Minggu, 07 April 2013

Banyaknya Orang Dungu, Salah Satu Tanda Akhir Zaman



Hati-hatilah dengan perkataan orang dungu, orang safih yang , manis terlihat tapi pahit dirasa, indah jika didengar/dipahami dengan pemikiran singkat, tapi busuk jika dicerna dengan pemikiran matang dan mendalam.
Hati-hatilah dengan perkataan orang-orang dungu dan safih tersebut, karena perkataan itu sangat mudah anda temui di mana pun, di situs jejaring sosial atau di mimbar-mimbar mesjid sekitar anda, atau di rak-rak buku pribadi dan pustaka anda, atau dari teman dekat anda dan guru anda sekalipun. Mereka adalah "HUDATSA ASNAN, SUFAHA AHLAM" sebagaimana yg tercantum dalam hadits Nabi Saw, ketika menceritakan tanda-tanda hari akhir bahwa akan datang anak-anak muda(isi kepala kosong/mafisy mukh) orang-orang idiot yang berbicara agama dan mengatasnamakan agama padahal hakikatnya jauh dari agama.
Fungsikan hati dan akal anda, jangan cuma salah satunya. Belajar dan pahami secara paripurna baru komentar.

Rasulullah SAW bersabda: “Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya (cetek faham agamanya). Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah SWT dan hadis Rasul SAW), tetapi iman mereka masih lemah. Pada hakikatnya mereka telah keluar agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di mana sahaja kamu dapat menemuinya, maka hapuskanlah mereka itu, siapa yang dapat menghapus mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. “;-(Riwayat Bukhari dan Muslim)

#ringkasan ceramah Syekh Prof. Dr. Ali jum'ah (mantan mufti Mesir). 
#Kalau saya perhatikan, inilah mengapa Syekh Ali jum'ah sangat keras menghadapi orang2 yg seperti dalam hadis Rasulullah SAW di atas, karena bahayanya dampak yang ditimbulkan pada agama dan umat.

Sebelumnya saya pernah berbicara hati-hati dengan perkataan orang dungu! Nah, saya akan berikan contoh konkretnya agar jelas&terang seperti terangnya matahari.
"Biasanya orang dungu akan berkata: banyak orang mengkritik dan mencaci kita sampai bilang kita bodoh, pendapat kita gila. Tetaplah pada keyakinan kita jangan dengarkan kritikan orang lain, semakin banyak yang mengkritik & menyalahkan kita itu menandakan kita dalam kebenaran dan di jalan haq, orang lain hanya iri & dengki. Mereka orang2 dungu ini juga biasanya menyama2kan dengan Nabi saw,: lihatlah Nabi saw yang berada dlm kebenaran ketika menyampaikan Islam banyak yang menyerang & mengkritik beliau, mengatakan beliau gila, tukang sihir dll, tapi itu tidak menyurutkan beliau berdakwah justru dakwah semakin sukses, Islam semakin besar.

Perhatikanlah, perkataan orang-orang dungu ini memang indah dan manis jika dibaca sekilas, tanpa ilmu dan analisa ilmiah yg dalam. 

Nah, Kalau menggunakan perkataan orang-orang dungu ini sebagai standar kebenaran/di jalan haq, dan untuk berdalih bahwa kita itu benar, maka orang yahudi itu pasti juga berada di jalan benar/haq. Dari dulu orang yahudi dikucilkan, ditindas, diserang, dikritik oleh umat lain, bahkan hampir dibumihanguskan oleh tentara Nazi, tidak punya tanah untuk hidup dll, tapi sekarang orang yahudi justru menjadi bangsa besar dan sukses merajai ekonomi dan teknologi dunia. 
Atau ketika pemahaman orang-orang syiah dikritik dan diserang oleh ulama2 sunni menandakan pemahaman orang syiah benar, atau ketika filsafat yunani dikritik oleh ulama2 Islam berarti filsafat yunani itu mutlak benar semua. Atau ketika si lia eden yang ngaku Nabi, kemudian seluruh ulama Indonesi menyatakan dan menyerang bahwa lia eden sesat, itu menandakan lia eden berada di jalan kebenaran.!?

Lihatlah! Perhatikanlah kekacauan logika orang-orang berpendapat seperti ini! Inilah contoh dan bukti kedunguan, keidiotan mereka. Karena itu saya berani mengatakan orang yang punya pandangan seperti ini ciri2 orang tersebut dungu.
Karena itu hatilah dengan perkataan/retorika orang dungu ini. Jangan gampang ketipu. Ingat! Tong kosong nyaring bunyinya. 

Kebenaran itu ada standar dan punya ukuran ilmiah. 
1+1 = 2. Lantas, apakah ketika kita mengatakan 1+1= 3, kemudian orang mengatakan kita bodoh dan idiot itu menandakan kita benar? Kalau seperti itu, silahkan lanjutkan kedunguan dan keidiotan anda. :-D

#ya Allah, jauhkan kami dari orang-orang juhala, sufaha. Jangan jadikan kami di antara orang2 seperti itu. Jadikan kami orang2 yg berilmu dan bersama2 orang yang berilmu.

. Tidak ada ulama/fuqaha/ilmuwan menjadikan standar kebenaran hanya karena ada yang mengkritik dan menyalahkan, kalau banyak yang mengkritik kita berarti kita benar, tanpa menjawab kritikan tsb dan berburuk sangka bahwa orang lain hanya iri&dengki. Cara berfikir seperti apa dan siapa yang cara pandangnya seperti itu menurut bg? Belum pernah alam dengar ahlu ilmi memiliki cara pandang menilai benar dan salah seperti itu kecuali para juhala&sufaha.

Bg pasti pernah belajar dan masih belajar fiqih dan ushul fiqih nashi. Dalam fikih syafi'i sbgai contoh, ulama-ulama mazhab (orang2 berilmu) demi mencari kebenaran & qaul yang kuat mereka saling mengeluarkan hujjahnya, mengerahkan seluruh dalilnya hingga sampai hasil akhir ada qaul ashah dan muqabil ashah, ada qaul azhar dan zhahir, ada qaul shahih dan fasid/dhaif, atau dalam mazhab maliki ada masyhur dan ghair masyhur/gharib. hasil akhir ini untuk mendapatkan mana yang haq atau aqrab ilal haq diselesaikan dgn cara dan manhaj ilmiah, dgn hujjah ilmiah.

Dalam ushul fikih, para ulama ushuliyin jika terjadi perselisihan dan mengkritik pendapat lain demi mencari pendapat yg kuat yg benar, yg salim, mereka melalui perdebatan, rad-rad yg panjang hingga sampai hasil akhir muncul qaul mu'tabar dan ghairu mu'tabar, qaul yg dipakai dan qaul yang ditinggalkan, qaul yg benar dan salah, qaul tsawab qaul syadz, qaul haq dan qaul batik, semua dikupas dgn saling mendatangkan hujjah masing2, dgn cara dan manhaj ilmiah. 
Kalau dikritik, ya dijawab dgn ilmiah, bukankah seperti itu manhaj ulama kita?

Yang jadi masalah, ketika dikritik tapi gak jawab apa2, terus menjadikan kritikan dan serangan orang lain tersebv sebagai bukti dia dan pendapatnya itu yang benar dan haq, sampai2 berburuk sangka bahwa orang yg mengkritik dan menyalahkan nya hanya iri dan dengki.
Kan gak lucu dan gak cool kalau seperti itu.
Contoh: si Z bilang uang kertas haram, ta'amul dgn uang kertas haram, wajib pakai dinar-dirham dgn hujjah pas-pasan atau hanya hasil terka2. Terus dikritik/di-rad dan dinyatakan oleh si B&C bahwa pendapat si A salah dengan hujjah ilmiah, tapi si A diam, tidak mau menjelaskan apa2, dan anehnya tanpa menjawab rad B&C, si A lagi2 dgn terkaannya bahwa ia lah yang benar hanya dgn alasan/hujjah karena ada yg mengkritik dan menyalahkannya.!? 

Tentu saja, hadza la ya'ti illa min kalamil jahil!
Dan kalau seperti itu cara mencari, melihat dan menimbang kebenaran, berarti ia termasuk orang2 dungu/safih/jahil. 
Dan akan berdampak bahaya sekali jika cara pandang seperti itu dijadikan hujjah untuk menilai kebenaran. Contoh: jika si A mengeluarkan statement zina boleh dgn hujjahnya, kemudian dikritik& disalahkan oleh banyak orang B,C&D dgn hujjah yg ilmiah. Lantas si A diam dan kokoh dgn pendapatnya dan menganggap bahwa adanya kritikan dari B,C&D itu menandakan si A berada dalam kebenaran, karena banyak yg iri dan dengki atau si B,C&D itu hanya iri&dengki kpdnya, tanpa si A mempertanggung jawabkan pendapatnya dan menjawab kritikan yg ada, menutup kesalahannya karena gengsi, malu atau sudah tertutup akal&hatinya karena doktrin ntah dari siapa.

Sekali lagi, jika cara pandang dan cara berdalil/berhujjah seperti itu yg dipakai, maka akan banyak orang-orang dungu yang belum tau apa2, tidak punya ilmu, belum tau masalah, belum mengkaji scra ilmiah&mendalam, atau belum pernah belajar tentang suatu masalah tsb, mereka orang2 dungu itu akan seenaknya berkata macam-macam tentang agama, melakukan hal macam2 tentang agama tanpa didasari ilmu, terus ketika dikritik dan ada yg mengatakan apa yang dikatakan&dilakukannya salah dia malah berasumsi bahwa dia ada di jalan kebenaran. Sungguh, bagi alam orang seperti itu adalah orang yg dungu yg sangat berbahaya, karena orang dungu tidak akan sadar bahwa dia dungu, berbeda orang berilmu dia pasti sadar kalau dia dulu pernah bodoh.

Inti dari status alam. Kalau kita memberikan pendapat, melakukan sesuatu, kemudian ada yang mengkritik, maka harus dipertanggung jawabkan, dijelaskan, dicari mana yang benar dgn cara ilmiah, dicari titik temu kalau ketemu, atau kalau tidak bertemu maka saling berlapang dada bahwa itu masalah khilaf. Itu baru cara orang berpendidikan mencari kebenaran, menyelesaikan masalah dan juga enak dipandang. Bukan mendasari kebenaran hanya karena ada yang mengkritik, kalau ada yang mengkritik itu menandakan yg dikritik benar dan yang mengkritik itu cuma iri dengki. Tentu, Ini sangat tidak ilmiah sekali, sangat tidak masuk akal dan dungu sekali. 
wallahu a'lam.

Kamis, 07 Maret 2013

Awas, jangan sampai sifat yahudi ada sama anda, atau kelompok anda!



Kata yahudi dalam al-Qur'an sering disebutkan dengan kata alladzina haadu (الذين هادوا), kata "haadu" mirip dengan "hada/هدي" yang berarti memberi petunjuk.
Ada kaitan antara bahasa dan perangai yahudi, sebagaimana yang kita ketahui, orang yahudi menganggap diri mereka satu-satunya umat yang terbaik, mulia dan pilihan Tuhan, maka ketika ada seorang Nabi dan Rasul bukan dari kalangannya, mereka memusuhi, membenci bahkan sampai membunuh para Nabi yang mulia. Perangai seperti ini sangat dibenci Allah, dan karena perangai seperti inilah mereka akhirnya tersesat dan mendapat laknat.
Dikarenakan mereka menganggap dirinya dan keturunannya lah satu-satunya yang dapat hidayah/petunjuk, hanya kalangan merekalah yang benar di sisi Allah, mereka(yang merupakan keturunan nabi Ishaq, saudara Nabi Ismail) bahkan mengingkari, memusuhi saudaranya sendiri yang dari keturunan nabi Ismail. Puncaknya ketika mereka tahu nabi terakhir adalah dari garis keturunan nabi Ismail yaitu Muhammad saw.
Di antara perangai yahudi yang sangat hati-hati terhadap keturunan, ia tidak menganggap anak yang lahir bukan dari rahim ibu yahudi sebagai bagian dari kelompoknya/keturunannya walaupun bapaknya yahudi, ini karena rasa kesombongan pada diri dan kelompok/golongan mereka.
Kisah yahudi ini sebenarnya mirip dengan kisah iblis, iblis dulunya adalah makhluk yang taat/shaleh, tinggal di syurga. Tapi ketika diciptakan makhluk lain yaitu nabi Adam, mulai muncul kesombongan karena ia merasa dirinya adalah makhluk/ciptaan yang lebih baik dari nabi Adam, sehingga menolak sujud/memberi penghormatan pada Adam.

Status orang yahudi/keturunan nabi ishaq dengan keturunan Ismail itu sama-sama keturunan Nabi Ibrahim, maka kesombongan dan merasa paling benar, terbaik, dll membuat orang yahudi tersesat dan mendapat laknat. Begitu juga, status iblis dan adam itu sama-sama ciptaan Allah, maka ketika iblis merasa paling baik, ia ingkar pada Allah, tersesat dan terlaknat.

Ketika perang hunain, kaum muslimin ketika itu bangga dengan banyaknya jumlah, ada sedikit rasa sombong karena berada dalam jalan haq, benar dan pasti akan menang, maka Allah menegurnya dgn diturunkan wahyu ketika itu, agar jangan sampai mempunyai perangai seperti yahudi.

Maka hati-hatilah, selama status kita sama-sama muslim, masih mengakui Allah sebagai Tuhan, jangan sampai diri anda merasa benar dari saudara anda sampai anda memusuhi, menghina, mengkafirkan, apalagi membunuh dengan cara yang tidak haq. Karena jika begitu, apa bedanya anda dengan yahudi? Jangan sampai anda seperti maling teriak maling! Berkoar-koar yahudi laknat, ayo jihad perangi yahudi/zionis, tapi perangai anda 11-12 dengan mereka. Na'udzubillah min dzalik. Insaf...insaf..!!

Minggu, 24 Februari 2013

Al-Azhar, Moderat dan Islam


Akhirnya, ku temukan jawaban mengapa Al-Azhar dan para ulama Azhar menggunakan manhaj wasathiyah, selalu menyerukan Islam yang moderat/wasatan, menghadapi penyimpangan2 oleh kelompok2 lain dengan cara moderat, menyelesaikan persoalan dan gejolak umat degan moderat. Dan juga hingga kini menjadi sumber referensi Islam yg orisinil.

1. Coba lihat surat al-Baqarah ayat 108, kata "sawa a sabil" dalam tafsir jalalain diartikan "thariqul haq" yang asalnya adalah "al-wast". Berarti al-wast adalah thariqul haq/jalan kebenaran.

2. Lihat surat al-Baqarah ayat 142-143. Allah mensifati orang yahudi dan musyrikin yang tidak berada di jalan haq dengan kata "sufaha"/bodoh yang hampir mencapai gila/hilang akal. Dengan begitu, orang-orang sufaha/bodoh itu juga jauh dari jalan haq, karena itu mengapa jumhur ulama mewajibkan orang awam dan orang bodoh untuk taqlid pada imam mazhab atau pada orang yang faqih dan alim. Karena orang bodoh atau awam yg tabi' /mengikut dan taqlid pada imam mazhab, orang faqih dan alim, yuhkamu fi hukmihim/dihukumi seperti mereka(para imam mazhab&orang faqih), dengan begitu setidaknya penyimpangan umat Muhammad Saw jadi berkurang.
Kemudian, Allah menjadikan dan mensifati umat Muhammad Saw yang telah mendapat hidayah Islam sebagai umat yang "wasatan", yaitu umat pilihan/terbaik/penuh keadilan dan rahmat.

3. Banyak ayat Alquran dan juga hadis Rasulullah Saw yang mengatakan Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dan melarang sikap berlebihan. Karena orang yang bersikap berlebihan identik dengan kebodohan tidak mau berfikir dengan matang dan ceroboh sehingga banyak salah. Karena itu, Islam melarang anak kecil mentasarufkan hartanya (pada muamalah tertentu) kecuali atas izin atau ditemani walinya agar tidak berlebihan dan membuang2 hartanya untuk yang tidak bermanfaat dan tidak dibutuhkan.

Kesimpulan: Islam adalah agama yang wasatan/moderat . Karena moderat adalah jalan haq yg ditempuh oleh Rasulullah saw, para sahabat, tabi'in, dan ulama-ulama yang berilmu/faqih, Allah pun tidak menyukai yang berlebihan dan orang bodoh yang sombong(tidak mau bertanya pada yang faqih).
Catatan: jangan salah memahami atau menyamakan moderat yg disyiarkan oleh Azhar dan ulama Azhar dengan moderat yg digemborkan orang liberal, karena perbedaannya jauh bagai langit dan bumi.

#tadabbur pagi s.al-Baqarah.

Don't be Stupid Muslim


Untuk Mu Wahai Sahabat ku Yang Mau Menggunakan Akalnya:
بسم الله الحمان الرحيم
عن ابي هريرة قال: قال رسول الله: "من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين"
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan menjadikannya faqih pada agama(nya)”. 
Hadis di atas dapat dipahami dengan jelas, bahwa orang yang diberikan kebaikan oleh Allah Swt hanyalah orang-orang yang faqih dan alim pada agamanya. Jika Allah sudah menjamin orang faqih berada dalam kebaikan, insya Allah kebenaran ada pada dirinya. Orang fakih dan alim itu lebih utama dari seorang abid (ahli ibadah) tapi tak berilmu. Rasulullah menjelaskan tentang perbedaan antara orang berilmu dan ahli ibadah: “"فضل العالم علي العابد كفضلي علي أدناكم , keutamaan orang berilmu dibanding orang yang ahli ibadah seperti keutamaanku terhadap orang yang terendah diantara kamu” . Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: “sungguh satu orang alim, lebih ditakuti dari pada seribu ahli ibadah”.
Mengapa bisa demikian jauh perbedaan derajatnya? Karena orang-orang berilmulah yang mengetahui hakikat agama Islam, sekali pun amalnya kurang (maksudnya amalan sunahnya kurang tapi yang wajib tidak pernah tinggal). Karena merekalah yang menjaga agama ini dari penyimpangan dan kesalahan, menjaga dan mengajari orang-orang bodoh yang tak mau belajar,tidak mau menggunakan akal dan hatinya agar tidak serampangan mengamalkan ajaran agama Islam dan mendakwa sesuatu atas nama Islam padahal sebenarnya mereka jauh dari hakikat ajaran Islam yang mudah,hanif dan rahmat.  Dalam kitab al-Muwafaqat karya Imam Syatibi disebutkan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah berkata: “Wahai Ibnu Mas’ud, tahukah kamu siapa manusia yang paling berilmu/paling mengetahui(kebenaran)? Ibnu mas’ud menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah kemudian melanjutkan: “manusia yang paling berilmu/paling mengetahui adalah dia yang mampu melihat kebenaran jika terjadi ikhtilaf pada manusia sekalipun dia adalah orang yang kurang amalannya, sekalipun ia berjalan pelan menggunakan duburnya”.  
Dari hadis ini, Qatadah –seorang Tabi’in- berkata: "من لم يعرف الإختلاف لم يشم أنفه الفقه" / “Siapa yang tidak mengetahui perbedaan, hidungnya tak mampu menghirup baunya fikih”. Maksudnya adalah dia bodoh dan tak paham terhadap persoalan agama.
Hisyam bin Abdullah ar-Razi berkata: “من لم يعرف إختلاف القراءة فليس بقارئ, ومن لم يعرف إختلاف الفقهاء فليس بفقيه”/ “siapa yang tidak tau perbedaan dalam qiraat maka ia bukanlah qari’ (ahli qiraat), siapa yang tidak tau perbedaan antara fuqaha maka dia bukanlah seorang faqih”.
Imam Malik berkata: “لا تجوز الفتيا إلا لمن علم ما اختلف الناس فيه” / “tidak boleh berfatwa kecuali bagi orang yang mengetahui apa yang menjadi perbedaan di antara manusia”. Maksudnya adalah perbedaan para fuqaha/ahli fikih, bukan orang awam dan apa yang menjadi ikhtilaf dalam ayat-ayat hukmdan hadit-hadis hukum.
Dari hadis dan perkataan para ulama salaf di atas, dapat dipastikan seorang faqih atau alim adalah mereka yang mengetahui yang haq dan bisa memehami perbedaan manusia.  Dan kalau saya boleh berkata, orang yang tidak mengetahui perbedaan manusia, maka dia adalah bukan manusia, karena perbedaan adalah sunatullah, hanya orang safih yang tidak bisa menerima  dan memahami perbedaan, bahkan Rasulullah SAW bisa memahami akan perbedaan antara Muslim dan orang-orang Yahudi dan Nasrani sehingga membuat perjanjian dan kesepakatan dengan mereka yang dikenal dengan piagam madinah, Rasulullah juga memahami perbedaan di antara sahaba danmengajak parasahabat untuk bermusyawarah bersama, karena Islam bukanlah agama paksaan, Bahkan Rasulullah SAW pun sangat memahami bahwa beliau tidak bisa memberikan hidayah kepada seluruh makhluk sekalipun orang yang beliau cintai jika Allah tidak berkehendak.
Kebodohan dan fitnah itu sangat erat kaitannya, fitnah itu muncul tak lain hanya keluar akibat dari kebodohan orang-orang bodoh yang tidak mengenal perbedaan, mereka hanya memiliki semangat,mereka kadang merasa paling benar dan di jalan haq sehingga berani menggunakan ayat-ayat Qur’an yang suci dan hadis-hadis Nabi yang mulia dengan alasan mereka adalah yang paling benar dan hidayah Allah hanya pada diri mereka.
Ingatkah pada sebuah perang Hunain ketika kaum muslimin merasa pasti akan menang/congkak dalam perang karena banyaknya jumlah dan berada di jalan yang haq, tapi Allah menegur dalam al-Qur’an: “dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikitpun kepada mu, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai ”
Ibnu Sina berkata: “بلينا بقوم يظنوا أن الله لا يهدي سواهم”/ “Kami ditimpa bala/petaka disebabkan oleh suatu kelompok atau golongan yang mengira bahwa Allah hanya memberi petunjuk pada diri mereka”.
Perhatikanlah sejarah berikut ini:
قُتِل سيدنا عثمان بدعوى (تحقيق العدالة ومقاومة الظلم) !
قُتل سيدنا علي بدعوى (أنه لم يحكم بما أنزل الله وأنه فرّق صف المسلمين) !
قُتل سيدنا الحسين بدعوى (القضاء على الفتنة) !
قُتل سيدنا عبدالله بن الزبير وهُدمت الكعبة بدعوى (توحيد الكلمة) !
فاعتبروا يا أولي الألباب ..
رضي الله عن الصحابة أجمعين وعلى آل البيت السلام .
-Khalifah Utsman ra dibunuh dengan dakwaan sekelompok orang-orang tolol untuk mewujudkan keadilan dan melawan kezaliman.
-Khalifah Ali dibunuh dengan alasan mereka orang-orang yang bodoh bahwa Ali ra tidak berhukum dengan hukum Allah Swt, dan beliau telah keluar dari barisan kaum muslimin (padahal karena tidak ada di barisan mereka).
-Cucu Nabi, Husein ra dibunuh karena alasan orang-orang tak berakal untuk menghilangkan fitnah (padahal mereka lah yang sebenarnya sumber fitnah).
-Sahabat Nabi Abdullah bin Zubair dibunuh begitu juga ka’bah yang hampir dihancurkan karena dakwaan orang-orang safih untuk menyatukan kalimat dan barisan (padahal mereka sendiri yang mebuat-buat kelompok).
Maka ambillah I’tibar dari sini wahai engkau yang memiliki akal!
Berhati-hatilah memahami  Islam, al-Qur’an dan sunnah, berhati-hatilah dalam beragama, kalau kita bukan orang yang faqih lebih baik diam, dan bertanyalah pada orang yang faqih dan alim. Janganlah sembarangan mencomot ayat-ayat Qur’an yang suci untuk suatu yang tidak ada hubungannya atau tidak nyambung kaitannya dengan Islam. Pelajari agama dari para ulama yang memiliki sanad terpercaya, bukan dari orang-orang yang mengaku ulama, merasa ahli hadis, pakar al-Qur’an, ahli fikih yang guru-guru dan masyaikhnya tidak jelas apalagi dari google. Dekat-dekatlah dengan orang berilmu dan faqih.
Umar bin Khattab ra berkata: “لا يتجر في سوقنا إلا من فقه (و في اللفظ الأخر: إلا من تفقه في دينه”/ “Tidak boleh melakukan bisnis di pasar kami kecuali orang yang faqih (mengetahui hukum muamalat, halal dan haram serta dhawabit-dhawabit syariah).
Kalau kita tidak tau halal dan haram dalam muamalat, tidak tau fikih muamalah jangan coba-coba berbisnis kecuali memiliki penasehat yang faqih sebagai tempat bertanya, kalau belum tau politik Islam dengan benar jangan coba-coba berpolitik kecuali ada pakar syariat sebagai pengawas pergerakan politik anda, kalau punya massa, ajari syariat dulu,pahami terhadap Islam agar tidak menjadi orang bodoh yang Cuma punya semangat dan menjadi fitnah di kemudian hari. Wallahu a’lam.
اللهم فقهنافي الدين, اللهم جنبنا فنتن, اللهم اهدناصراطك الهستقيم

Senin, 24 Desember 2012

Apa Hukumnya Merayakan dan Mengucapkan Selamat Hari Ibu?



Islam memerintahkan kita berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua, memuliakannya dan mentaatinya selama itu baik.

Berbakti dan berbuat baik pada orang tua tidaklah mesti dengan satu cara, apalagi kalau diwajibkan harus seperti perbuatan Nabi SAW, sedangkan ayah Rasulullah telah tiada ketika beliau dilahirkan, dan ibu Rasulullah juga wafat ketika beliau masih kecil.

Kalau seperti itu, berarti memberi uang atau hadiah kepada kedua orang tua adalah haram dan bid'ah karena Nabi Saw tidak pernah memberi uang dan hadiah kepada kedua orang tua beliau. Secara logika sehat saja pendapat seperti itu sudah tertolak.

Dan salah satu cara berbakti dan berbuat baik pada kedua orang tua adalah memperingati hari nya, apakah hari ibu dan ayah seperti saat ini, atau hari kelahiran dan kematian ibu dan ayah. Karena dengan adanya peringatan hari seperti ini, banyak di antara kita yg selalu disibukkan oleh urusan pribadi baru teringat ibu dan ayah kita, baru mendoakan beliau, baru mengunjungi beliau atau bahkan baru bisa menelfon kedua orang tua kita.

Para ahli usul fikih sepakat, Apa yang tidak dikerjakan Nabi tidak berarti perbuatan itu haram dan bid'ah.
Kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Di samping itu, peringatan hari ibu hanya sebuah adat, dan selama adat tersebut baik dan tidak melakukan maksiat pada Allah maka hukumnya boleh.


Bagaimana jika hukumnya ditasyabbuhkan dengan orang non muslim?



Tasyabbuh bil kuffar?
Zaman nabi udah ada celana dalam seperti sekarang atau tidak?
Siapa yg pertama kali membuatnya dan memakainya? Orang non muslim.
Terus sampai sekarang banyak muslim mungkin ulama yg mengharamkan tasyabbuh secara mutlak juga memakai celana dalam n sama yg dipakai orang non muslim tsbt. Tapi apakah dengan begitu diharamkan dengan alasan tasyabbuh karena orang kafir yg pertama kali membuat n memakainya?
Ternyata tidak, karena ada manfaatnya, dan itu baik melindungi bagian kem*lu*n seseorang.
Begitu juga memperingati hari ibu, itu baik mengingatkan akan jasa ibu, menimbulkan rindu n cinta pada ibu.

Memperingati seseorang jika dikaji lebih dalam sebenarnya juga tuntunan Islam, mengapa ketika sholat kita diingatkan untuk sholawat kepada Nabi Ibrahim AS, bahkan mengingatnya setiap kali duduk tasyahud akhir ketika sholat.
Di antara hikmah kita diwajibkan sholat 5 waktu sehari juga untuk mengingat Allah SWT, tidak lupa dan mensyukuri atas segala nikmat yg diberikan Nya pada kita yg tiap hari kita selalu disibukkan urusan dunia dan godaan setan.

Intinya, selama itu bukan bermaksiat, itu bukan dianggap ibadah bagi urang non muslim(seperti hari natal) atau cuma sekedar adat/kebiasaan dan itu baik, maka hukumnya boleh.
Wallahu a'lam.



Happy mother's day. :-)
Semoga kedua orang kita selalu berada dalam nauang rahmat dan kasih sayang Nya.