Selasa, 02 Agustus 2011

Serba-Serbi Ramadhan ala Mesir Bag.1 (Maidah ar-Rahman)



Segala puja dan puji bagi Allah SWT yang telah mengizinkan ku kembali bertemu tamu yang mulia bulan Ramadhan, Syahru Shiyam. Ramadhan kali ini adalah ramadhan yang ketiga sejak aku menapakkan kedua kaki ku di negri seribu menara ini 2009 silam, juga ramadhan yang ketiga kalinya tanpa berkumpul dengan keluarga tercinta. Pesona ramadhan di bumi kinanah ini hampir tidak ada yang berubah dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal-hal baru dan menarik yang ku dapati situasi ramadhan di Mesir yang tidak ku dapati di Negara ku Indonesia. Salah satunya adalah apa yang dikenal Maidaturrahman atau terjemahan bebasnya hidangan Yang Maha Pengasih.


Maidah ar-Rahman merupakan budaya atau adat yang baru ku kenal dan sangat asing sepanjang ramadhan. Maidah ar-Rahman adalah hidangan untuk berbuka puasa yang dijajakan di pinggir dan sepanjang jalan atau di Mesjid yang bebas bagi siapa pun untuk mencicipi dan menikmatinya alias majaanan/gratis. Hidangan ini mungkin didanai oleh donatur yang kaya, bisa jadi individu atau kolektif. Makanan yang disediakan memang tidak terlalu nikmat dan mewah, tapi lumayan untuk mengisi perut yang setengah hari menahan lapar. Ada daging ala Mesir, ayam ala Mesir, dan ikan tepung goreng ala Mesir untuk makanan. Sedangkan untuk minuman ada susu berisi kurma yang sudah dipotong-potong dan sirup. Ya, semua ala Mesir, itulah yang membuat jenis makanan yang sebenarnya nikmat dan mewah ini jadi tidak terlalu mewah, karena semua dimasak dengan cara dan bumbu serta selera lidah orang Mesir yang biasa-biasa saja. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki cita rasa makanan yang sangat tinggi. Tapi namanya puasa, apapun jenis makanan yang ada semua terasa mewah dan nikmat.


Hari pertama puasa, aku menjadi chef untuk teman-teman ku satu flat. Alhamdulillah ikan goreng sambal lado khas Padang tersaji untuk disantap ketika sahur. Senangnya melihat teman ku melahap habis masakan ku. Oiya, khusus Ramadhan, di sini kami biasanya hanya memasak untuk sahur, sedangkan untuk ifthor atau berbuka kami memburu bukaan di mesjid-mesjid terdekat atau di pinggir-pinggir jalan berbaur dengan rakyat Mesir yang mayoritas ekonominya ke bawah. Aku dan kawan ku pergi berbuka di daerah Darassa dekat Universitas al-Azhar. Di daerah sini lumayan ramai dan banyak Maidah ar-Rahman nya. Berbuka bersama rakyat Mesir sambil cerita-cerita di pinggir jalan memberikan kesan tersendiri bagi ku.


Ngomong-ngomong, adakah orang kaya Indonesia yang berani membuka Maidah ar-Rahman seperti ini sepanjang ramadhan untuk ratusan orang yang berpuasa? Betapa besarnya pahala bagi orang yang menyediakan makanan berbuka. Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang memberi bukaan kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala yang berpuasa itu, dimana orang yang berpuasa itu tidak kurang pahala puasanya sedikitpun. (Hadits Riwayat at-Tirmidzi).


Menu berbuka ku di Maidah ar-Rahman  adalah nasi dengan mie hun kecil-kecil ala Mesir dengan lauk daging ala Mesir plus roti ‘isy dan minuman susu berisi kurma. Selesai berbuka, aku dengan teman ku menuju mesjid al-Azhar untuk menunaikan shalat Maghrib sekaligus shalat Isya dan Tarawih. To be continue…

Sabtu, 30 Juli 2011

Bodoh Pun Ada Hikmahnya



Kehidupan penuh dengan misteri dan teka-teki, penuh dengan warna. Allah yang menciptakan kehidupan ini tentu tahu apa yang terbaik bagi yang diciptakan Nya. Allah ciptakan siang dan malam, Allah ciptakan warna hitam dan putih, Allah ciptakan langit dan bumi, Allah ciptakan manusia, Jin dan binatang, air dan api,dingin dan panas, baik dan buruk, kaya dan miskin hingga pintar dan bodoh. Adalah benar semua manusia lahir dalam keadaan sama, sama dalam banyak hal, sama-sama tidak tahu apa-apa. Tapi takdir seseorang itu sudah tertulis di sisi Nya, akan ada yang Ia lebihkan akan ada juga yang Ia beri kekurangan. Dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman : “Para Rosul itu ada yang kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain (al-Baqarah {2} 253) ”, bahkan Allah juga melebihkan umat Yahudi atau bani Israil dengan umat yang lain, “…dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (al-Baqarah {2} 47 & 122 ).


Apa yang telah Allah Sang Maha Sutradara katakan dalam al-Qur’an pasti benar, adil dan ada hikmah di balik nya. Bisa jadi Allah melebihkan seseorang untuk lebih memuliakannya, bisa jadi Allah melebihkan seseorang justru untuk menghinakan dan merendahkannya. Contoh Allah semakin memuliakan adalah para Rosul, dan contoh Allah menyesatkan adalah Bani Israil. Lihatlah Bani Israil dengan kelebihannya mereka malah terjerat dalam kesombongan dan ingkar terhadap Allah, hingga kini keturunan mereka pun tidak pernah berhenti membuat kerusakan dan perpecahan di dinia.


Karena itu jangan merasa diri ini kurang karena otak tidak cerdas seperti orang lain padahal kita sudah mengeluarkan seluruh kemampuan dan usaha, kita harus yakin bahwa ada hikmah dibalik itu semua, mungkin seandainya otak kita cerdas, malah kita akan sombong dan angkuh, atau digunakan untuk yang membahayakan orang lain, bahkan sampai ingkar dan tidak beriman pada Allah seperti keturunan Bani Israil.  So, syukuri apa yang ada, dan tetap usaha. Karena di balik kekurangan pasti ada kelebihan.

Senin, 25 Juli 2011

Oase Siwa, Kesejukan Tiada Tara di Tengah Gurun Sahara




Summer holiday selepas ujian adalah hal yang paling di tunggu-tunggu mahasiswa Indonesia di Cairo, Mesir. Sebulan penuh berkutat dengan muqoror (buku pelajaran), tidak siang tidak malam mata dan kepala harus bekerja seirama memahami sekaligus memotret tulisan para Duktur (baca: Dosen) ke memori otak demi kenajahan studi. Ya, kami mahasiswa Universitas al-Azhar tidak hanya dituntut memahami, tapi juga menghafal berjilid-jilid buku yang sangat melelahkan juga membosankan. Maka jangan heran jika banyak mahasiswa Azhar yang sering tinggal kelas atau baru tamat strata 1 selama 6 sampai 9 tahun. Sampai-sampai kerosiban(tidak naik tingkat) bukanlah hal yang tabu di kampus Azhar.

Alhamdulillah sebulan ujian Azhar yang melelahkan dan membosankan telah berlalu, otak ku kini telah merdeka, kini saatnya liburan musim panas menjelajah samudra wisata alam Mesir melepas urat-urat syaraf yang menegang, otot-otot mata yang mengeras. Banyaknya objek wisata di bumi para Nabi ini sedikit membuat ku bingung, ada banyak organisasi atau travel tour yang menawarkan tour ke berbagai tempat wisata menarik di Mesir. Mulai dari Fayoum, Qanatir, Port Said, Matruh, Siwa, hingga ke Hurgada dan Luxor dekat laut merah dan bendungan Aswan sana. Akhirnya dengan segala pertimbangan aku mantapkan diri untuk memilih Siwa yang tidak terlalu mahal, juga tidak terlalu murah.

Angin malam khas musim panas memang berbeda, hangat-hangat kuku, emangnya air! Hehe… Dari rumah telah aku sediakan berbagai perlengkapan wisata yang akan menghabiskan waktu 3 hari 2 malam ke dalam tas Eiger kesayangan ku. Aku berangkat tengah malam, sebelumnya aku pamit dengan teman serumah yang tidak bisa rihlah atau tamasya bersama ku, karena mereka sudah mendaftar di objek wisata yang berbeda dengan ku, temanku bilang ngapain ke tengah gurun sahara musim panas begini akhi? Entar gosong kulit ente! Teman ku yang lain yang sedang sibuk belajar bahasa perancis hanya mengucapkan padaku BUONE VACANZE, selamat liburan.

Aku dan beberapa teman yang sama-sama mengambil objek Siwa sudah berkumpul di tempat travel tour. Bus yang akan menampung 48 makhluk pun sudah terparkir rapi di sudut jalan begitu juga hasto atau sopir travel yang sudah nagkring di singgasananya dengan kaca mata hitam besarnya. Warna merah jam digital ku sudah menunjukkan angka 01.00 malam (18/07/2011), semua sudah di dalam bus berhawa dingin ini, aku juga sudah berada di sudut bus paling belakang. Aku sengaja mengambil kursi belakang agar selamat dari pemeriksaan polisi Mesir yang biasanya memeriksa paspor di tengah perjalanan. Visa ku sudah habis 2 minggu lalu dan malas sekali rasanya mengurus perpanjangan visa ba’da imtihan atau ujian, nanti sajalah.

Bus orange ini terus melaju dengan kecepatan 90 sampai 99 km/jam. Aku bertanya mengapa tidak lebih laju saja, padahal bus ini bisa mencapai 250 km/ jam. “Di Mesir, walau pun lalu lintas di Kairo amburadul, tidak punya lampu-lalu lintas, tapi jika sudah ke luar kairo lalu-lintas sudah memiliki alat yang canggih yang dapat memotret otomatis kendaraan yang melaju di atas 100 km/jam. Dan siap-siap saja bus mendapat denda yang tergantung selera petugas penjaga,” celetuk Amri yang duduk tepat di depan ku.  Wah, diam-diam Mesir keren juga.

Kota Alexandria dan Matruh yang terkenal dengan keindahan pantainya telah ku kulewati, berarti saatnya menuju Siwa di gurun Sahara. Dari dalam bus ku lihat pemandangan kanan-kiri, semua hanya berisikan pasir, gersang dan terlihat panas yang begitu membara. Aku terbayang bagaimana para ulama dahulu harus safar ke berbagai Negara melewati padang pasir yang mematikan ini demi ilmu. Aku merasa berdosa jika kerjaaan ku hanya main dan jalan-jalan, belajar hanya ketika ujian. Aku berjanji insya Allah akan rajin belajar sepulang dari Siwa.

Akhirnya kami sudah memasuki kawasan Siwa, kami juga kedatangan tamu baru di bus kami. Namanya Youssef, ia adalah guide kami di sini. Aku heran kenapa harus pakai guide segala, insya Allah dengan bahasa arab kami yang lumayan baik sudah bisa bertanya sana-sini dan mengobrol dengan penduduk setempat. Tapi setelah mendengar penjelasan si Youssef aku baru tahu, kalau bahasa arab di sini sangat berbeda dan sulit dipahami bagi kami orang asing bahkan bagi orang Arab sendiri. Ternyata masih ada bahasa kumur-kumur setelah amiyah (bahasa arab gaul,kampong atau jalanan).
Di tepi jalan aku sudah bisa melihat satu-satu rumah penduduk Siwa dengan arsitektur kuno. Selain itu juga ada beberapa pohon kurma yang lebat dengan buahnya. Siwa selain terkenal dengan Oase sebagai tempat produksi air mineral juga terkanal dengan kurma nya yang sangat menggoda. Subhanallah, di balik kegersangan dan kekurangan yang ada, Allah menyediakan berbagai nikmat yang luar biasa dengan kurma dan oase di sini. Sungguh Allah Maha Adil.

Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah telaga, airnya biru, bening, di minum langsung pun tak apa. Aku ingin merasakan air telaga itu, kalau tidak mandi minimal memasukkan kaki yang sudah kehabisan udara berjam-jam dalam sepatu ku. Teman-teman ku yang jago berenang tanpa segan langsung menceburkan tubuhnya ke dalam air sejuk itu, bunyi kelepak-kelepak tangan dan kakinya seirama mondar-mandir dari ujung-ke ujung. Mereka berpacu saling berlomba siapa yang tiba pertama terlebih dahulu. Aku ingin sekali berenang, tapi apa boleh buat, aku tidak membawa baju ganti.

Setelah berenang, berfoto-foto di dekat telaga ini, kami sekarang akan mengunjungi Jabal Mauta/gunung mati. Gunung ini banyak memiliki lubang-lubang. Konon lubang itu adalah tempat mayat yang di hukum mati oleh raja Fir’aun dulu. Ih… serem… Setelah mencapai puncak jabal mauta yang panasnya menghabiskan 1 liter keringat ini, kami turun kembali. Dan rute selanjutnya adalah salah satu oase di Siwa, karena Siwa lebih kurang memiliki 200 oase yang tersebar di berbagai tempat.

Oase Siwa yang akan ku kunjungi adalah oase yang sering didatangi turis dan aman, karena oase-oase yang lain belum di sweeping, masih banyak binatang dan hewan buas berkeliaran di sana. Inilah kali pertama aku melihat, merasakan dan menikmati Oase di tengah gurun. Dari mana air ini ada? Padahal tidak pernah hujan turun di sini. Tentunya dengan proses alamiah jawab ku dalam hati.  Ternyata di tempat yang akan kami kunjungi banyak di kunjungi wisatawan baik local dan asing. Yang membuat tempat ini ramai adalah pasir Sahara ini, pasir Sahara yang panasnya minta ampun ini ternyata memiliki khasiat ajaib, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dalam tubuh, bisa juga menguruskan badan.

Caranya adalah dengan membenamkan diri masuk ke dalam pasir Sahara yang sudah diademkan walau masih terasa sengatan panasnya. Kira-kira sejam atau dua jam, baru keluar dari tumpukan halus itu. Aku ingin sekali mencoba, tapi waktu 2 jam yang diberikan pemandu tinggal tersisa 30 menit. Aku menyesal dari tadi hanya sibuk berfoto-foto dan menonton orang dalam pasir. Tak apalah, kapan-kapan ke sini lagi.
Cuaca sudah semakin gelap, matahari sudah mulai di tarik-tarik ke barat. Saatnya pulang ke penginapan. Tak lupa sebelum balik ke Kairo membeli oleh-oleh kurma Siwa yang berisikan coklat -The End-

Minggu, 24 Juli 2011

Kezaliman Pemerintah Mesir Berevolusi Menjadi Kezaliman Rakyat Mesir


Tulisan ini merupakan potret situasi dan kondisi Mesir dan sisi-sisi realita rakyat Mesir setelah sukses revolusi dengan lengsernya Mubarak. Sebenarnya turunnya Mubarak dari kursi presiden belumlah cukup untuk menyatakan bahwa revolusi Mesir 2011 sukses 100%. Dari satu sisi mungkin milyaran dollar uang Negara (baca:rakyat) akan kembali, begitu juga dengan masuknya tikus-tikus berdasi Mesir yang korupsi ke dalam bui serta munculnya kebebasan berpendapat. Namun di sisi lain, revolusi bisa menjadi senjata sangat berbahaya bahkan bisa menjadi boomerang bagi stabilitas keamanan dan politik Mesir. Karena control keamanan yang biasanya dilakukan oleh syurthah atau polisi sedang dalam titik nadir, rakyat Mesir sangat berpandangan negative kepada para polisi keamanan terlebih polisi keamanan khusus Negara (amn daulah), tidak ada ampun bagi rakyat untuk mereka karena kezaliman amn daulah yang telah menjadi trauma mendalam bagi rakyat Mesir, terlebih yang pernah merasakan siksaan tanpa sebab oleh amn daulah ini.


Saat ini keadaan Mesir bisa dikatakan dalam keadaan waspada, khususnya untuk warga asing yang sedang menetap di bumi para Nabi ini. Lengah sedikit bisa menjadi mangsa baltojiyah atau preman-preman Mesir yang kelaparan yang berhasil meloloskan diri dari penjara ketika revolusi. dalam seminggu jika dikalkulasikan ada tiga kejadian perampokan. Tingkat criminal Mesir sekarang cukup tajam, tak hanya itu, cara mereka merampok dan menodong pun juga meningkat. Para perampok ini sudah berani merampok sebuah rumah warga asing secara frontal, dilengkapi senjata api dan pedang panjang, membuat nyali tuan rumah menjadi ciut, diam dan pasrah seluruh barang berharga rumahnya dirampas demi tetap bisa menghirup udara dan menuntut ilmu di Mesir. Tidak itu saja, para kriminil juga kerap melakukan aksi kejahatannya di tempat yang bisa dikatakan cukup ramai, seperti di dekat warnet. Modus operandinya pun juga semakin hebat, mereka pura-pura akrab dengan kita, kemudian meletakkan lengannya ke lehar dan bahu, setelah itu dating teman-temannya dengan membawa senjata tajam. Dalam keadaan seperti ini rasanya sulit untuk berkelahi bahkan untuk lari sekali pun.


Namun ada yang sangat disayangkan dalam setiap perampokan oleh warga Mesir. Jika perampokan dilakukan orang hitam, orang Mesir mau membantu dan mengejar bahkan menghajar orang hitam. Tapi jika pelaku adalah orang Mesir, mereka hanya diam, bahkan walau si pelaku sudah tertangkap oleh korban dengan tangannya sendiri, orang Mesir lain justru membantu agar pelaku criminal bisa kabur. Selain itu ada juga perubahan besar dalam kehidupan rakyat Mesir. Ketika aku pulang dari les bahasa perancis di Dokki, di terminal ramses para pedagang kaki lima tidak malu-malu menjual video porno vulgar dan memajangnya di depan khalayak ramai tempat orang berlalu lalang, anehnya tidak ada stu pun orang Mesir yang berani menegur agar video tersebut dijual dengan sembunyi-sembunyi. Aku jadi takut, kalau cita-cita revolusi Mesir yang seharusnya memperbaiki kehidupan dan pemerintahan Mesir akan berubah menjadi memperburuk kehidupan dan pemerintahan Mesir.


Dan tentu saja keburukan itu akan berdampak kepada ku dan orang asing yang belajar di Al-Azhar. Para pemuda Mesir yang masih banyak sholat di Mesjid bisa jadi berkurang dan meramaikan café-café dan taman-taman untuk berpacaran. Pemudi Mesir yang cantik dan seksi-seksi yang biasanya memakai pakaian sopan berubah memakai pakaian merangsang dan jablai. Ya Allah… aku tak dapat membayangkannya,,, Kezaliman pemerintah yang sudah di tumpas melalui revolusi justru membuat kezaliman yang lebih dahsyat, kezaliman rakyat. Walau hanya segelintir yang melakukan hal tersebut dan masih banyak orang Mesir yang baik, tapi jika kemungkaran dibiarkan begitu saja, se-tahun atau beberapa tahun kemudian entah apa yang akan terjadi di Negeri Kiblat Ilmu Islam ini?

د. على جمعة مفتى الجمهورية يكتب: رسالة إلى أبناء الأزهر الشريف


٢٣/ ٦/ ٢٠١١

من المهام الأولى لعلماء الأزهر نقل هذا الدين لمن بعدنا بصورة صحيحة، وحتى يتأتى ذلك لابد أن نمتلك الأداة الضرورية اللازمة لفهم آليات التعامل مع «الموروث الإسلامى»، لنستطيع أن ننقله فى إطاره الصحيح الذى وصل إلينا من أسلافنا إلى من يخلفنا، مع ضرورة حفظ التمييز بين الأصلين المنزَّهين (الكتاب والسُّنة)، وسائر التراث الذى اجتهد فى إنتاجه المسلمون من علوم وفكر، وفقه وفتاوى، ورؤى وواقع تاريخى.
لاشك أن هناك فجوة مشهودة بين أجيال الباحثين المعاصرين وهذا الموروث الثمين، فكثيراً ما نقرأ القرآن أو السُّنة أو علوم التراث الإسلامى ولا نفهم دلالات المقروء، فلا نستطيع الاستفادة منها، ومن ثم فإن أول مطلوب هو «الفهم»، فهو الخطوة الأولى لسائر الخطوات، فلا يمكننى نقد هذا الموروث أو تطبيقه دون فهم، وكثيراً ما يتساءل الباحثون عن آليات تطبيق هذا الموروث فى مجالاتهم العلمية والبحثية الحالية، وعن «الحلقة الواصلة» بين الموروث وهذه العلوم الحديثة، فى حين أن المطلوب أولاً - قبل التطبيق - هو «الفهم».
إن تحديد الهدف والخطوات وتمثُّل هذه الخطوات جيداً، هو أمر مطلوب جداً من أجل الوعى والاستفادة.. لكن تشوُّف الباحث إلى ما هو أمام، وتعجُّله قطف الثمار قبل النضج - وربما قبل الزرع والإنبات - هو ما يدفعه إلى نوع من القفز وعدم الاتزان، فأنا - كباحث أو كدارس اطَّلعت على العلوم الحديثة - أريد أن أستفيد مما رأيته أو استشعرته فى الموروث من منهجية ومضمون فى دراستى لهذه العلوم، وهذا - بعد تحقيق «الفهم» - يحتاج إلى عملية أكبر، وهى ما يمكن تسميتها بعملية «التجريد»، ثم تتلوها عملية ثالثة وهى «الاستنباط»، والمقصود بها استنباط المناهج والقواعد والأدوات التى يمكن بها أن نواصل المسيرة ونكمل البنيان، فليس المراد من الاطلاع على هذه العلوم والأفكار وما فيها من منهجيات أن نحاكيها، فتتوقف مسيرة العلم، ونذهب فى رحلة موات، بل أن نستخلص منها ما نحتاج إليه.
إن الموروث - بجملته - عبارة عن مكوّنين: نتاج فكرى، وواقع تاريخى. النتاج الفكرى له «محلٌ» عَمِل الفكر فيه، وهو القرآن والسُّنة مصدرا المعرفة الأساسيان عند المسلمين باعتبارهما وحياً. والنتاج الفكرى له «ثمرة»، وهى ما يخرجه البشر بتفاعلهم مع هذا المحل من رؤى وأفكار وعلوم ومناهج وأحكام وممارسات. إن محور الحضارة الإسلامية الذى بنيت عليه هو (النص): الكتاب والسُّنَّة، فما معنى المحور؟ معنى المحور أن كل العلوم خادمة له، وقد أنشئت لتخدمه، وهو المعيار للتقويم، والإطار المرجعىّ.
قرأ المسلمُ النصَّ، فلما استعصى عليه أمرٌ ما فيه راح يبحث عن وسائل فهمه، فصار هناك المُعجم وظهرت التراكيب والنحو والصرف.. تساءل: هل هذا الكلام معتاد أم معجز؟ ما الذى جعله متميزاً؟ فظهر علم البلاغة.. تساءل: إذا كنت قد فهمت دلالات اللفظ (المفردات والتراكيب)، فماذا عن الدليل والمدلول؟ وبالمثل ظهر علم النقل والتوثيق، وهو علم لم يخرج مثله فى الأمم، وذلك لخدمة الوثوق فى النص، وتوالت التصنيفات بين علوم ذاتية كالتفسير والحديث، وعلوم مضمونية كالتوحيد والفقه، وتقسيمات أخرى هى من نتاج تعامل العقل المسلم مع النص.
فالفقه - مثلاً - من القرآن إجمالاً، والقليل منه هو من القرآن مباشرةً، فهناك نحو مليون ومائتى ألف مسألة فقهية، بينما الآيات أقل من ذلك بكثير من حيث العدد والحجم، إلا أن القرآن العظيم منه الانطلاق، وإليه العودة، وبه التقويم، وله الخدمة، فى علم الفقه وغيره من العلوم التى ورثناها.
الشق الثانى للموروث - الذى يقابل النتاج الفكرى - هو الواقع، وهو يتكون من خمسة عوالم: عالم الأشياء، وعالم الأشخاص، وعالم الرموز، وعالم الأفكار، وعالم الأحداث.. فما معنى أن النص الذى هو محور الحضارة له دور فى التعامل مع عوالم الواقع؟ إن ذلك يعنى أننى عندما أتعامل مع الواقع أضع على عينى نظارة النص.
إذن الموروث إما مصادر أصلية وإما نتاجاً بشرياً، والواقع هو العوالم الخمسة، وما نريده فى البداية هو الفهم - الفهم الصحيح - وليس النقد أو التجريد أو التطبيق، وعلى ذكر «الفهم الصحيح»، فمع الدعوة للتأمل وتحريك الذهن فى مختلف المسائل، ننبه إلى أن هناك سقفاً للفهم الصحيح ينبغى ألا يتم تجاوزه، وهو يشتمل على خمسة حدود لابد من معرفتها والالتزام بها فى مطالعة التراث:
١- اللغة العربية، التى هى وعاء المنطق العربى المتصل بالفطرة الإسلامية.
٢- الإجماع، الذى ينبغى على الساعى إلى الفهم ألا يـخـرقه أو يتجاهله.
٣- المقاصد الكلية للشريعة، من حفظ الدين والنفس والعِرض أو النسل والعقل والمال.
٤- النموذج المعرفى، وهو ما نسميه العقيدة أو الرؤية الكلية.
٥- القواعد الفقهية أو المبادئ العامة للشريعة، من قبيل: لا ضرر ولا ضرار، لا تزر وازرة وزر أخرى... إلخ.
لابد من ذلك كله حتى نخرج عقليات من أمثال ابن مقلة وابن الهيثم والبيرونى وابن خلدون وابن رشد وغيرهم، ونؤكد أن أهم ما يعنينا استخلاصه فى هذا التراث هو «المناهج» وطرائق التفكير: كيف كانوا يُعملون عقولهم فى واقعهم؟ ولا يهمنا بالضرورة «الموضوعات» أو الجزئيات التفصيلية التى كانوا يفكرون فيها. سأجد أننى أبحث فى المصادر، وطرق البحث وأدواته، وآليات الاحتجاج والاستدلال، وفى شروط الباحث.. تلك الأمور التى أخذها روجر بيكون وجعلها أصولاً للمنهج العلمى الحديث، وهى لا تتجاوز تعريفات الرازى والبيضاوى لعلم أصول الفقه.
إن من يطالع هذا التراث الكنز -اليوم- سوف يُفاجأ بمنهج ضخم وأسئلة جوهرية ربما لا إجابة عنها إلا فى هذا التراث نفسه، مطالعة هذا التراث هى أصل المنهج الأزهرى القويم الذى يجب أن يكون الإطار العام لكل من أراد أن يسلك طريق العلم والتفقُّه.