Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2016

Keunggulan Mahasiswa Azhar Dibanding Mahasiswa Lain di Mata Dubes RI Helmy Fauzy


Keunggulan Mahasiswa Azhar Dibanding Mahasiswa Lain di Mata Dubes RI Helmy Fauzy. 

Kairo, Senin,13/juni/2016. 
Mahasiswa Indonesia di Mesir bertatap muka dan dialog santai bersama duta Besar Republik Indonesia di Cairo, Bapak Helmy Fauzy yang juga dihadiri oleh Ibu Dubes Dwi Ria Lathifa serta beberapa jajaran Homestaff KBRI Kairo.

Acara blusukan atau Safari Ramadhan disponsori oleh KBRI Kairo bekerja sama dengan perkumpulan Mahasiswa Sumatera, karena sehari sebelumnya juga dilaksanakan acara yang sama namun khusus untuk perkumpulan mahasiswa Jawa. Blusukan Ramadhan dilakukan rotasi disebabkan tak adanya tempat yang cukup menampung seluruh mahasiswa. 

Sabtu, 11 Juli 2015

Apakah Maksud Penegakkan Syariah?


Kesalahan pemahaman orang awam zaman sekarang tentang Islam adalah beranggapan bahwa Islam itu hanyalah masalah syariat/syariah. Padahal Islam itu luas mencakup akidah, syariah dan AKHLAK/ADAB. Menyebar kabar dusta, menyebar aib orang, menuduh orang lain tanpa bukti, berfikir negative pada orang lain & menghina itu bukan akhlak Islam!!! Selain itu Menuduh orang muslim sebagai orang kafir, sesat, munafiq dan musyrik tanpa bukti yang jelas dan dibenarkan bukanlah akidah Islam!!!

Selanjutnya kesalahan pemahaman orang-orang awam tentang Syariah adalah beranggapan bahwa syariah itu hanyalah permasalahan Hudud dan Qishas, padahal Syariah itu luas mencakup seluruh pembahasan dalam Fikih Islami seperti: Ibadah (sholat, zakat, puasa, haji), muamalah (jual beli dll), Ahwal syakhsiyah (pernikahan, warisan dll), Jinayat (hudud, qishas, bughat), Qadha' (Peradilan), dan Jihad.

Senin, 22 Juni 2015

ISLAM Nusantara


Tentang "ISLAM Nusantara"
Kalau maksud “Islam Nusantara” itu (praktik) Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan: selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat.
Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Al-Qur’an dan Hadits. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya. Yang wajib kita ikuti adalah agama: aqidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.
Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.
"Prof. Dr. Ali Mustafa Ya'qub"

Selasa, 29 April 2014

Tanggung jawab Warga Negara dalam Pemilu “Perubahan Ada di Pundak Anda”





Pemilu legistlatif 2014 hampir berada di depan mata, seluruh mata rakyat Indonesia akan tertuju pada salah satu pesta akbar demokrasi di Indonesia.  Wajah-wajah baru calon wakil rakyat mulai bermunculan di tengah hiruk-pikuk kampanye yang cukup membuat perhatian rakyat tersita. Di tengah krisis kepercayaan rakyat pada para pejabat Negara yang sudah tak lagi amanah, saya meyakini bahwa seluruh rakyat Indonesia masih menaruh harapan-harapan baru untuk kemajuan bangsa tercinta. Saya meyakini bahwa seluruh rakyat Indonesia pasti menginginkan perubahan Indonesiake arah yang lebih baik, Indonesia yang lebih maju dan kuat, baik dalam perekonomian, pemerintahan, peradilan dan penegakkan hukum, keamanan dan ketahanan negara serta tatanan sosial.

Minggu, 06 Oktober 2013

KARENA ILMU ADALAH CAHAYA


"Faith is both a rational position and an outflowing of emotion - each essential to the other / الإيمان موقف عقلي و عاطفة فياضة لا غنى لأحدهما عن الآخر"  "Syekh Al-'Allamah Bin Bayyah.

Berhati-hatilah dengan pengajian-pengajian keagamaan, training-training yang hanya memainkan emosional, jiwa alam bahwa sadar, perasaan dan semangat mengebu-gebu dan keluguan kita. Berhatilah-hatilah dengan cerita-cerita keagamaan yang menyihir emosional kita. Tetap fungsikan akal dan pikiran anda disamping menggunakan jiwa emosional kita.

Banyak pengajian-pengajian keagamaan atau training-training yang dihadiri banyak orang, mulai dari pejabat, orang kantoran, ibu-ibu, pemuda-pemudi dan sampai anak kecil, bahkan sampai mengeluarkan uang jutaan dan puluhan juta rupiah. Para hadirin yang hadir ketika pengajian itu sampai ada yang menangis, seakan bertobat nasuha, ada juga yang sampai mau menyedekahkan seluruh uangnya yang dibawa, ada juga yang sekedar ketawa-ketawa. Tapi ketika pulang dari pengajian tersebut, para pejabat tersebut masih tetap korupsi, main perempuan dan bohongi rakyat, para ibu-ibu masih banyak yang ngegosipin aib orang lain dan bermegah-megahan, pemuda-pemudi masih banyak pacaran sampai zina dan kenakalan remaja lainnya. Yang udah sedekah semua hartanya ketika pengajian pulang-pulang nyesel karena istri sama anak di rumah belum makan, besok anaknya mau bayaran sekolah, biaya listrik rumah belum bayar dll.

Banyak pengajian yang menyuruh memotivasi sholat jama'ah, perbanyak sholat sunnah, puasa sunah, zakat, sedekah, tilawah qur'an, menyuruh membela Islam menyuruh jihad tapi tidak memberikan ilmu yang memadai tentang itu semua kepada para jama'ahnya,  tidak dilandasi ilmu yang mendasar dan pemahaman yang benar, tidak mengerti fikih sholat, fikih zakat, fikih puasa, fikih muamalah, tak mengerti cara baca qur'an yang benar, tak tahu fikih jihad yang benar, tak tahu tentang ajaran agama Islam yang benar karena tak diberi ilmu yang benar. Bisanya cuma semangat yang gak jelas tanpa dilandasi ilmu yang kokoh. Maka tak heran, banyak muslim yang gampang dipermainkan dan diadu-domba, didoktrin oleh oknum-oknum tertentu demi kepentingan kelompok oknum tersebut. Tak heran juga, kadang kita menemukan pemahaman dan praktek-praktek ibadah dan keagamaan yang menyimpang oleh masyarakat muslim Indonesia. Kita menemukan syi’ar-syi’ar keagamaan tapi hakikatnya jauh dari nilai-nilai agama itu sendiri.

Jadilah muslim yang cerdas, ikutilah pengajian para ulama dan majlis ilmu, fungsikan akal di samping emosional anda. Dalilnya, banyak ayat Qur’an yang mengatakan "apa kamu tidak berakal?, tidak memahami?, tidak berfikir?  dll". Karena itu, sejak zaman Rasulullah, sahabat dan para tabi'in pengajian agama Islam itu punya buku2 pegangan yang jelas, pengajian fikih memiliki kitab-kitabnya yang terpercaya, pengajian akhlak, akidah ada buku pegangan terpercayanya, belajar hadits dan tafsir qur'an ada kitab-kitab terpercayanya yang dipakai para ulama dari dahulu hingga sekarang.

Pengajian Islam bukan sekedar menarik emosional jama’ah yang menyuruh rajin ibadah, memperbanyak sedekah, sholat sunah, puasa sunah, dll. Pengajian Islam yang benar adalah memberikan ILMU KARENA ILMU ADALAH NUR/CAHAYA, ILMU adalah pondasi IBADAH. Kalau pengajian dalam Islam itu hanya sekedar motivasi-motivasi emosional, untuk apa para imam-imam mazhab, para ulama salaf mengarang kitab-kitab ushul fikih yang rumit dan mengajarkannya, mengarang kitab fikih dan mengajarkannya, mengumpulkan hadits dan mengajarkannya, menafsirkan al-Qur'an dengan ilmu-ilmu alat serta mengajarkannya, menulis buku tentang akidah dan akhlak dan mengajarkannya???

Kalau hanya dengan rajin sholat sunah, puasa sunah, banyak sedekah, banyak tilawah dan ibadah-ibadah lainnya menjadikan kita paling mulia dan tinggi derajatnya, untuk apa Rasulullah SAW mengatakan dalam haditsnya "Keutamaan orang berilmu /'alim atas orang yang banyak ibadah/'abid seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian"???

Kalau orang yang paling banyak ibadahnya itu yang paling takut dan bertakwa pada Allah untuk apa ada ayat Qur'an "sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ULAMA/orang yang berilmu"?? mengapa bukan "'UBADA/para ahli ibadah" saja??? Karena nilai ibadah seseorang bukan dilihat kuantitasnya, tapi dari kualitasnya, karena berbeda ibadahnya seseorang dengan ilmu dengan ibadahnya orang yang tidak berilmu. Dan Allah SWT sudah menegaskan dalam ayat suci Al-Qur’an “"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui" (QS. az-Zumar : 9).

Pintar-pintarlah memilih guru pengajian, dari mana dia belajar, kepada siapa belajar dan menimba ilmu, buku apa dan buku karangan siapa yang dia baca,  bagaimana dia menimba ilmu, jangan cuma liat pakainnya, banyak ibadahnya, senyumnya yg manis, kata-katanya yang menggugah, walau itu semua tetap penting.

Hadirilah pengajian yang memberi anda kail dan pancingan untuk mencari ikan, bukan pengajian yang cuma ngasih makan anda ikan. "Jika anda mememberi ikan, anda hanya bisa membuat orang lain kenyang sehari, tapi jika anda memberi orang lain kail/alat pemancing dan mengajarkan penggunaanya maka anda telah memberi makan orang lain sepanjang hidupnya".

Sabtu, 04 Mei 2013

Hukum Tahlilan, Pandangan Islam tentang Tahlilan 7 dan 40 Hari.


Jawaban moderat ilmiah saya tentang hukum tahlilan 7 atau 40 hari. Bagaimana pandangan syariah sebenarnya mengenai tahlilan ini?


Sebelum menghukumi sesuatu, hal pertama yang harus dilihat adalah tashawur atau gambaran dan prakteknya.



Gambaran atau praktek tahlilan biasanya dilakukan pasca kematian seseorang, atau mengingat kematian seseorang, adapun hal-hal yang biasa dilakukan adalah, baca surah yasin, berzikir bersama (kadang dgn suara ringan atau keras), makan bersama(kadang-kadang), sedikit tausiyah dari ustadz, diakhiri dengan do'a. Kadang dilakukan sekali, ada yg 7 hari berturut2, bahkan sampai 40 hari atau lebih.
Nah, setelah mengetahui praktek dan amalannya. Baru dilihat adakah dalil umum atau khusus tentang tahlilan tersebut. 
Setelah dicari, ternyata ada dalil umum yang membolehkan. 
-Dalam ayat al-Qur'an;
"dan berbuat kebaikanlah kalian" kebaikan di sini bermakna umum, mau mendirikan wc umum gratis silahkan sekalipun nabi Muhammad tidak pernah membuat wc umum gratis.
"dan berdzikirlah pada Allah sebanyaknya" dzikir di sini juga bermakna umum, mau menyebut nama Allah atau sifatNya sampai seratus, seribu, atau berapapun silahkan tidak ada yang melarang.
"bacalah (ayat/surah) yang ringan dari Al-Qur'an", jika surah yasin ringan silahkan baca berapa kali pun, kapanpun waktunya asal anda sanggup.
"dan berinfaqlah dari rezeki yang telah Kami berikan padamu" ,memberi atau menghidangkan makanan pada orang lain termasuk menginfaqkan rezeki, mau memberi tiap hari, tiap jum'at, tipa bulan pada orang lain tidak apa2.
“ Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian", 

-Dalam hadis nabi Muhammad Saw. Juga banyak dianjurkan melakukan perbuan baik, memberi makan saudara, mengingat mati, perbanyak zikir dan do'a dll.

#Syubhat orang-orang dungu:
-Ada orang dungu yang mengatakan tahlilan haram, bid'ah, pelakunya masuk neraka jahannam. 
Mereka orang dungu mengatakan kenapa hanya baca yasin ketika tahlilan, itu bid'ah!. Saya jawab: kalau orang dari kecil sampai mati sholat jama'ahnya di satu mesjid tidak pindah2 apa bid'ah juga?? kalau orang dari kecil sampai mati bacaan sholatnya cuma surah al-ikhlas dan an-naas aja apa juga bid'ah?? :-D
Mereka mengatakan kenapa pakai batasan waktu 7 atau 40 hari, itu bid'ah!. Saya jawab: kalau orang mau puasa nazar 7 hari, 40 hari apa bid'ah juga? kalau orang membiasakan atau memajibkan dirinya tiap hari baca 1 juz Alqur'an apa bid'ah juga?? Kalau tempat tahfidz membatasi setor hafalan Alqur'an tiap hari serubu' apa juga bid'ah?? Kalau orang memberi makan anak yatim tiap jum'at apa bid'ah juga?? Membatasi waktu belajar dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang apa bid'ah juga?? Membuat aturan belajar pakai seragam apa bid'ah juga??
Mereka mengatakan, kenapa zikirnya keras2? Allah itu tidak tuli. Saya jawab: anda demo palestina atau demo lain2nya pake teriak2 takbir Allahu Akbar apa gak bid'ah itu??

Jawaban saya dengan kembali bertanya adalah karena pertanyaan orang2 bodoh di situlah letak kunci jawabannya. :-D

#Berlebihannya dan jahilnya orang yang tahlilan.
-Kadang orang2 yang tahlilan ini juga salah dan berlebihan. 
Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa tahlilan setelah kematian adalah wajib, jika tidak melakukannya berdosa, memandang buruk orang yg tidak tahlilan, padahal itu hukumnya sunah(berpahala jika dikerjakan, tidak berdosa jika tidak dikerjaan).
Ada di antara mereka yang memaksakan diri sampai mengutang untuk hidangan makanan, padahal Allah tidak suka membebani hambaNya untuk hal yang tidak sanggup. Agama Islam itu mudah. Islam menganjurkan melakukan hal yang prioritas.

Intinya, jangan mengira tahlilan itu bid'ah dan haram, jangan menuduh orang yang yang tahlilan pelaku bid'ah &sesat. Juga jangan menganggap orang yang tidak tahlilan juga sesat dan berdosa. Karena tahlilan itu hukumnya sunah.
Wallahu a'lam.

Rabu, 29 Juni 2011

Soeharto dan Husni Mubarak, Kembar tapi Beda

 

Mengenai revolusi di Mesir, ternyata ada banyak persamaan antara pemerintahan Soeharto di Indonesia dengan Mubarak di Mesir. Meski pun begitu, ada beberapa perbedaan antara keduanya. Ingin mengetahui lebih lanjut? Ikuti tulisan di bawah ini.


Bentuk Persamaan:
1.       Soeharto dan Mubarak sama-sama Jendral Militer.
2.      Sama-sama memimpin selama tiga decade, Soeharto (1968 s/d 1998), Mubarak (1981 s/d 2011).
3.      Sama-sama lengser karena revolusi para rakyat yang umumnya adalah pemuda.
4.      Sama-sama Raja Korupsi, walau di Indonesia lebih parah sampe ke anaknya yang mengintervensi sebagian besar transaksi bisnis dan perdagangan penting.
5.      Sama-sama berharap mewariskan kursi presiden ke anaknya walau pupus di tengah jalan.
6.      Kekuasaan ada pada satu lembaga atau satu tangan yaitu Presiden.
7.      Sama-sama melakukan praktek pengaturan suara dalam pemilu baik legislative maupun eksekutif.
8.      Hmmm,,,sama-sama udah gaek dan beruban serta sakit-sakitan.
9.      Sama-sama ada perkelahian etnis atau agama pasca revolusi.

 Bentuk Perbedaan:
1.      Situasi di Indonesia lebih sulit dan kompleks dibanding Mesir, mengingat banyaknya pulau (17 ribu pulau dan 6000 yang dihuni), etnis dan keragaman suku, budaya dan agama di Indonesia menyebabkan banyaknya perang etnis serta kemunculan kaum separatis. Akibatnya pasca reformasi banyak terjadi perang etnis di Indonesia, contohnya Suku Dayak dengan Madura, perang Kristen dengan Islam di Poso, kaum separatis di Aceh, Maluku, Papua dan Timor-Timur. Berbeda dengan Mesir yang dengan cepat menyelesaikan konflik agama, etnis dan mazhab.
2.       Dari no 1, kita dapat mengetahui bahwa Soeharto ketika itu memakai system sentralisasi sedangkan Mubarak di Mesir mengunakan system desentralisasi.
3.      Keadaan ekonomi Mesir relative stabil disbanding dengan Indonesia yang jauh merosot tajam.
http://sosok.kompasiana.com/2011/06/29/soeharto-dan-husni-mubarak-kembar-tapi-beda/http://sosok.kompasiana.com/2011/06/29/soeharto-dan-husni-mubarak-kembar-tapi-beda/

Bangkitkan Jiwa Rakyat Indonesia Lewat Film Kolosal



Semua kompasianer pasti tahu Ip Man bukan? Ksatria China yang berjuang melawan imperialis dan colonial Jepang, pendekar China yang menguasai teknik wingchun. Semua kompasianer juga pasti tahu dengan Wong Fei Hung (bener gak ya tulisannya? Hehe), pahlawan China dan bapak kungfu dunia. Dan mungkin masih banyak pahlawan-pahlawan China yang kita ketahui detai dengan sejarah-sejarahnya. Dan darimanakah kita tahu? Tentu dari film-film epic kolosal China yang mengkisahkan mereka.


Namun, saya tidak akan berlama-lama di pahlawan dan film China ini. Saya ingin berlama-lama dengan perfilman Indonesia. Hmm, rasanya semua udah pada tahu bagaimana arah dan orientasi perfilman di Indonesia saat ini. Kalo tidak horror ya cabul, bener gak? Walau ada satu-satu film kolosal Indonesia, seperti Sang Pencerah. Kalau dulu jaman 90-an, (saya masih kecil) mungkin kita pernah nonton Cut Nyak Dien, Si Pitung, Fatahillah dan Sunan Wali Songo. Tapi sekarang? Sangat jarang, padahal film epic kolosal ini sangat bagus dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Coba bagaimana perasaan anda sehabis nonton film Sang Pencerah? Bagi Muslim Indonesia pasti bangga dan semangatnya berapi-api serta tercerahkan. Bagaimana seandainya dibuat film kolosal Gajah Mada, Diponegoro, Imam Bonjol, dan pahlawan-pahlawan super Indonesia lainnya? Bisa dipastikan jiwa-jiwa kebanggaan sebagai warga Indonesia dan jiwa keberanian akan semakin tumbuh dan besar. Bukannya jiwa-jiwa penakut akibat nonton film suster ngesot, jiwa-jiwa daan pikiran kotor akibat nonton Miyabi Naik Delman dsb.

Memang, kendala pembuatan film epic kolosal membutuhkan dana yang sangat besar, tapi kita harus akui apalah arti uang besar jika  dibanding dengan jiwa-jiwa pemuda dan rakyat Indonesia yang besar dan percaya diri seperti tingginya kepercayan diri orang China? Lihatlah China sampai saat ini mampu menguasai ekonomi dunia, karena apa? Karena kepercayaan diri mereka yang tinggi, jiwa-jiwa dan mental mereka yang besar. Disebabkan apa? Karena mereka selalu memegang teguh prinsip dan nilai luhur kebudayaannya. Contoh lain adalah Jepang, secanggih apa pun jepang, mereka tidak pernah menanggalkan kebudayaan dan melupakan sejarah mereka.

Sekarang, saatnya sineas-sineas Indonesia berkreasi dan berkontribusi untuk bangsa, jangan hanya ingin meraup keuntungan dana, tapi merugikan jiwa rakyat Negara. Dari pihak pemerintah juga harus ada kucuran dana bagi sineas-sineas Indonesia yang ingin membuat film epic kolosal pahlawan atau sejarah besar Indonesia. Ingat!!! Kita juga bangsa besar, tak ada bedanya dengan China dan Jepang! Banggakan budaya dan sejarah Negara sendiri, ngapain bangga-banggain budaya dan sejarah Negara lain! Cukup kita mengambil nilai-nilai kebaikan dari kebuyaan Negara lain.

Selesai ditulis 02.45 waktu Cairo, 27 Juni 2011.

Potret Pendidikan Indonesia: “Yang Benar yang Jadi Korban”



Sepertinya sudah menjadi sunatullah bahwa dimana ada kebenaran di situ ada kejahatan, dimana ada kejujuran di situ ada kebohongan. Miris, mungkin ini kata yang tepat untuk mengomentari apa yang sedang terjadi di negeri ku. Walau aku jauh di sini, tapi hati dan pikiran ku selalu memikirkan mu wahai negeri ku. Bulan lalu, sempat terjadi kasus menghebohkan, Siami, seorang Ibu siswa SD di Surabaya mengadu ke Dinas Pendidikan Surabaya bahwa anaknya disuruh oleh salah seorang guru bahkan dari kepala sekolah untuk memberikan contekkan kepada siswa lain ketika Ujian Nasional.


Beruntung dan Alhamdulillah, pemerintah kota Surabaya segera membentuk tim independen untuk mengusut kecurangan dalam UN tersebut. Dari temuan tim, terbukti salah satu SD di kota besar itu (moga tidak di seluruh Indonesia) telah terjadi praktek contek masal. Alhasil, kepala sekolah dan beberapa guru tersebut didepak dari sekolah tanpa hormat. Hmm,,, moga pemerintah Surabaya melakukan ini dengan niat ikhlas bukan cuma sekedar memperbaiki citra pendidikan di kota nya, mengingat berita skandal contek massal di SD tersebut sudah terlanjur tersebar media karena kejujuran Siami di tengah kebohongan jama’ah yang menyelimuti institusi pendidikan di sana (moga tidak di seluruh Indonesia).

Kemudian dimana letak mirisnya? Letak yang sangat membuat saya miris mungkin juga anda adalah masyarakat atau warga sekitar SD tersebut melakukan aksi tidak bertanggung jawab kepada Siami. Siami yang seharusnya mendapat dukungan atas keberaniannya mengatakan yang haq/benar justru menjadi bulan-bulanan warga sekitar, Siami yang jujur justru dipersalahkan karena telah menyebabkan guru dan kepala sekolah SD tersebut dipecat serta telah mencoreng nama baik daerah tersebut. Bahkan dalam berita Siami yang meminta maaf atas perbuatannya. Yang jujur malah menjadi korban, sungguh ironis. Sudah separah inikah potret pendidikan negeri ku?

Sungguh berbeda 180 % dengan ujian di tempat ku menimba ilmu sekarang, Al-Azhar, Mesir. Jangankan mencontek, ketahuan sedikit melirik kertas ujian bisa langsung dirobek di tempat tanpa ada kata ampun. Tapi di negara ku tercinta, si guru yang sudah berpuluh-puluh tahun mendapat pendidikan, dengan tanpa bersalah dan berdosa membolehkan praktek haram dan kecurangan bahkan sampai menyuruh siswanya yang masih lugu dan bersih untuk melakukan hal-hal kotor yang dilarang baik secara norma sosial atau agama. Guru macam apa itu, begitu juga warga yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus dibela dan mana yang harus dilawan. Mau dikemanakan bangsa Indonesia jika guru-guru seperti masih berkeliaran di daerah-daerah kita? Mau dikemanakan Indonesia jika warga nya masih berpikiran dan berperilaku seperti ini? Apakah pendidikan negara ini ingin terus mencetak Gayus-gayus baru? Melinda-melinda baru? Nazaruddin-nazaruddin baru? Mafia-mafia pemerintahan baru? Ya Rabb, moga itu semua hanya mimpi.
Salam rindu dari Cairo as always.

Rabu, 08 Juni 2011

Pak habibi, We Love and Proud of You “Kisah Inspiratif Habibie”



Kemarin malam 6 Juni 2011 adalah hari yang tak kan terlupakan oleh ku, untuk kedua kalinya sejak ku bertemu manusia super itu di kala kecil. Ketika aku berumur 8 tahun, aku dengan ayah ku tercinta menghadiri acara ulang tahun dirgantara yang memamerkan atraksi pesawat. Di tengah-tengah kerumunan orang-orang penting, dan suara pesawat yang berlalu lalang berputar-putar bak halilintar aku melihat sosok manusia yang sangat menginspirasi ku dari kejauhan. Namun kini, aku dapat melihatnya dan bertatap muka dari jarak dekat, begitu dekat. Dia adalah Prof. Dr. Ing. B J Habibie, yang diumur 24 tahun meraih master, dan meraih doktor pada umur 28 tahun.

Eyang, begitulah ia memperkenalkan dirinya pada kami, mahasiswa Indonesia di Mesir dalam acara dialog umum dengan tema “Indonesia Pasca Reformasi dan Peran Lulusan Azhar”. “Saya sudah berumur 75 tahun, jadi panggil saya dengan Eyang”, ucap beliau dengan senyuman indah. Kami, seluruh mahasiswa merasa begitu dekat dengan beliau, dengan ketawadhu’an Pak habibi meminta izin pada kami untuk berdiri, padahal hampir semua hadirin dalam keadaan duduk. Inilah presiden kita tahun 1998-1999 yang mampu menekan inflasi saat Indonesia diterpa gejolak politik dan ekonomi, presiden kita yang satu-satunya pakar teknologi. Sebelum itu, sempat diputar lagu Nasioanal Indonesia Raya, hmm… sudah 2 tahun aku tidak menyanyikan lagu ini, sungguh menggetarkan jiwa dan raga.

Sebelum acara dialog ini, beliau sempat menghadiri diskusi yang disiarkan secara live oleh salah satu stasiun televisi terkenal di dunia Al-jazeera selama 5 jam. Acara dialog ini lebih banyak bercerita, Pak habibi banyak mengkisahkan kisah hidupnya yang sangat menggugah. Diantara yang terekam lekat otak ku adalah sebagai berikut:

“Jika Allah memanggilku dan bertanya padaku, wahai Habibie pilihlah salah satu dari pilihan ini. Mana yang kau pilih antara Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek) atau iman dan takwa(Imtak). Maka dengan seketika saya menjawab Imtak, namun ternyata Allah memberikan dua keistimewaan itu pada saya”

Semua hadirin bertepuk tangan, bangga dan salut dengan orang tercerdas di Indonesia ini. Di balik kecerdasannya ternyata beliau adalah orang yang religius, kecerdasan tidak menjadikannya lupa pada siapa yang telah menciptakan dan memberikan anugerah otak jenius padanya. Ia bahkan rutin menjalankan puasa senin dan kamis, sebagai mana kisah percakapannya dengan Pak Soeharto:

“Ayolah Habibi, buat pesawat di sini (Indonesia), kapal, rel kereta, dan lain-lainnya agar orang Amerika dan Eropa itu tidak meremehkan Islam, karena dalam pandangan mereka Islam adalah penghambat kemajuan teknologi di negara ini, rayu Pak Harto. Kemudian Pak Habibi menjawab, kenapa saya? Bukankah ada yang lebih tua dari saya? Karena saya tahu kamu seperti apa, kamu orang yang sholeh, puasa senin dan kamis tidak pernah tinggal, lihat saja nama mu, Baharudin Jusuf habibi, tapi ingat, kamu boleh buat dan bangun apa saja di negara ini, asal jangan buat revolusi, tambah Pak Harto”.
Dalam suatu forum perkumpulan para ilmuwan, Habibi pernah ditanya apa beda Islam, Yahudi, dan Kristen? Habibi menjawab:

“Yang terpenting dari agama itu ada 2 pertanyaan; Pertama, Allah/Tuhan itu siapa? Kedua, Allah/Tuhan itu untuk siapa? Kalau Islam jelas, yang pertama Allah/ Tuhan itu tidak punya anak, saudara, ayah, dan ibu dll. Yang kedua, Allah itu untuk seluruh makhluk hidup, siapa saja yang percaya atau tidak percaya.”

Jawaban singkat dan padat, pertanyaan dan jawaban pertama adalah untuk membedakan Islam dengan Kristen, karena dalam Kristen ada Tuhan bapak, ibu dan anak. Sedangan pertanyan dan jawaban kedua adalah untuk membedakan Islam dengan Yahudi, karena bagi Yahudi, Tuhan itu hanya untuk orang Yahudi yang keluar dari rahim ibu Yahudi saja.

Suatu hari beliau pernah mendapat penghargaan, dia adalah satu-satunya orang muslim, mungkin orang asia yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ketika akan memberikan kata sambutan beliau mengucapkan salam didepan para ilmuwan dan orang-orang penting yang hampir seluruhnya adalah beragama non Islam, kecuali istrinya Alm. Ibu Ainun.

“Bismillahirrahmanirrahiim, Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh”

Kemudian ia melanjutkan sambutannya dengan menyampaikan bahwa pendidikan itu adalah hak seluruh warga dunia, tidak ada alasan dikriminasi terhadap ilmu pengetahuan, kaya, miskin, ras atau segala macam lainnya. Begitulah kira-kira yang ia sampaikan.

Selesai ia sambutan, seluruh hadirin berdiri dan bertepuk tangan takjub.

Acara selesai, para wartawan rebutan menghampiri Habibie. Ada wartawan BBC, kalau tidak salah menanyakan “Saat organisasi ilmuan ini didirikan, saat itu anda berada dimana? Dan sedang apa?”

Habibie menghitung mundur, organisasi itu telah berdiri 50 tahun yang lalu. Rupanya waktu itu baru berusia 8 tahun. Ia pun menjawab pertanyaan wartawan tadi.

“waktu itu saya masih usia 8 tahun, tinggal disebuah rumah yang kiri kanan nya adalah hutan, jika waktu itu didirikan jam 8 pagi waktu setempat, maka saat itu di daerah saya pukul 10 malam. Saat itu saya sedang mengaji.”

Spontan wartawan itu berkata “incredible (luar biasa).”

Subhanallah! Rupanya pendidikan agama itu telah ditanamkan orang tuanya sejak ia kecil. Dan pendidikan itu rutin ia lakukan sehingga ia hapal betul apa aktifitasnya sehari-hari.

Habibie bercerita juga tentang sosok istrinya. “dua ibu yang menjadi rahasia kesuksesan saya adalah Ibu saya dan Ibu yang mendampingi hidup saya (maksudny adalah Ibu Ainun)” cerita beliau.

Tradisi membaca Al Qur’an menjadi aktifitas yang tak tertinggal dalam sosok ibu Ainun. Beliau selalu menemani sang suami dalam aktifitas dan kerjanya.

“Kalau saya sibuk dalam aktifitas, tidak ada kedengaran musik atau lagu rock. Yang terdengar hanya suara istri saya mengaji. Beliau selalu menunggu saya sambil membaca alqur’an, sedangkan saya sibuk mengerjakan proyek.”

Mungkin aku satu dari ribuan mahasiswa yang hadir yang takjub dan kagum dengan beliau. Beruntung Indonesia memiliki beliau, kalau tidak, mau dikemanakan muka Indonesia dan umat muslim.

Mungkin kalau boleh saya mengusulkan, beliau diberi gelar bapak teknologi Indonesia. Habibi… oh Habibie… moga ilmu mu untuk Indonesia dan dunia adalah amal jariah besar mu. Moga nanti kau ready to go His paradise to see your wife again. We love and proud of you.