik Ekonomi Islam

Ekonomi Islam memiliki keistimewaan dengan ciri dan karaketristik khusus yang tidak didapati pada ekonomi kapitalis atau sosialis. Karena referensi ekonomi Islam adalah syariat Islam yang dilahirkan dari Sang Pencipta Allah SWT bukan dari pemikiran manusia. Syariat Islam dipenuhi dengan nilai-nilai universal, keutamaan dan adab seperti keadilan, kebebasan, musyawarah, kesabaran, tanggung jawab, dan independensi.

Di antara sifat dan karakteristik ekonomi Islam sebagai berikut:

a.      Ekonomi Islam adalah ekonomi ilahi/rabbani. Maksudnya adalah Allah SWT sebagai pembuatnya, sehingga dasar-dasar dan tasyri’ nya bersifat tetap dan tidak dapat dirubah atau ditukar seiring dengan peribahan zaman dan umat. Akan tetapi, pada bagian furu’ atau cabangnya tidak dilarang adanya interfensi manusia melalui ijtihad demi kemaslahatan umum. Karena ekonomi Islam bertumpu pada kaedah fiqih "أن الشريعة مبنية على التيسير ورفع الحرج" (syariat Islam dibina atas kemudahan dan mengangkat kesukaran)[6], dan berdasarkan firman Allah SWT “وما جعل عليكم في الدين من حرج  (Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama) {al-Hajj:78}.

b.     Ekonomi Islam adalah ekonomi ‘aqidi. Ini merupakan ciri terpenting, dimana dalam al-Qur’an dan Sunah lafadz akidah datang dengan lafadz al-Iman yang memiliki tujuan al-amn atau keamanan, Allah SWT menjelaskan, (orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk) {al-An’am:82}. Dan yang menunjukkan hubungan dan kaitan antara ekonomi dengan iman adalah firman Allah SWT, (dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan) {al-A’raf:96}. Dari ayat ini jelaslah bahwa iman dan takwa merupakan sebab utama majunya dan terwujudnya kesejahteraaan dalam ekonomi Islam.

c.      Ekonomi Islam adalah ekonomi akhlaqi. Maksudnya adalah seorang muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji yang diajarkan dalam al-Qur’an dan Sunah dalam setiap muamalahnya, diantaranya:
v Sifat amanah dan jujur dalam setiap muamalah dan interaksi. Allah SWT menerangkan, (wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui) {al-Anfal:27}. Kemudian dari Sa’id al-Khudri, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “pedagang yang amanah dan jujur bersama para Nabi, orang-orang jujur dan para syuhada”.
v Memperhatikan yang halal dan yang haram dalam melaksanakan aktifitas ekonomi, dengan melakukan apa yang dihalalkan dan menjauhi apa  yang diharamkan. Allah SWT berfirman, (dan Allah telaah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba) {al-Baqarah:275}.

d.     Ekonomi Islam adalah ekonomi waqi’i. Ekonomi Islam bersifat riil bukan khayalan, ekonomi Islam memiliki tujuan dan arah yang jelas karena prinsipnya selaras dengan realita manusia. Dalam pandangan Islam, manusia harus bersandar pada kemungkinan dan zuruf lingkungannya, dan manusia tidak dibebani dengan apa yang tidak dapat mereka sanggupi[7]. Dalam al-Qur’an dijelaskan, (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya) {al-Baqarah:286}.

e.      Ekonomi Islam adalah ekonomi syamil (universal). Ekonomi Islam tidak hanya mementingkan aspek materi, tetapi menjangkau aspek ma’nawi, spiritual dan akhlak serta mencakup seluruh kebutuhan manusia. Ekonomi Islam berusaha mengadakan kebutuhan pokok manusia seperti makanan, minuman, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, kebebasan dan kebutuhan lainnya dengan tetap menjaga hak-hak individu dan umum.

II.    Prinsip atau Unsur Pokok Ekonomi Islam

Ekonomi Islam berdiri atas tiga pondasi, yaitu:

1.     Milkiyah Muzdawijah (kepemilikan ganda).

Kepemilikan dalam Islam memiliki perbedaan esensi jika dibandingkan dengan sistem ekonomi lainnya. Dalam sistem ekonomi kapitalis kepemilikan terpusat pada pribadi atau individu. Seseorang memiliki hak milik dan penguasaan penuh dan mutlak terhadap sumber-sumber ekonomi dan kekayaan tanpa ada batas dan syarat, hatta jika itu bertentangan dengan maslahat umum. Kemudian kepemilikan dalam sistem ekonomi sosialis terpusat pada pemilikan bersama, yaitu pemilikan untuk seluruh masyarakat[8].

Adapun kepemilikan dalam Islam pada asalnya adalah milik Allah SWT. Dalam al-Quran dikatakan (dan milik Allah kerajaan langit dan bumi, dan Allah berkuasa atas segala sesuatu) {al-Imran:189}. Manusia hanya menjadi pengganti dalam kerajaan Allah di langit dan bumi dan mengelola serta memanfaatkannya demi keberlangsungan hidup. Karena itu, walaupun seorang muslim memiliki hak pemilikan, tapi ia harus tunduk dengan ketentuan syariat Islam. Manusia disyaratkan harus menjaga bumi dan langit Allah, mengelolanya dengan cara yang adil, tidak menyiakan dan merusaknya. Selain itu Islam juga memberikan wali amri atau pemerintah untuk melindungi, mengawasi dan menjaga sumber-sumber kekayaan alam untuk kepentingan umat.

Di samping itu,  Islam juga membolehkan kepemilikan bersama atau umum, dimana seseorang dilarang memilikinya karena terikat dengan kepemilikan bersama, dan harus memanfaatkannya secara bersama. Seperti jembatan, lalu lintas, dan taman-taman umum.

2.     Al-Hurriyah al-Muqayyadah (kebebasan yang dibatasi).

Asal muamalah dalam ekonomi Islam adalah mubah dan bebas kecuali jika ada nash atau dalil yang mengharamkannya. Maka, seorang muslim bebas melakukan muamalah yang ia sukai dan tidak ada yang melarangnya kecuali jika didapati hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam[9].

Kebebasan dalam Islam tidak mutlak atau absolute, tapi terkait dan dibatasi oleh nilai-nilai akhlak dan syariat. Jika terjadi pertentangan antara maslahat individu dengan maslahat umum maka didahulukan maslahat umum. Dalam ekonomi Islam dilarang menyia-nyiakan tanah, menimbun harta, memonopoli barang, riba, penipuan dan berbuat keburukan pada orang lain.  

3.     Al-‘adalah Ijtima’iyah (keadilan sosial).

Keadilan sosial merupakan salah satu asas ekonomi Islam, karena masyarakat sosial adalah makhluk terhormat dan mulia. Keluarga diikat dengan kasih sayang dan hubungan erat, masyarakat saling tolong menolong dalam kebaikan dan manfaat, yang kuat menolong yang lemah, yang berilmu mengajarkan yang bodoh.

Di antara contoh keadilan dalam Islam adalah adil dalam pendistribusian pendapatan. Islam mengharamkan penimbunan karena tindakan tersebut menjadikan harta berputar pada satu kelompok tertentu. Islam telah memberikan cara pendistribusian pendapatan atau kekayaan dengan cara mewajibkan zakat. Zakat diambil dari harta orang kaya kemudian dibagikan kepada para fakir miskin. Selain itu Islam juga menganjurkan sedekah, sehingga harta dapat dirasakan seluruh umat dan tidak ada kesenjangan sosial.

III.   Sistem Kapitalis

Kapitalisme merupakan sebuah ideologi terbesar dan terkuat saat ini, paham kapitalisme telah tersebar ke seluruh dunia. Ideologi ini telah masuk ke berbagai aspek kehidupan, seperti politik dan ekonomi yang kemudian menjadi sebuah teori dan sistem bagi dua aspek tersebut. Kekuatan dan kebesaran sistem kapitalis tak lepas dari kemenangan Amerika sebagai pemenang perang dunia II, kekuatan politik Amerika yang bercorak kapitalis telah mempengaruhi corak sistem politik dan ekonomi dunia. Untuk lebih jelasnya penulis akan mengupas secara ringkas sistem kapitalis seputar definisi, karakteristik dan kelemahannya.

a.      Definisi Sistem Kapitalis

Sistem Kapitalis adalah sistem yang dibangun atas kepemilikan individu sebagai unsur produksi, kebebasan pengaturan bagi individu dalam menjalankan kegiatan ekonominya dan kebebasan persaingan setiap usaha antara masing-masing individu dengan tujuan mendapatkan materi dan keuntungan sebesar-besarnya.[10]

b.     Karakteristik Sistem Kapitalis

1.     Kepemilikan pribadi sebagai unsur produksi[11].

Sebagaimana definisi di atas, kapitalisme dibangun atas kepemilikan individu, kepemilikan individu ini diakui dan dijaga oleh undang-undang. Setiap individu memiliki kebebasan mutlak mentasharufkan apa yang dimilikinya dan bebas mengeksploitasinya selama tidak bertentangan dengan undang-undang.

2.     Orientasi atau motif keuntungan[12].

Keuntungan adalah factor utama dalam menambah produksi, dan penggerak utama dalam setiap keputusan yang diambil oleh para pengusaha. Setiap pengusaha dalam sistem kapitalis bebas melakukan kegiatan ekonominya sesuai yang ia inginkan dan sesuai dengan maslahatnya tanpa melihat maslahat umum.

3.     Siyadatul mustahlik (kekuasan konsumen)

Maksudnya adalah jumlah produksi barang ditentukan dengan tingkat konsumsi dari konsumen atau selera pasar.

4.     Munafasah (persaingan)

Dalam sistem kapitalis para pedagang saling berlomba dan bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari penjualan barang dan jasanya, persaingan antara pedagang ini menyebabkan persaingan antara para konsumen, dan dampak dari persaingan ini adalah naiknya harga barang atau tidak ada keseimbangan harga.

c.      Kelemahan Sistem Kapitalis

1.     Adanya monopoli (ihtikar) dan persaingan ekonomi yang tidak sehat.

2.     Buruknya pendistribusian pendapatan dan kekayaan.

3.     Menambah pengangguran dan adanya krisis berkala.

4.     Kebebasan yang tak terkendali.

Penutup

Alhamdulillah makalah ini dapat penulis rampungkan sebagai syarat untuk mendaftar keanggotaan PAKEIS. Makalah yang sangat ringkas ini sedikit menjelaskan bagaimana karakteristik dan prinsip ekonomi Islam serta karakteristik sistem kapitalis. Dari pembahasan yang telah dipaparkan, kita dapat mengetahui bahwa Islam adalah agama yang sempurna, Islam telah memberikan dasar-dasar dan prinsip ekonomi yang mampu membawa kesejahteraan manusia karena ia datang dari Sang Pencipta. Dan itu sudah terbukti sejak 14 abad lalu, dan kini ekonomi Islam juga mampu melawan badai krisis yang terus menimpa sisem kapitalis. Moga pembahasan sederhana sebagai langkah awal untuk mengkaji dan menelusuri lautan ekonomi Islam yang terbentang luas, walau kebanyakan para cendikiawan lebih focus pada sector perbankan dan keuangan. Wallahu a’lam.


[1]  Penulis adalah mahasiswa fakultas syari’ah wal qonun, tingkat 2. Makalah ini ditujukan sebagai persyaratan penerimaan anggota PAKEIS 2012.
[2]  Mahmud al-Khalidi, Mafhum Iqtishad fil Islam, 1988, hal 28-29.
[3]  Ahmad Najjar, Madkhal ila nazariyatil iqtishadiyah fil manhajil Islami, cetakan II, Darul Fikr,  1974, hal 14-15.
[5]  Ibrahim fadhil, al-Iqtishadul Islami Dirasah wa tatbiq, cetakan I, Darul manahij, Yordan, 2008, hal. 16.
[6]  Hamid bin Abdullah al-Ali, Taysir ba’dil ahkam al-buyu’ wal muamalat, 1423 H.
[7]  Hamdi bin Abdurrahman Janidal, Minhajul bahitsin fil Iqtishad Islami, Jilid 1, Riyadh, 1406 H, hal. 13
[8]  Falaq Ali, Tamwil al-istimarat fil iqtishad Islami, 2002, hal. 13
[9]  Ridha Shahib Abu Hamid, al-Khutut al-Kubra fil Iqtishad Islami, Dar majdalawi, Yordan, 2006, hal. 29
[10]  Ali faisal ali anshari, al-furuq aljauhariyah bainal iqtishadil islami wa ar-ra’sumali, 2009, hal. 17
[11]  Yusuf Kamal, al-Islam wal mazahib al-Iqtishadiyah al-mu’ashirah, darul wafa’, hal. 30
[12]  Ibid, hal 32